’Politik ethis’ yang dilancarkan oleh Ratu Belanda tahun 1901, telah merangsang semangat golongan Pribumi (inlander) dan Timur Asing untuk mendirikan organisasi keagamaan, politik, kepemudaan dan Mahasiswa di Pulau Jawa khususnya. Sementara itu, implikasi ’politik ethis’ terhadap Acheh ialah, memberi jaminan terhadap eksistensi agama dan adat-istiadat. Oleh itu, para Ulama yang tidak terjun ke kancah peperangan bersenjata, melapor diri kepada militer Belanda bahwa, setibanya di kampung masing-masing akan merenovasi dan membangun Rangkang/Dayah kembali, sekalipun 'ditentukan syarat-syarat yang harus dipatuhi dan pengawasan yang ketat sekali. (Dada Meuraksa: 1990). Maka sejak tahun 1904, Rangkang-rangkang dan Dayah-dayah yang telah hancur semasa perang, dibangun semula disamping membangun dayah-dayah yang baru, seperti Dayah Kreungkalé, Tengku Syech Abdul Wahab membangun Dayah Tanoh Abè; Haji Abbas dan Haji Ja'far membangun Dayah Lambirah. Di Acheh Barat, keturunan Tengku Muhammad Yusuf membangun Dayah Rumpet; keturunan Tengku Thjik Muhammad Amin Tiro membangun Dayah Blang, Dayah Lampoh Raya, Dayah Tiro, Dayah Cot Pliëng dan Dayah Cot Jurong (Ali Hasjmy: 1997). Tengku Abdussalam membangun Dayah Lamnyong; Tengku Haji Umar membangun Dayah Lham U, Tengku Syech Marhaban membangun Dayah Lambhuk, sementara Ulama-ulama lainnya membangun Dayah Ulèë Susu, Dayah Indrapuri, Dayah Lam Seunong; Tengku Fakinah membangun Dayah Lamkrak (Dayah Lamdiran); Tengku Chik Eumpê Triëng membangun Dayah Rangkang Kanyang; Tengku Chik Ulèë U membangun Dayah Ulèë ü. Tengku Chik Rundéng membangun Dayah Rundêngo; Tengku Muhammad Arsyad membangun Dayah Ië Leubeue; Tengku Yusuf membangun Dayah Meunasah Raya dan di Teupin Raya dibangun pula Dayah Teupin Raya. (Ibid, Dada Meuraksa, 1990). Dibangun Madrasah Khairiyah oleh Tuanku Raja Keumala tahun 1915, setelah menyerah kepada Belanda pada tahun 1903.
Selain dari Ulama tadi,
terdapat juga petinggi negara yang telah menyerah, seperti Teuku Panglima Polim
Muhammad Daud dan Tuanku Raja Keumala, yang awalnya hendak meneruskan
perjuangan bersenjata melawan Belanda, tetapi dengan perhitungan tertentu pada
tahun 1903, memutar haluan kepada perjuangan politik, dengan alasan untuk
memimpin persatuan umat dan keteguhan semangat demi bergerak kembali
menghancurkan kolonial Belanda, jika saat yang tepat sudah tiba. (Dada Meuraksa: 1990). Untuk itu, mereka merekrut
sederetan Ulama, seperti Tengku Hasan Kruengkalé, Tgk. Syech
Ibrahim Lambhuk, Tgk. H. Abas Lambirah, Tgk. Ba Jafar Lamjabat, Tgk. Syech
Saman Siron, Tgk. H. Hasballah Indrapuri, Tgk. B. Abdullah Lam U, Tgk. Usman
Lampaloh, Tgk. Bintang Reukieh, Tgk. Syech
Mhd. Lam Lhom, Tengku Abdussalam Meuraksa, Tgk. Paki Lamkrak, Tengku
Teupin Kaya, Tgk. Abdul Jalil Awé Geutah, Tgk.
Muhammad Saleh Pulo Kiton, Tgk.
Daud Beureuéh, Tgk. Umar
Tiro dan disokong oleh para ulama besar di seluruh Acheh sebulat suara; walau pun pemerintah
Belanda tetap mengawal gerak langkah mereka, sambil mengawasi para jama’ah haji
dari Acheh ke Mekkah, karena khawatir akan menyebarkan idea Pan-islamisme dari Arab, yang berlawanan
dengan kepentingan politik kolonial Belanda di Acheh. (Ibid, Dada Meuraksa: 1990)
Sehubungan
dengan politik perang baru di Acheh, maka fungsi Dayah-dayah, selain sebagai
pusat pengajian Islam, juga digunakan sebagai markas untuk membina kader
pejuang kemerdekaan yang didasarkan kepada ajaran Islam untuk mendapat
keredhaan Allah menuju kebahagiaan dunia dan akherat. Dengan
perkataan lain, merubah formula politik pendidikan Islam berkarakter Acheh,
yang tujuannya untuk ikut serta berpartisipasi dalam pemerintahan kolonial
Belanda di Acheh.’ (Ibid,
Dada Meuraksa, 1990.) Untuk itu,
Dayah di Tiro, yang memakai ’model totalitas tradisional memakai pendekatan
rahmatan lil’alamin, berjiwa patriotik dalam melawan penjajahan maupun
mendukung gerakan-gerakan yang menentang terhadap pemerintah yang zalim,
menitik beratkan kepada transfer ilmu pengetahuan umum maupun agama dipakai
sebagai basis. Dayah ini tidak memiliki nilai tawar pihak mana pun. (Mukhlisuddin Ilyas: 2012). Sementara Dayah
Muda Wali di Acheh Selatan, dinilai lebih modern dan cenderung sekuler, karena
muatan sylabusnya bertumpu kepada pencapaian aspek intelektual, tanpa
mementingkan keadaan lingkungan masyarakat sekitar. (Ibid, Mukhlisuddin
Ilyas: 2012). Kedua-dua model Dayah Dayah Tradisional dan Dayah Modern,
ternyata bukan saja terperangkap kedalam jaring politik dan sistem pendidikan
kolonial, akan tetapi juga tidak mampu menjadi perisai mempertahankan diri
identitas pendidikan tradisional Acheh. Akibatnya, nasionalisme Acheh yang
mencakup: institusi ke-Sultanan, harga diri, identitas politik, ekonomi,
konstitusi (Meukuta Alam), mata uang,
bendera, sistem dan struktur pemerintahan, lambang, Stempel runtuh berkecai. Di
atas puing-puing reruntuhan inilah, kemudian berdiri tegak nasionalisme
Indonesia dan negara Indonesia. Disinilah rakyat Acheh mengibarkan bendera
Merah Putih pada tahun 1945. ’Habib Muda Seunagan memutuskan untuk mengibarkan
bendera (Merah Putih) di Seunagan…. siap
menanggung resiko apapun yang akan terjadi (Sehat Ihsan Shadiqin,
Mukhlisuddin Ilyas, Ardiansyah: 2015). Artinya, pada
phase ini, selain Acheh tidak lagi mempunyai pempimpin nasional, juga dianggap
sebagai ’phase terakhir keberadaan Dayah gerakan di Acheh pada abad ke-20,
sekaligus berakhirnya peran Dayah gerakan dalam dinamika pergolakan dan
perlawanan terhadap pemerintah kolonial. (Mukhlisuddin Ilyas: 2017)
Sebetulnya,
saat putera Acheh, seperti Teuku Njak Arif, Tengku Muhd. Daud Beureuéh, Tengku Abdul
Wahab Seulimum, Tengku Hasan Krueng Kalé, Dr. Mohammad Majoedin, Abdullah
Husén, Teuku Muhammad Ali Panglima Polém dan Teuku Ahmad Juenéb sudah tahu
pasti tentang keabsahan berita kemerdekaan RI, sungguh bijak sekiranya
putera-putera Acheh (Ulama, anggota kerabat Sultan Acheh, Ulèëbalang,
aktivis Dayah) bermusyawarah untuk membentuk sebuah komite ad-hok, sekaligus mengambil keputusan
bahwa penyerahan kuasa sivil dan militer dari junta militer Jepang, hanya
diserah kepada komite ini, bukan kepada pihak luar; karena perjuangan Acheh
menentang kolonialisme merupakan sebuah perjuangan untuk mempertahankan
kedaulatan negara dan bangsa Acheh; bukan sebuah perjuangan mendirikan negara
lain. Lagi pula ‚Acheh memiliki rumah masa lampau yang dianggap masih begitu dekat
dengan sejarahnya. (Prof. Dr. Salim Said, 2017). Artinya, Acheh mempunyai hak
legal (legal Status) untuk menentukan
nasib masa depannya. Namun, peluang yang berharga ini tidak dimanfaatkan
sebagaaimana mestinya. Jepang justeru menyerahkan jaminan keamanan di Acheh
kepada kuasa asing yang bermarkas di Singapura, sementara kuasa sivil Acheh
diserah kepada Teuku Muhammad Ali Panglima Polim (wakil pemerintah RI di Acheh)
atas perintah dari Teuku Njak Arief (Residen Acheh).
Tatkala situasi
Acheh seperti ini, para Ulama dan aktivis Dayah, yang sejak tahun 1911-an telah
mengkader pejuang bersenjata dan diplomatik, saatnya bersaksi di depan cermin
sejarah untuk mengambil alih kuasa dari Jepang. Namun Ulama & aktivis Dayah
ini penakut (tjeuek), disebabkan mengalami
krisis identitas, merasa rendah diri (inferiority
complex), kehilangan ruh melawan penjajah Belanda dan secara perlahan-lahan
nasionalisme Acheh pun tersungkur dan terkapar. Dipercayai,
antara faktor penyebab keterbelakangan berfikir Ulama dan aktivis Dayah dalam
konteks politik ke-Acheh-an priode (1942-1945), berpunca dari muatan sylabus
pendidikan Dayah yang hanya tertumpu kepada bidang munakahat, jenayah, waris,
muamalah saja; sebaiknya mengenyampingkan aspek siasah dan korelasinya dengan
pergolakan yang berlaku dalam peradaban Islam, seperti kajian tentang
faktor-faktor kejayaan dan keruntuhan kekahfihan Bani Umayyah (661-750), Bani
Abbasyiah (750-1517), kemunculan Bani Umayyah
jilid ke-dua (756-1031) yang kemudian juga runtuh;
kejayaan dan keruntuhan kekhalifahan Oesmaniyah Turki (1299-1924); yang
kemudian giliran kolonial Barat muncul sebagai kekuatan baru mengambil alih,
setelah mengalahkan kekuatan Islam melalui perang Salib yang dipicu oleh
sentimen keagamaan dan politik perluasan wilayah di kurun masa abad ke-11
sampai 13. Seiring dengannya; dunia Islam –terutama di Zazirah Arab, Afrika dan
Asia– jatuh berguguran satu demi satu. Pada hal, kader Dayah semestinya menjadi
kekuatan penggerak perubahan (agent of change) moral, kehidupan sosial
kemasyaratan dan juru bicara kebenaran agama dan politik. Tegasnya, sylabus
Dayah di Acheh (priode: 1911-an sampai 1945), tidak mengkaji tentang arti
pentingnya hubbul wathan (cintai
tanah air) Acheh dan faktor-faktor yang mengantar Acheh menjadi sebuah negara
masyhur pada abad ke16-18), yang kemudian dihimpit oleh dua kekuatan –kekuatan
asing dan dalam negeri Acheh sendiri– hingga tersungkur di separuh abad ke-20.
Dalam
rentang masa transisi, kekalutan politik, perasan jiwa tidak stabil dan tidak
percaya diri inilah, menjelma putera-putera Acheh opportunis, dengan gerak
cepat merebut peluang dan menyeret Acheh kedalam kancah politik baru Indonesia
yang sedang bergelut di Batavia. Terbukti bahwa, permainan politik menjelang
dan fasca kemerdekaan Indonesia, dikuasai dan DIDOMINASI oleh putera-putera
Acheh berhaluan nasionalis. Diakui bahwa terdapat PUSA, Ulama independen dan
aktivis Dayah yang pada era itu sudahpun menyandang gelar `Tengku Thjik’,
dianggap masih peka dan memberi perhatian terhadap situasi politik yang berlaku
di Acheh; akan tetapi keberadaan mereka seumpama ‘bayi tabung’ (generasi Acheh) yang kehilangan kontak emosional
lahir-bathin dengan Induknya (negara Acheh). Perasaan nasionalisme Acheh
tiba-tiba tidak lagi bergetar di dada mereka, sembari mensucikan diri dalam
kolam kesunyian dan kepedihan! Nasib masa depan Acheh akhirnya, ditentukan oleh
segelintir putera Acheh berhaluan nasionalis yang sebelumnya telah terpengaruh
dengan politik kolonial Hindia Belanda, Jepang, ajaran demokrasi dan
nasionalisme yang diperkenalkan oleh politisi inlander dari luar Acheh. Kalangan Ulama
& aktivis Dayah, selain tidak mampu mengimbangi pertarungan ideologi dan
politik kontemporer melawan kelompok nasionalis (1942-1945), juga terpaksa
membiarkan dan menyaksikan mereka mempertontonkan goyang tarian ’nasionalisme
Indonesia’ yang lincah, sekaligus mendominasi rumusan arah tujuan politik masa
depan Acheh untuk dimasukkan kedalam wilayah RI. Kalangan nasionalis
Acheh inilah yang telah berjasa menghancurkan nasionalisme Acheh
berkeping-keping dan di atas puing-puing reruntuhan itu, dibangun jasad baru,
yaitu INDONESIA yang sesungguhnya
bukanlah impian dan aspirasi dari bangsa Acheh pada ketika itu. Lantas, fungsi
Dayah yang dijanjikan, selain sebagai pusat pengajian
Islam, juga sebagai pusat pembinaan kader pejuang kemerdekaan yang didasarkan
kepada ajaran Islam.., tokh hasilnya nihil. Lelah menunggu janji
manismu!
------------------------------
[1]. Ibnu Abdil
Barr dalam Al-Intiqa´u fi Fadha ´ilits Tsalatsatil A´immatil Fuqaha´i, hal.
145.
[2]. Ibnu Abdil Barr di dalam
Al-Jami´.
[3]. Tarikhu
Damsyiq karya Ibnu Asakir.
[4]. Ibnu Abi Hatim, halaman 93-94.
[5]. Ibnul Abdil Barr di dalam
Al-Jami`.
[6]. Ibnul Jauzi, halaman 182.
[7]. Al-Fulani dan Ibnul Qayyim dalam
“Al-I´lam”.
[8]. Al-Sha´ab newspaper, Mesir (6
Juli 1959.
[9]. Ensiklopedi
Fiqih Umar bin Khattab ra, hlm 274. Dr Muhammad Rawwas Qal´ahji. PT Raja
grafindo Persada, Jakarta, 1999.
[10] The The Blackwell Companion
QUR’AN, edited by Andrew Rippin, 2009.
[11]. Bimo Satrio
Widarto, “Lailatur Qadr dan Fenomena Waktu.” Republika, 5/11/2005.
[12]. The Economist, 1 Februari 2007.
[13]. God Is Back, John
Micklethwait and Adrian Wooldridge, New York 2009, hlm 5.
[14]. Ecco Homo, in Kafmann. Basic
writing of Nietzsche.
[15]. Samuel Zwemer’s. Islam: A challenger to faith, 1908.
BAB IV
MENGENALI WAJAH
POLITIK KONTEMPORER DI ACHEH
1.
SURAT
POLITIK YANG TERCECER. [1]
Sehubungan dengan surat politik yang
dikirim oleh 9 Senator Amerika Serikat kepada Tengku Abdullah Syafie pada 17
Mei 2001, maka saya atas nama Ketua Biro Penerangan ASNLF Denmark memberi
komentar sbb: Ini merupakan suatu kehormatan kepada Acheh, karena telah sudi
memberi pandangan guna mencari penyelesaian konflik Acheh secara komprehensif.
Sayangnya, surat tersebut sarat dengan hal-hal yang kontroversial. Misalnya
sokongan saudara: “we supports the territorial integrity of Indonesia.”
Diakui bahwa, ini merupakan hak berbicara di alam demokrasi; namun,
keberpihakan ini menunjukkan sikap tidak arif. Semestinya saudara meneladani Ulysses S. Grant, Presiden,
Amerika Serikat, yang bersikap “neutral” dalam menengahi perang antara
Acheh–Belanda tahun 1873. Presiden
Grant telah mengirim surat kepada Congress yang menyebut: “Official information is being received from the Dutch Government of
state of war between the King of Netherlands and the Sultan of Acheh. The
officers of the US who near the seat of the war were instructed to observe
impartial neutrality” [2] Sokongan ini hanya akan memperkeruh keadaan dan nampak betapa dangkalnya
pengetahuan sejarah saudara tentang Acheh. Status Acheh dalam wilayah
teritorial integritas Indonesia merupakan agenda politik kedua belah phak yang
sedang diluruskan. Belanda menyerahkan kedaulatan Acheh kepada RIS pada 27 Desember
1949, dimana Republik Indonesia (RI) merupakan salah negara/state dalam tubuh
RIS itu sendiri. Saat
itu, Belanda secara de jure dan de facto tidak lagi berada dan menguasai Acheh.
Dalam sejarah Indonesia jelas ditulis bahwa Acheh tidak pernah menjadi salah
satu dari 16 negara bagian RIS.
Konflik Acheh, mesti ditelusuri akar
konfliknya dan mesti diselesaikan melalui prosedure decolonisasi, referendum
atau lewat perundingan, seperti saudara katakan: “we feel strongly that
dialogue is the only way to end the conflict and hope that both sides will
continue to search for ways to restart negotiations.” Keberpihakan kepada
penguasa, sudah menjadi tabiat di kalangan politisi. Contohnya: sikap
loyalist-loyalist Acheh yang berkata: “Acheh tidak akan mungkin bisa lepas
dari pangkuan Negara Kesatuan RI. Setelah kemerdekaan diproklamirkan pada 17
Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta, Indonesia yang membentang mulai dari Sabang
sampai Merauke sudah ditulis di dalam piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sabang itu adanya di Acheh. Itu tidak bisa
diubah oleh siapa pun."
[3] Streotype politisi seperti ini, mengingatkan kita kepada sejarah, tatkala
Amerika masih merupakan bagian daripada wilayah integritas Inggeris (13
Provinsi) yang pusat pemerintahannya di London. Waktu itu, sokongan terhadap
integritas wilayah Inggeris ke atas Amerika disuarakan oleh Senator
Philadelphia, Trenton, New York, Saratoga, Albany, Maryland, Savannah,
Charleston dan Cornwallis yang dikenal sebagai state yang paling loyal kepada
British. Dalam Sidang
Kongres menjelang kemerdekaan Amerika mereka berkata: ”Britain and America
were ’one country”. ”The Americans are the sons, not the bastards of
England” [4]
Slogan-slogan loyal kepada mother country
(British) tersebut sempat membimbangkan penanda tangan naskah proklamasi
kemerdekaan Amerika, namun begitu, mereka tetap menuntut Amerika merdeka. Saudara juga menyebut: “we believe
that the use of arms to solve Acheh’s problem is unacceptable.” Ini sikap
ambivalen –pada satu sisi menyokong wilayah integritas Indonesia, di pihak lain
tidak menerima penggunaan senjata dalam penyelesaian Acheh– hal ini dipakai
oleh Indonesia untuk mempertahankan Acheh sebagai salah satu wilayah NKRI
dengan kekuatan senjata. Diperkirakan 80.000 personil sudah berada di Acheh
untuk menentang perlawanan GAM. Keberadaan TNI mengkhawatirkan, sehingga rakyat
Acheh terpaksa mengungsi ke tempat-tempat yang dirasa lebih aman. Pendekatan
militer untuk menyelesaikan konflik Acheh = pendekatan yang dipakai Inggeris
ketika mempertahankan Amerika sebagai wilayah integritas Inggeris. Oleh sebab
itu, saat muncul konflik vertikal tahun 1774, penguasa memecat Lord Dartmouth,
Sekretaris Kolonial, digantikan oleh Lord George Germain dan memecat Gubernur
New Jersey, Pennsylvania, Maryland, Virginia, South Carolina, karena dinilai tidak loyal.
Lord George Germain kemudian merekrut
tentara dari Irlandia, Gibraltar dan Minorca dan disusupkan juga penjahat dari
penjara-penjara Inggeris, ditambah 19.000 serdadu asal German dua pertiga
diantaranya dari daerah Hessian untuk dikerahkan ke kota-kota di bagian Utara
Amerika yang bermasalah. Pasukan
gabungan inilah yang melakukan pembunuhan dan pembakaran sesuka hati. Haslinya?
Lebih dari 3000 orang hilang, 500 terbunuh, 4.500 mati dalam perang dan sakit.
Pendekatan militer yang diterapkan Germain untuk menyesaikan konflik di Amerika
pada akhirnya gagal, sebab taktik ini, dalam sejarahnya pernah dipraktekkan
oleh Tsaritsa Catherina, yang mengerahkan 20.000 serdadu dan penjahat ke
kawasan bermasalah, ternyata gagal. Ketika
suhu politik semakin memuncak, Kongres tetap ngotot supaya Amerika merdeka.
Untuk itu pada tahun 1775, George III menawarkan pencabutan ketentuan pajak
yang memberatkan, hanya saja Amerika mesti menghormati supermasi hukum dan
Parlemen. Tawaran ini hanyalah trik politik, sebab bersamaan dengan penawaran
itu, Letnan Jenderal Thomas Gage diperintah menyiapkan pasukan infantri dari
beberapa regimen untuk menguasai kawasan-kawasan rawan. Banyak orang tidak percaya bahwa perang
akan meletus antara Inggeris-Amerika, sebab masih banyak yang berpikir bahwa “Britain
and America were ‘one country’” dan the “Americans are the sons, not the
bastards of England.” Tetapi
pertumpahan darah tetap tidak dapat dielakkan. Idé kemerdekaan dan kebebasan
tidak bisa dikekang, walaupun Inggeris pada masa itu memiliki kekuatan tentara
dan milisi terlatih yang ditempatkan di merata tempat di Amerika.
Demikian juga di Acheh. Sejak tahun 1976 telah berlangsung
perlawanan dan di celah-celah itu berupaya mencari penyelesaian konflik Acheh
secara damai yang disuarakan dalam Rapat Umum SIRA 11 Nopember tahun 1998,
dimana 2 juta rakyat menuntut dilaksanakan referendum di Acheh.
Di saat perlawanan ini semakin memuncak,
penguasa Indonesia menawarkan Undang-undang Nanggroê Acheh Darussalam. UU No.
18/2001 ini menyebut: 70% dari hasil bumi Acheh diperuntukkan kepada Acheh,
selebihnya disetor ke pusat yang berlaku dalam rentang masa selama 5 tahun. Sesudah itu: 50% disetor kepada pusat dan
50% dinikmati oleh rakyat Acheh. Semua ini hanyalah trik politik untuk meredam
perlawanan GAM (Acheh), sebab dalam realitasnya tidak pernah dilaksanakan.
Acheh muak dengan permainan politik dan
sistem sentralisasi ekonomi, karena dinilai sebagai bentuk lain dari pembayaran
pajak. Tantangan terhadap beban pajak, telah disuarakan oleh FPDRA salah satu
komponen masyarakat sipil Acheh agar bangsa Acheh tidak lagi membayar segala
jenis pungutan dan pajak kepada pusat. Perlawanan ini telah dijawab oleh
penguasa militer Indonesia dengan menangkap, menahan, mengadili dan menghukum
Kausar (Ketua FPDRA) selama 8 bulan penjara. Saudara tidak perlu terkejut,
sebab rakyat Amerika sendiri mempunyai pengalaman pahit suatu masa dahulu,
terutama di Amerika bagian Utara telah menantang ketentuan sentralisasi ekonomi
dan ketentuan pajak Stamp Act yang mengenakan levy terhadap semua dokumen yang
dikeluarkan oleh Lord Grenville rezim London tahun 1765.
Setelah perlawanan bergejolak, barulah
Parlemen British memperdebatkan soal ”Stamp Act”. William Pitt, salah seorang
anggota Parlemen berkata: Amerika secara hukum, moral dan politik mesti tunduk
kepada kehendak penguasa pusat di London. Namun, rakyat Amerika bagian Utara
nekat menghidupkan preceden tahun 1754, yang menyetujui embargo terhadap semua
barang import Inggeris. Keberanian menantang ini telah menimbulkan konflik
vertikal antara rakyat Amerika dan Inggeris. George III, tetap berpendirian
supaya “Stamp Act” diberlakukan, bakhan Gubernur Patterson di Prince Edward
Island mengipasi dari belakang. Katanya: “sikap yang ditunjukkan penduduk di
Amerika bagian Utara sebagai kekanak-kanakan.” Berikutnya, “The Tea Act tahun 1773” juga ditantang keras, sebab
monopoli Inggeris dirasakan semakin mencekik. Sikap Inggeris semakin kurang
ajar dan sudah waktunya orang menghitung: berapa banyak orang Amerika yang
masih setia kepada George III, bourgeois berselubung pemerintah.
Rakyat Amerika sudah muak dengan prilaku
Inggeris, yang mengeruk kekayaan Amerika tanpa ampun: barang barang eksport
dari New York dan Hudson’s Bay Company Canada mencapai £250.000 pertahun, dari
Pennsylvania mencapai £40.000 pertahun (M.G Lawson, passin), sampai kepada
jeritan orang India dan Albany yang diperlakukan tidak manusiawi. [5] Di
Acheh juga demikian berlaku, misalnya: “sejak tahun 1978 sampai sekarang,
sudah 3.700 pengapalan LNG dari Atjeh. Tiap hari diproduksikan dari perut bumi
Acheh sebanyak 38.800 m3 LNG dan 25.200 barrel Condensat, kalikan 4 US
dollar/m3 untuk LNG dan 15 US dollar untuk condensat per barrel, berarti setiap
hari ada pemasukan 155.200 dollar (1.241.600.000,- rupiah) dari LNG dan 378,000
US dollar (3.024.000.000,- rupiah) dari condensat. Kalikan sebulan 25 hari saja
dan potong biaya ini itu, sisanya berapa yang masuk ke rakyat Acheh. Boleh
dikatakan NOL Besar alias nihil. Makanya di Acheh sampai hari ini masjid kampus
saja sudah terbengkalai selama lima belas tahun. Itulah kenyataan.” [6]. Ditambah lagi dengan operasi
PT. AAF; PT. PIM; PT. PIM II; PT. Kraf Acheh; PT. Aromatik dan PT. SAI; yang hanya menguntungkan penguasa.
Hingga jeritan demi jeritan menggema:
“Negeriku adalah sebuah puisi yang gundah,
dikhianati masa lalu dan semua masa depan.
Negeriku adalah nyanyian yang gamang.
Mencari kata-kata diantara kebisuan
kemanusiaan.
Namaku Agam namaku Inong.
Bagai anjing kami diburu.
Karena sejarah yang kehilangan arah.
Karena tangan kami lemah.
Kami lari ke gunung dimangsa binatang.
Kami lari ke kota dimangsa kebinatangan.
Aku ingin mengembara di negeri-negeri
asing.
Mencari nama dan alamat rumah kami yang hilang.
Terbakar diantara sejarah yang sungsang“ [7]
Dan ada yang menyahut:
„Tatapi! Tatapi! Jangan tutup matamu
Jangan pula cucurkan air mata;
tatap kenyataan! Kitapun dewasa jadi
manusia utuh perkasa;
benar robék kalbu ketika ibu kita
Perempuan dan gadis-gadis kampung;
Hari ini jadi ikan, jadi daging segar
Dilalap harimau lapar bernama perkosaan
Apalagi di medan perang tak bisa kita
bilang!” [8]
Selanjutnya:
„Minyak dan gas Achehtambah ganja;
Campur baur di sini dengan mesiu;
Merebutnya perang menyalaPenduduk jadi
arang“
”merah langit dibakar fajar riuh Acheh
hingga ke bandar
anak kita abang berhenti belajar
sekolah-sekolah hangus dibakar ganja dan
peluru berbalut madu
Acheh penuh serdadu penduduk jadi mata dadu
Riuh hutan bukan riuh angin, abang
Sungai dibelah kapal perang
Sampai ke tangga ajal datang
Di kampung tersimpan rahasia perang
Hidup masih tiram di laut berdua dahulu
kita pungut
Acheh ditikam terus berlanjut
Indonesia kita ditombak maut“ [9]
Klimaksnya, rakyat Amerika memandang perlu
kesetaraan kedudukan antara British–Amerika. Begitulah penilaian James Wright,
Gubernur Georgia tahun 1775. Pergeseran pemikiran dari perasaan kebangsaan
British kepada perasaan kebangsaan Amerika terus berkobar dari kalangan rakyat
jelata sampai kepada anggota Kongres. Rezim George III bukan hanya menolak,
bahkan mengancam dengan pendekatan militer, jika hasrat merdeka diteruskan.
Mengapa Amerika dilarang merdeka oleh Inggeris? “Inggeris tokh sudah cukup
bangga dengan nama negeri dinamai dengan karateristik British, seperti: New
York, Carolina, Rye, Gravesend, Bedford, dll,” tulis Benjamin Franklin dalam
London Chronicle 1770. Di Acheh, bukan saja terjadi pergeseran pemikiran dari
perasaan kebangsaan Indonesia kepada rasa kebangsaan Acheh, bahkan lebih dari
itu, kantor-kantor yang melayani penduduk kosong melompong selama dua tahun
(1999 – 200), bendera merah putih turun dan berkibar bendera Acheh, kecuali: di
gedung-gedung pemerintah. Disini terdapat kesamaan pengalaman sejarah antara Amerika–Acheh.
Jadi, Amerika mesti memahami tuntutan bangsa Acheh.
Akan halnya dengan pernyataan saudara: „”… GAM actions may prolong the
violence, rather than resolve the conflict. One example is the attack led by
Sofyan Daud at the end of March as part of a ”defensive strategy” againts the
soldiers stationed around the Exxon-Mobil plant.” Sebenarnya, dengan meletus perang
antara TNI-TNA, maka tidak ada sejengkal pun tanah Acheh yang tidak menjadi
lapangan perang, tidak terkecuali kawasan Exxon-Mobil yang terang-terangan
dipakai sebagai markas pertahanan TNI. Exxon-Mobil bahkan diketahui telah memasok
dana operasi kepada TNI. “Kontras Acheh memperkirakan tahun lalu perusahaan
ini mengeluarkan dana pengamanan projek sekitar 500.000 dollar AS perbulan,
atau setiap harinya 16.000 dollar. Sumber lain menyebut angka tersebut belum
termasuk transportasi petinggi militer yang hilir mudik Jakarta-Medan-Lhok
Seumawé, berikut penginapan dan keperluan lain yang menjadi tanggungjawab
perusahaan ini” [10] ExxonMobil
terlibat dalam pelanggaran HAM di Acheh. Itu sebabnya The International Labor
Rights Fund yang bertindak sebagai pengacara dari 11 keluarga korban asal Acheh
Utara telah menggugat ExxonMobil yang dinilai “terlibat dan bertanggungjawab
atas pelanggaran HAM di Acheh, yang membantu operasi militer, pembunuhan,
penculikan, penyiksaan dan pemerkosaan yang dialamai keluarga 11 penduduk desa
Acheh Utara. Kejahatan tersebut dilakukan oleh aparat militer Indonesia yang
menjaga keamanan perusahaan ExxonMobil. Gugatan ini juga menyebut bahwa,
ExxonMobil telah menyiapkan logistik dan barak militer, yang juga dijadikan
tempat penyiksaan. Selain itu ExxonMobil juga meminjamkan eskavator bagi
kuburan massal korban penyiksaan” [11]
Itulah sebabnya, maka: “Selama aparat
TNI dan Brimob Indonesia-Jawa berada disana, AGAM tidak bisa memberi jaminan
keamanan pada perusahaan itu”. [12] Artinya, serangan GAM diarahkan
semata-mata kepada markas TNI yang berada dalam kawasan ExxonMobil, bukan
menyerang pegawai dan meledakannya, sebab sejak ExxonMobil beroperasi di Acheh
belum pernah ada gangguan dari pihak GAM. Yang jelas, Indonesia dan penanam modal
asing mempunyai kepentingan ekonomi di Acheh, khususnya ExxonMobil. Di sini
nampak bahwa kepentingan mereka lebih diutamakan ketimbang penyelesaian konflik
Acheh secara menyeluruh. [Dalam konteks ini, sudah menjadi amalan bagi industri
migas dimana saja berada, ternyata lebih banyak membawa bala ketimbang berkah
bagi empunya negeri. Inilah yang berlaku di Nigeria, Sudan, Angola, dan Congo]
Bicara soal kedudukan ExxonMobil di Acheh,
Amerika tentu tidak melupakan kasus ”Ohio Company” Joint venture
Perancis-Inggeris suatu masa dahulu. Ketika Perancis dan Inggeris berebut
pengaruh untuk menguasai “Ohio Company”; sehingga pada tahun 1749, Perancis
memerintahkan Gubernur Quebec Marquis Duquesne bersama Jenderal Lord Abercromby
mengawal ”Ohio Company” dengan kekuatan 11 kompi dan siap-siaga di sekitar Fort
William Henry dan Ticoderoga, sementara Brigjen John Forbes memimpin 7 kompi di
Fort Duquesne. Inggeris menjawab dengan menutup jalur perdagangan menembusi
Utara Amerika–New York dan menugaskan Jenderal Amberst dan James Wolfe memimpin
30 kompi menjaga Ohio dan menyerang St. Lawrence dan Quebec. Pada September
1754, Jenderal Edward Braddock, John Cambell, William Pitt, Mayor Jenderal
Jeffry Ambest dan Brigjen James Wolfe menyerang dan pada tahun 1755 baru
berhasil menguasai kedudukan Perancis di Fort Cumberland, beberapa km saja dari
pangkalan Perancis di Fort Duquesne yang dikawal oleh Johan Herman Von Dieskau.
Bagaimanapun, kehadiran pasukan milisi dari Virginia dibawah pimpinan George
Washington tahun 1754 ke Ohio dan Pelabuhan Necessity, turut meredakan perang
Inggeris-Perancis yang berlaga memperebutkan “Ohio Cmpany”. Akhirnya, pada
tahun 1762–63 perang ini diselesaikan lewat rundingan antara Inggeris-Perancis,
dimana Perancis (yang kalah perang) mesti menyerahkan wilayah jajahannya dan
berharap supaya 70.000 pendatang asal Perancis yang berada di Utara Amerika dan
seluruh orang India ditampung aspirasi politiknya. Kemudian ”Ohio Company”
diamankan oleh pasukan gabungan: 18 Kompi tentara Perancis dan 30 kompi tentara
Inggeris.
Dalam kasus “Ohio Company” (Amerika),
peperangan terjadi antara pemilik modal, sementara ExxonMobil (Acheh),
peperangan meletus antara TNA versus TNI yang menempatkan 30.000 personil untuk
mengamankan projek ini. Antara Ohio dan Lhôk Seumawé terdapat mata rantai yang
berhubungan, yakni: sama-sama mendapat celaka dan bencana. Kasus “Ohio Company”
adalah refleksi daripada ketamakan dan keserakahan kolonial nggeris+Perancis
yang mengeruk kekayaan bumi Amerika siang-malam. Hasilnya untuk membangun
gedung-gedung pencakar langit di London dan Paris, memperkaya kaum kolonial,
sementara rakyat Ohio hidup menderita, kedapatan malapeta dan menjadi korban
dari pertarungan dua kuasa. Dan “Masyarakat Acheh yang kuat identitas
kedaerahannya, tidak lagi melihat manfaat kehadiran ExxonMobil. Kecuali hanya
sekedar memandang dari kejauhan perumahan mewah staf perusahaan ini yang
dilengkapi sarana pengobatan, lapangan golf, pertokoan dan bermandikan cahaya
sinar lampu pada malam hari. Di bawah gubuk-gubuk yang gelap dan pengap itulah
rakyat Acheh mengenang kejayaan masa silam. Mengenang para pejuang yang memilih
syahid daripada terhina di bawah perintah kaphé (kafir).” [13]
Saudara juga mengatakan: “We understand that Acheh the
are many groups and individuals who claim to be GAM and that actions heve been
caried out in the name of GAM that were never endorsed by the GAM leadership.“
Dalam
struktur AGAM, hanya satu garis komando –tidak dikenal “Orang Tidak Dikenal”
dan kelompok bajingan lain. Taktik kontra inteligen Indonesia-lah yang
menciptakan banyak kelompok bersenjata di Acheh seperti: OTK, Milisi, Brimob,
Gegana, Polri dan TNI. Sebagai bukti: ”Anggota Brimob mengenakan kaus oblong
berlengan panjang warna biru gelap. Di sisi kiri atas dada, terdapat satu logo
yang melingkar satu singa dan satu buraq. Sementara itu, di dada tengah oblong
itu terdapat dua garis lingkaran putih yang memagari tulisan „Keumando Geurila
Atjeh Meurdehka“ dan didalamnya tedapat bendera GAM.“ [14] Taktik
seperti ini pernah dipraktekkan TNI di Tim-Tim yang menyamar sebagai pasukan
Falinti. Jadi,
argumentasi saudara sangat lemah, sebab fakta tidak akurat. Selain itu, saudara juga berkata: ”we would also oppose GAM
action that in any way violate human raights. We urge GAM to respect the
fundamental rights of all individuals, including non Achehnese in Acheh…”
Pernyataan tersebut menyudutkan GAM karena dituduh melakukan pelanggaran HAM.
Pada hal fakta di lapangan membuktikan sebaliknya. Hal ini telah dibuktikan
sendiri oleh KOMHAMNAS yang ikut menggali kuburan massal di Bukit Sentang,
Bukit Tengkorak, Kuala Tari, desa Djeumeurang, Tjôt Panglima, Rumoh Geudông,
Komplek Laksus Lameuloë (kota Bakti), Kém Ratjông, Kém Tualang Tjôt dan di
beberapa lokasi lainnya. Laporan media asing dan KOMNASHAM patut
menjadi rujukan dalam menyikapi pelanggaran HAM di Acheh.
Soal penduduk non Acheh yang terkena imbas
perang, sejak awal sudah diingatkan oleh Tengku Abdullah Safie, Sofyan Daud
(wakil Panglima perang Wil. Pase), Darwis Djinéb (Panglima perang Wil. Batee
Iliëk), agar penduduk non Acheh keluar dari Acheh untuk sementara waktu, atas
alasan keamanan. Setelah Acheh aman, mereka dapat kembali lagi. Tetapi seruan
ini tidak diindahkan. Tragisnya, justeru bangsa Acheh sendiri terpaksa
mengungsi ke tempat-tempat yang dirasa aman dari amukan TNI. Perlu diketahui, bahwa penduduk non Acheh
transmigrasi asal Jawa telah dipakai sebagai ’enclave’ (suatu sistem pertahanan
militer dengan membuat kota-kota pertahanan apabila ada serangan dari dalam. Nama Lokasi
penempatan transmigrasi pun di-jawa-kan, seperti: Sidodadi, Sidoardjo,
Karangredjo, Situbondo. Yang berarti; sama dengan nama-nama state di Amerika
yang dibawa dari Inggeris, seperti: New York, Carolina, Rye, Gravesend,
Bedford, dll.] Lebih dari
itu, transmigran ini telah dilatih sebagai milisi bersenjata. Tempat
latihannya: Jagong, Timang Gajah, Blang Mantjong, Blang Jorong dan Angkup,
(Acheh Tengah). Milisi inilah yang membakar perkampungan penduduk asli,
membunuh dan menculik penduduk setempat yang dianggap pro kemerdekaan,
khususnya di Acheh Tengah. Ribuan penduduk Acheh Tengah (Gayo) terpaksa
meninggalkan harta-kekayaan, melarikan diri ke luar Acheh Tengah demi
menyelamatkan nyawa. Semua harta-benda yang tinggal telah dirampas oleh para
milisi bersama TNI, termasuk peristiwa pembantaian terhadap Tengku Bantaqiyah
bersama 61 anak didik beliau di Beutông Ateuëh dilakukan oleh TNI dan milisi.
Prilaku biadab transmigran di Acheh ini
mengingatkan kita kepada prilaku transmigran asal Scotlandia dan Irlandia Utara
seramai 24.000 hingga 85.700 orang ke Pennsylvania dari tahun 1710 - 1930. Dan
transmigrasi sebanyak 30.000 asal Inggeris, 55.000 asal Iralndia dan 40.000
asal Scotlandia yang membludak di beberapa state di Amerika dari tahun tahun
1760 - 1775. Mereka sengaja dikirim dan direkrut sebagai pasukan milisi
Inggeris untuk menghabisi rakyat Amerika yang menolak kehadiran transmigrasi
dan anti British. Milisi inilah yang melakukan pembunuhan,
perkosaan dan pembakaran sesuka hati di Amerika. Tindakan biadab milisi terhenti, setelah
potilik penjajahan Inggeris berada di ujung tanduk menolak kebijaksanaan
militer Inggeris yang mengandalkan kekerasan, intimidasi dan pembunuhan di
Amerika. Selain itu, ”new American’s” transmigran asal Scotlandia, Irlandia
Utara dan Inggeris mulai sadar bahwa tindakan mereka hanya untuk kepentingan
rezim London yang sama sekali tidak merubah nasib mereka dan akhirnya memutar
arah perlawanan politik dan militer kepada Inggeris. Sebetulnya, dilihat dari
sudut sociology dan cultural, antara Amerika–Inggeris memiliki persamaan
bahasa, warna kulit, sejarah, budaya, falsafah, identitas, adat-istiadat dan
resam, namun begitu konflik vertikal tidak dapat dielakkan. Amerika tetap
bertekat merdeka dari penjajahan Inggeris. Acheh juga ingin merdeka atas alasan
sejarah, perberbedaan falsafah hidup berbangsa dan bernegara, tidak ada
hubungan politik dan budaya; berbeda peradaban, perasaan kebangsaan
(nasionalisme), identitas, adat-istiadat dan resam.
Lebih ektreem lagi, di kalangan ”new
American’s”, terjadi pergeseran pemikiran dari perasaan kebangsaan Inggeris
kepada perasaan kebangsaan Amerika dan berani berteriak mempertanyakan empayer
British, resam, adat-istiadat dan identitas masing-masing. Di sini, terdapat
perbedaan menyolok antara transmigran asal Scotlandia, Irlandia Utara dan
Inggeris di Amerika dengan transmigran dari pulau Jawa. Di Amerika, para
transmigran segera sadar dan pada akhirnya berjuang bersama rakyat Amerika
untuk memerdekakan Amerika. Sementara di Acheh, transmigran asal Jawa,
diciptakan untuk memusuhi dan memerangi bangsa Acheh agar menghentikan
perlawanan kepada pemerintah pusat di Jakarta. Saudara juga mengatakan: ”…
and that GAM as an organization adhere to the principles enshrined in the
Universal Declaration of Human Rights and the Geneva Convention as the relate
to intern conflict.” GAM sah menggunakan senjata untuk mempertahankan diri
berdasarkan ketentuan hukum Internasional –keputusan Sidang Umum PBB, 12 Oktober 1970, no.
2621-XXV– yang menyebut: “Mengakui hak hukum (legal) dari gerakan
kemerdekaan bangsa-bangsa dijajah, termasuk perjuangan menggunakan
senjata untuk mengusir penjajah (baca:Indonesia) dari negerinya sendiri.”
Itu sebabnya, walau pun sudah ribuan TNI tewas di Acheh, Indonesia tidak bisa
menuntut bahwa tindakan GAM melanggar HAM. Seharusnya senator-senator USA mesti
tahu dan bertanggungjawab terhadap pelaksanaan Resolusi PBB, 2625-XXV (sub a)
yang menyebut: “Kewajiban negara-negara merdeka adalah menghapuskan
penjajahan dan melarang menggunakan kekerasan terhadap bangsa-bangsa yang
sedang menuntut kemerdekaan.”
Patut pula kami pertanyakan tentang kalimat: “… as the
relate to intern conflict”, atau sebaliknya: apakah konflik yang disebabkan
oleh sistem Pajak “Stamp- Act” tahun 1765 (berlaku tahun 1766) –yang mengenakan
levy terhadap semua dukomen– yang dirasakan mencekik leher orang Amerika,
dianggap sebagai intern conflict Inggeris?; … Apakah kemarahan Amerika kepada
George III yang ngotot supaya “Stamp Act” tetap berlaku, jika perlu dengan
intimidasi, kekerasan dan pembunuhan, sebagaimana dibuktikan dalam ‘tragedi
Boston’ tahun 1772 yang mengorbankan ribuan orang sipil mati, dianggap sebagai
intern conflict Inggeris?; … Apakah penolakan terhadap George III yang
menawarkan pencabutan ketentuan pajak yang selama ini memberatkan, hanya saja
Amerika mesti menghormati supermasi hukum dan Parlemen, dianggap sebagai intern
conflict Inggeris?; … Apakah upaya rakyat Amerika di bagian Utara menghidupkan
preceden 1754, yang menyetujui embargo terhadap semua barang import Inggeris,
dianggap sebagai intern conflict Inggeris?; … Apakah perubahan sikap rakyat Amerika yang berkata: ’sudah
waktunya orang menghitung berapa banyak orang Amerika yang masih setia kepada
George III bourgeois berselubung pemerintah dan Amerika tetap ngotot menuntut
merdeka dari penjajahan Inggeris, dianggap sebagai intern conflict Inggeris?;
… Apakah penolakan rakyat Amerika
terhadap ketentuan ‘The tea Act tahun 1773, bisa dianggap sebagai intern
conflict Inggeris?; … Apakah penentangan rakyat Amerika terhadap kebijaksanaan
monopoli perdagangan British yang mematikan ekonomi rakyat dan menyulut
terjadinya konflik antara Amerika-Inggeris, disifatkan sebagai intern conflict
Inggeris?; … Jawabannya sudah tentu tidak, bukan? Sebab rakyat
Amerika memandang bahwa konflik Amerika-Inggeris adalah konflik vertical
Amerika. Jika konflik tersebut diartikan konflik intern Inggeris, sudah tentu
rakyat dan Kongres Amerika tidak perlu menuntut dan menanda tangani proklamasi
kemerdekaan 4 Juni tahun 1776.
Dasar pikiran rakyat Amerika menuntut
merdeka sangat berbeda dengan dasar pikiran bangsa Acheh. Acheh adalah suatu
negara tertua di dunia, ketika Amerika masih lagi sebagai salah satu wilayah
territorial Inggeris, Acheh sudahpun merdeka dan berdaulat sejak tahun 1500-an.
Jadi GAM tidak memperjuangkan negara Acheh baru, melainkan menyambung kembali
kedudukan Acheh sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat –successor state–
dan inilah yang sedang diperjuangkan. Jadi, konflik Acheh bukan konflik intern
indonesia, melainkan konflik vertikal antara Acheh versus Indonesia. Akhirnya, intervensi untuk menyelesaikan
konflik Acheh diperlukan suatu identifikasi masalah, analisis, kebenaran
sejarah dan kebenaran moral. Sebab Acheh sepakat dengan pernyataan Alexander Hamilton
bahwa: „justice is the end of goverment. It is the end of civil society. It
ever has been and ever will be pursued until it will be obtained, or until
liberty be lost in the pursuit.”||
Demikian,
Yusra Habib Abdu Gani



