Notification

×

Iklan

Iklan

Kisah kesultanan Melaka (1400-l511) adalah diantara salah satu khazanah penting dalam sejarah peradaban Islam di Asia Tenggara.

Ahad, 9 November 2025 | November 09, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-09T09:25:50Z

 



Kisah kesultanan Melaka (1400-l511) adalah diantara salah satu khazanah penting dalam sejarah peradaban Islam di Asia Tenggara. Banyak perkara penting telah disumbang kepada pembangunan peradaban bangsa-bangsa Melayu di kawasan Dunia Melayu. Prinsip saling menguntungkan dalam bidang ekonomi, telah menempatkan Melaka menjadi poros perdagangan yang paling penting di kawasan Dunia Melayu pada masa itu. Bangsa Arab, Cina, India dan Eropa telah menjalin hubungan dagang dengan Sultan Melaka, seterusnya berhasil merangsang, menghidupkan pelabuhan-pelabuhan di Semenanjung dan di pantai Timur, Utara Sumatra. Sebagai Pelabuhan bebas, Melaka telah menjadi simbol kemegahan bangsa Melayu, atas kemajuan dalam berbagai bidang yang dicapainya. Dalam bidang kesusasteraan, Kesultanan Melaka telah bekerja sama memajukan pendidikan dengan Dinasty Ming dan berhasil mendirikan satu fakultas pada institusi pendidikan Tinggi di Cina yang mengkaji tentang kesusasteraan dan bahasa Melayu. Salah satu hasil yang membanggakan ialah disusunnya kamus bahasa Melayu-Cina dan Melayu-Perancis oleh lembaga kajian sastera melayu di Cina. Selain itu diakui bahwa, solidaritas antara sesama bangsa-bangsa di Semenanjung dan Sumatera pada waktu itu sangat kental, termasuk hubungan dagang, budaya dan politik. Bumi Semenanjung yang dipisahkan oleh Selat melaka dengan Sumatera, dalam kenyataannya tidak dipandang sebagai tapal batas yang memisahkan interaksi antara sesama rumpun Melayu. Selat Melaka hanyalah sebuah parit, tempat anak-anak negeri bersabung dan mempertaruhkan kesinambungan hidupnya.

 

Dalam lapangan diplomasi, kesultanan Melaka telah mencatat kemajuan, sebab menerapkan prinsip saling percaya dengan bangsa lain. Sultan Melaka telah berhasil menjalin hubungan diplomatik dengan Cina, Arab, India, dan bangsa-bangsa Eropa. Diketahui bahwa selama pemerintahan Kesultanan Melaka (1400-l511), telah terjadi empat kali kunjungan resmi kenegaraan antara Sultan Melaka dan Kaisar Cina. Kunjungan Cina kerap disertai oleh kalangan korporat yang ingin melihat peluang perniagaan di Melaka. Bagaimanapun, korporat Cina mula memikirkan pentingnya mendapat tanah di kawasan kota dan tepi pantai untuk keperluan tempat tinggal dan pemiagaan. Untuk mendapat tanah, pendatang Cina memakai politik “revolusi akrab” dengan Sultan dan kalangan masyarakat Melayu supaya tanah mereka bisa dibeli atau disewa. Walaupun dalam pandangan dan adat orang Melayu dipercayai bahwa: menjual tanah milik seseorang/keluarga dengan tidak ada alasan yang munasabah dipandang malu dan hina. Namun begitu secara khusus atau dalam konteks tertentu tentu ada pertimbangan-pertimbangan lain melatar belakangi perkara itu berlaku. Akhirnya dalam jangka masa 600 tahun (1400-1999), tanah-tanah orang Melayu di kawasan kota dan pantai yang strategik, secara ekonomis telah dikuasai sepenuhnya oleh etnis Cina di Malaysia. Terlepas dari pertimbangan tadi, kedaulatan tanah dalam pandangan orang Melayu, tetap berhubung kait dengan politik, ekonomi bahkan dengan maruah bangsa. Oleh karena itu, untuk mempertahankannya, mereka telah berani bertarung dan bersabung mempertaruhkan nyawa, darah dan harta untuk melawan kuasa kolonialisme, imperialisme dan komunisme. Orang Melayu tetap mempunyai pendirian bahwa untuk menyara hidup, . . . menyambung zuriat, . . . bersahabat dengan berbilang etnik dan agama berlaku di atas tanah Melayu yang siap sedia menunggu dan menyahut setiap panggilan pembangunan, agar tercipta kesinambungan hidup yang dinamik, bergerak menuju satu cita-cita- rahmatan lil àlamin.

 

Suatu masyarakat yang tidak dapat membuktikan mampu berubah, tentu masyarakat menjadi fosil. Tetapi bumi melayu yang selama berabad-abad lamanya dijamah dan digagahi oleh serangkaian penjajah dan majikan (Portugis, Belanda, British, Jepang dan British), nyatanya mengalami nasib yang keadaannya lebih kurang seperti dikatakan Zurr el-Ghaffari bahwa: “ada tiga perkara yang menjadi milik masyarakat sebagai keseluruhan yang tidak diakui oleh siapapun -Api, Rumput dan Air.” Namun begitu, ada sesuatu yang tidak dapat digadai, sebab tidak ada yang lebih penting dalam kehidupan orang Melayu kecuali: agama dan bahasanya. Ini ada benarnya, sebab dalam penelitian Francis Xavier, yang dikirim khusus sebelum Portugis menyerang Melaka tahun 1511. Xavier, telah mengkaji sejarah, falsafah dan sastera Melayu. Kesimpulan yang paling menarik dari Xavier ialah, bahwa terdapat hubungan yang erat sekali antara budaya dan bahasa/sastera dengan kekuatan semangat dan moral yang dipantulkan dari pemahaman agamanya -Islam. Kesimpulan Xavier juga diakui oleh sebilangan Orientalis lain yang meneliti kemudian, seperti: R.O. Winstedt, Wilkinson, Werndly TM, OT Dossek, William Farquhar, Frank Sweten dan H.O Overbeck.

 

Sebelum Portugis menakluki Melaka tahun 1511, kajian dan analisa Xavier mengenai falsafah hidup orang Melayu sangat banyak membantu dalam strategi untuk menaklukan Melaka. Sebab secara psikologis apa yang disimpulkan Xavier dapat dipandang sebagai pantulan pikiran, karakteristik dan visi yang sekaligus menggambarkan mentalitas orang Melayu seperti didapati dalam lirik pribahasa ini: "Daripada hidup berputih mata, lebih baik mati berputih tulang" "Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah." Inilah falsafah hidup dan di atas pemahaman itu pula orang Melayu menolak secara mentah-mentah dan memerangi semua kaedah kolonialisme yang bertentangan dengan budaya Melayu dan Islam. Tetapi Xavier tidak berhenti di sini, sebaliknya, lirik yang nampak begitu garang itu, ternyata bukan harga mati bagi orang Melayu, sebab masih terdapat sisi lemahnya. Dalam batas-batas tertentu, orang Melayu sebenamya masih mau bersikap lebih toleran bahkan bersedia diperbudak, asalkan cukup alasan untuk itu. Sikap toleran ini didapati dalam lirik Pepatah di bawah: “Ikut rasa binasa, ikut suka duka, ikut hati mati, dan biar titik jangan tumpah, biar rebah jangan roboh” Seterusnya bunyi pantun di bawah juga sangat penting artinya dalam kajian Xavier: “Puas Saya Menanam Keladi: Nenas Juga Ditanam Orang, Puas Saya Bertanam Budi: Emas Juga Dipandang Orang” Lagi: “Sudah dapat gading bertuah Tanduk tidak berguna lagi.”

 

Dari kajian Xavier inilah, Portugis membuat kesimpulan untuk menyusun taktik dan strategi. Maka pada tahun 1509, Protugis mengadakan uji-coba atas kebenarannya. Dalam kunjungan resmi Portugis ke Melaka, kepada Bendahara Kesultanan Melaka yang dikenal jujur itu diberikan kenang-kenangan berupa kalung emas dan tidak diberikan kepada Sultan Melaka, Mahmud Syah. Peristiwa ini sengaja dihembus dan dihebohkan oleh Nina Chattu (keturunan Kling, India) dan Uthimutha (keturunan Jawa). Keduanya bekerja di Istana Sultan Melaka. Portugis sudah lama memperalat dua orang ini yang ditugasi mencari dan menyerahkan rahasia pertahanan Sultan Melaka. Jadi kejatuhan Melaka tidak terlepas dari pengkhianatan kedua orang ini, seperti telah diungkapkan: “Kejatuhan Melaka sebenamya berpunca daripada pengkhianatan oleh dua orang pegawai Sultan: Nina Chattu seorang keturunan Kling-India, yang bekerja-sama merancang dan menolong orang Portugis menyerang serta merampas Melaka. Difahamkan bahwa ia telah terpengaruh dengan janji-janji manis yang diberikan oleh Alfonso D‘Albuquerque, dan akhimya dia sendiri dibunuh oleh serdadu Portugis.” [28] Selain Chattu, “didapati juga seorang pengkhianat lagi bemama Uthimutha, keturunan Jawa yang bekerja sebagai budak, turut merancang dan melicinkan rampasan kuasa oleh Portugis untuk menakluki Melaka.” [29] Walaupun pantulan lirik pertama di atas telah dieksprimentasikan oleh Lubuk Batu, pengganti Sri Maharaja Melaka dalam ucapannya: “Biarkan daku! Biar aku hancur bersama Melaka ini”. Sebab dalam budaya Melayu. “kalau negeri alah, rajanya hendaklah mati‘, akan tetapi dalam kenyataannya tembok Melaka tetap juga roboh. Dengan robohnya tembok Melaka tahun 1511, maka Sultan-sultan yang sebelumnya tunduk kepada kuasa Kesultanan Melaka otomatik di bawah kuasa Portugis.

 

Di sini semua dalil mengenai falsafah hidup, politik, pertahanan dan kesetiaan kepada sultan temyata mengalamai perubahan secara ektreem: “kalau negeri alah hendaklah raja mati” tidak bergetar lagi dalam jiwa orang Melayu. Sultan Mahmud Syah bersama keluarganya terpaksa melarikan diri ke Johor. Dari Johor, Sultan Mahmud berusaha menyusun strategi perlawanan, malahan beliau sempat mengirim surat kepada Dinasty Ming dengan maksud supaya dapat membantu Sultan Melaka menghadapi serangan Portugis. Akan tetapi permintaan Sultan tidak dapat dikabulkan, karena Dinasty Ming sendiri sedang menghadapi serangan bangsa Tar-tar. Persoalannya sekarang: mengapa Sultan Johor, Selangor, Perlis, Pahang, Perak, Kelantan, Pathani, Trengganu dan Naning (Negeri Sembilan) tidak membantu membebaskan Melaka dari serbuan Portugis? Mengapa Sultan Mahmud meminta bantuan kepada Kaisar Dinasty Ming? Lebih ‘aib lagi, Sultan-sultan Melayu di Semenanjung tidak mampu memberi perlindungan kepada Sultan Mahmud bersama keluarga. Dalam sejarahnya yang panjang itu, Sultan Johor dan Pahang kemudian berkomplot dengan Portugis untuk mempertahankan status quo Melaka di bawah kuasa Portugis.

 

Akhimya, Sultan bersama keluarga terpaksa meminta perlindungan politik kepada Sultan Siak -Sumatera. Kesetiaan orang Melayu Sumatera tidak sekadar memberi perlindungan kepada Sultan dan kerabatnya, akan tetapi juga menyediakan sebuah pulau -Bintan- sebagai basis untuk melatih tentara pembebasan Melaka. Walhasil, setelah Sultan Mahmud meninggal, tidak dapat diteruskan oleh anaknya - Sultan Muda Ibrahim - yang memilih untuk tidak kembali lagi ke Melaka. Bersamaan dengan runtuhnya tembok Melaka, hancur pula kedaulatan politik sultan-sultan Melayu yang walaupun keberadaan Sultan-sultan tidak dihapuskan, akan tetapi secara politik dan moral kedudukan Sultan-suhan Melayu ini sama artinya dengan Gubemur-gubemur yang dilantik di wilayah-wilayah jajahan Portugal. Di tengah suasana Melaka kucar-kacir, lumpuhnya semangat juang dan kehilangan pemimpin Melayu yang sejati itulah, para sasterawan Melayu secara diam-diam mengangkat cerita yang menampilkan tokoh Hang Tuah dan Hang Jebat. Kisah ini mempunyai genre sastera yang khusus menyibak kembali peristiwa yang berlaku dalam Istana Sultan Melaka. Bendahara kesultanan Melaka yang mati dibunuh tahun 1509, karena dihasut oleh Mendaliar dan Koja Hasan serta Nina Chattu dan Uthimutha yang berkhianat kepada Sultan Melaka. Melalui cerita ini diharapkan dapat memberi rangsangan terhadap semangat nasionalisme Melayu, kewibawaan, kebenaran dan keadilan, tetapi segalanya serba tidak menjadi. Kini mithos Hang Tuah dan Hang Jebat, dalam kenyataannya, terasa semakin menjauh dari kurun masa dan pantulan jiwa dan serta semangatnya kepada generasi sekarang. Portugis yang menjajah Melaka (151l-l641) tidak dapat diusir walaupun terus menerus dirangsang melalui cerita Hang Tuah dan Hang Jebat.

 

Sejarah berbicara lain. Belandalah yang kemudian memukul mundur Portugis dari Melaka. Konsekuensi logisnya bahwa Melaka bertukar tuan, dari Portugis kepada Belanda. Seperti Portugis; Belanda juga melucuti kedaulatan Sultan-sultan Melayu, dipaksa menanda tangani perjanjian supaya semua tanah-tanah dan hasil bumi Melayu diserah kepada penjajah. Perusahaan-perusahaan milik Portugis, kini semua beralih kepada Belanda dimana orang Melayu dipakai menjadi buruh, bukan sebagai Tuan. Dalam konteks ini, ada benamya ucapan Zakiyah Hanum bahwa: “Di kalangan pekerja Melayu, lazimnya mereka menghormati majikan yang menggajinya. Kasih kepada tempat berarti menjaga dan memelihara semua yang berkaitan dengan majikan mereka. Jika ada sesuatu yang menyinggung perasaan majikannya, sama seperti menyingggung perasaan hati dan perasaan mereka. Kerap ada yang goncang hati dan perasaan kebangsaannya, disebabkan kasih sayang yang ditujukan kepada hala yang lain.” [30] Gambaran mentalitas Melayu ini berlaku sampai sekarang. Ketika Belanda melihat Melaka tidak menguntungkan lagi, maka sekali lagi Melaka bertukar tuan, dari Belanda kepada Inggeris melalui Traktat London, yang ditanda tangani pada tahun 1824. Dalam perjanjian ini antara lain disebut bahwa Bengkulu, wilayah kuasa Inggeris di Sumatera diserah kepada Belanda, sementara Melaka - wilayah kuasa Belanda di semenanjung - diserah kepada Inggeris. Satu persatu kuasa Sultan dilucuti melalui perjanjian antara Inggeris dengan masing-masing Sultan. Semua kompeni Belanda secara otomatik beralih kepada Inggeris. Ada beberapa perkara yang sebelumnya tidak terjadi, justeru berlaku sewaktu Inggeris berkuasa. Misalnya, tenaga kerja dalam sektor perkebunan, didatangkan buruh dari India, sementara dalam sektor perlumbungan timah didatangkan buruh dari Cina. Demikian juga anggota keselamatan negara tidak dipercayakan kepada orang Melayu. Kalaupun ada sebilangan orang Melayu menjadi tentara, hanyalah berpangkat rendah sekali. Hal seperti ini berlaku selama penjajahan Inggeris (1824-1942).

Ketika Jepang masuk ke Singapura tahun 1942, dengan mudah sekali menguasai tanah Semenanjung sampai tahun 1945. Orang Melayu bertukar tuan lagi dan untuk kesekian kalinya menjadi hamba abdi penjajah yang diperlakukan dengan tanpa ampun. Sampai Inggeris kembali lagi sesudah pendudukan Jepang berakhir 1945. Di penghujung sejarahnya, proses kemerdekaan Tanah semenanjung yang kemudian dikenali sebagai Malaysia, tercapai juga dengan melalui perundingan. Inggeris meletakkan syarat bagi kemerdekaan Tanah Semenanjung Melayu. Semua etnik Cina dan India mesti menjadi warganegara yang mempunyai persamaan hak dan kewajiban. Apa yang paling penting di sini ialah: pengalaman yang ‘aib dan buruk selama lebih daripada 450 tahun itu, agaknya cukup sudah menjadi guru kepada bangsa ini. Saatnya bangkit untuk menata hidup di tengah-tengah kegundahan rakyat yang terus mencekam di atas perbedaan agama, budaya, perkauman dan berharap mimpi buruk tidak akan menjelma kembali.

 

 

 

8. ANTARA PAHLAWAN DAN NALAR KITA

 

PADA tengah hari 1 September 2012, saya campakkan perasaan malu ke sungai Krueng Daroy dari atas jembatan yang mengapit pintu gerbang Meuligoe Gubernur Acheh dengan lokasi makam Sultan-sultan Acheh, di komplek Bapperis, Banda Acheh. Biarlah hanyut ke laut lepas, asalkan daku bebas menziarahi makam para pahlawan. Didampingi Sdr Muhammadar, kami dipandu langsung oleh Tuanku Raja Yusuf bin Tuanku Ibrahim, salah seorang cucu dari Tuanku Muhammad Daudsyah (Pemangku Sultan Acheh: 1874-1903). Ia mengisahkan satu per satu dari delapan keluarga Sultan Acheh yang berada di lokasi ini. “Ini makam Ayah saya, Tuanku Ibrahim bin Tuanku Muhammad Daudsyah,” katanya. Di lokasi itu, Tuanku Raja Yusuf juga menunjuk makam Sultan Alaudin Ibrahim Mansyur Syah (1836-1870); Sultan Alaudin Muhammad Syah (1781-1795); Sultan Husin Jauhar Al-Alam Syah (1795-1824). Kemudian, kami menuju ke lokasi makam Sultan Iskandar Muda, yang lokasinya bersebelahan. Tidak tersedia brosur yang menceritakan sejarah ringkas mereka, kecuali: daftar nama-nama dan tarikh berkuasa tertulis pada marmar tipis yang tertampang. Terasa tidak ada getaran jiwa antara saya dengan para penghuni makam pahlawan itu, walau sudah berusaha mendekat, merapatkan emosional, bahkan menyentuh pusara mereka. Seakan-akan terdapat dinding yang tinggi, penghalang pandang mata-hati antara saya dan mereka. Saya akui itu!

 

 

Generasi sesat

 

Agaknya perasaan tadi wajar menjalar dalam nalar, sebab selama mengecap pendidikan, guru sejarah yang tidak pernah mengisahkan figur kepahlawanan Acheh secara detail. “Aku generasi sesat yang disesatkan”! Padahal, kalau mau jujur, di setiap jengkal tanah Acheh terhampar pusara para pejuang Acheh semasa perang melawan Portugis, Belanda, Jepang dan Indonesia, yang sebagian diketahui dan sebagiannya lagi tidak, karena tidak dikenalkan. Puluhan tahun lalu kita tidak tahu dan sekarang baru sadar, kalau muatan kurikulum pendidikan sejarah lokal begitu sarat dengan konspirasi politik pendidikan, yang tidak menyetarakan figur pahlawan Acheh dengan figur pahlawan lain di Indonesia. Supaya pasti-pasti, boleh dibuktikan dari soal ujian pelajaran sejarah, dimana pelajar lebih menguasai ketokohan Soekarno, Mohd Hatta, Mohd Yamin, Budi Utomo, Imam Bonjol, Patimura dan Pangeran Diponegoro, ketimbang ketokohan Sultan Ali Mughayatsyah, Merah Johan, Iskandar Muda, Mahmudsyah, Tgk Thjik di Tiro Mohd Saman, Tuanku Banta Muda Hasyim, Tgk Tjut Pliëng, Aman Dimot, Tgk.Thjik Paya di Bakong, Teuku Umar, Tgk Tapa, dan Pang Tjik, Malahayati, Datuberu dan Tjut Njak Dhiën dan Tengku Daud Beureuéh dalam sejarah Acheh.

 

Dalam skala nasional, pelajar lebih menguasai sejarah pembantaian 7 jenderal TNI oleh PKI di Lubang Buaya pada 1 Oktober 1965; ketimbang peristiwa pembunuhan massal yang dilakukan TNI terhadap lebih dari 400 orang di Tjut Pulot Jeumpa tahun 1956, pembantaian terhadap lebih dari 3.000 orang dalam perang saudara (Peristiwa Tjumbok, Desember 1945 - Februari 1946) dan pembantaian selama konflik Acheh sepanjang 1976-2005. Lebih menguasai sejarah “Sumpah Pemuda” 1928, ketimbang sejarah “Sumpah Taat Setia para Uleebalang dan Pejuang kepada Sultan Acheh” demi mempertahankan Acheh dari serangan Belanda, 1873 dan Ikrar Lamteh, 1957. Dalam skala internasional, peristiwa kekejaman Nazi selama perang Dunia ke-2 (1939-1945), lebih dikuasai ketimbang sejarah ‘genocide‘ yang dilakukan oleh pasukan Mareusussee pimpinan Van Dalen terhadap lebih dari 3.000 orang Gayo, di Kute Rèh, Tampèng, Rikit dan Kute Panyang pada 1904-1905, yang heboh dibicarakan dalam Sidang Istimewa Parlemen Belanda 1907.

 

Untuk mengukur kadar ketidakkesetaraan pengetahuan sejarah di kalangan pelajar, perlu pisau analisis, kajian dan penelitian komprehensif. Yang pasti, guru dan institusi pendidikan tidak boleh dipersalahkan. Ini sepenuhnya tanggung jawab penguasa bersama pakar sejarah, yang kurang memberi perhatian memajukan pendididkan sejarah.

Orang tidak berpikir ke arah reformasi sylabus pendidikan sejarah bermuatan lokal. Jadi wajar; jika rentak politik berbangsa dan bernegara hanya mencetak generasi ‘binatang jalang’, kosong jiwa dari siraman dan suntikan semangat patriotisme, heroisme dan nasionalisme yang telah dipugar oleh para pahlawan. Sebenarnya, sejarah merupakan identitas dan karaterisktik kepunyaan suatu bangsa, yang sifatnya mendidik, mengenali diri dan menggapai cita-cita. Tiada masyarakat tanpa sejarah. Telah lama ditanyakan sejarah apa yang mendidik kita. Saat ini kita hidup di zaman postmodern yang merupakan fase terakhir dalam filosofi Barat. Sebagaimana kerap kali dinyatakan bahwa tahap tersebut adalah tahap dimana segalanya dianggap relatif dan setiap sesuatu dipercayai mungkin. Akibatnya terjadi banyak tekanan, khususnya dalam politik. Dan tanpa dapat dipungkiri, ikut mempengaruhi persepsi kita akan sejarah baik secara langsung maupun tidak (Dr. Mehmet Ozay, Makna 500 Tahun Peringatan Kesultanan Acheh Darussalam, Majalah Saman Magazine).

 

            Tak pernah mati

 

Itu sebabnya, studi tentang sejarah dipandang penting; bukan saja terbatas pada aspek kognitif --yang menekankan pada hafalan tarikh dan anatomi sejarah-- melainkan lebih dari itu, menjadikan sejarah sebagai ilmu yang menggerakkan kesadaran dan rasa kesejarahan untuk menghidupkan jiwa dan semangat berbangsa dan bernegara.

Semua artifak sejarah tak pernah mati, kecuali dimatikan oleh yang pemilik sejarah. Dengan begitu, tercipta suatu generasi yang tetap menenteng fragmen sejarah yang positif dan relevan untuk diaplikasi dalam peradaban kekinian kita. Akhirnya, “suatu bangsa yang tidak tahu sejarahnya, tidak punya masa depan.” Sah dan benar adanya. Wallahu’aklam bissawab.

 

 

 

9. NASIB PENJAGA GAWANG RI DI SUMATERA

 

 

TIBA-TIBA saja deburan ombak politik antara Indonesia-Belanda yang masing-masing mempertahankan nyawa kekuasaan, ‘keberuntungan’ jatuh ke pangkuan Tengku M. Daud Beureueh (17 September 1899–10 Juni 1987); dimana Muhammad Hatta (Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia) di Bukit Tinggi, mengangkatnya sebagai gubenur militer Acheh, Langkat dan Tanah Karo melalui Surat Keputusan (SK) No. 3/BKP/U/47, 26 Agustus 1947. Surat Keputusan ini memposisikan Tengku M. Daud Beureueh sebagai “penjaga gawang RI” di Sumatera. Pada tahun 1942, beliau dkk. (wakil PUSA) dan Teuku Njak Arif dkk. (wakil Ulèëbalang) adalah pasukan pertahanan Acheh yang tangguh dan berhasil, hingga Belanda keluar dari bumi Acheh. Namun, barisan pertahanan ini melakukan tendangan “bola bunuh diri” –membiarkan kapten Major Iwaichi Fujiwara memasukkan “bola Jepang” ke gawang Acheh. Goal! (posisi 0-1) untuk kemenangan Jepang. Pada tahun 1945, giliran Teuku Njak Arif (penyerang tengah) berhasil mengusir pasukan Jepang keluar dari Acheh. Sukarno –kapten kesebelasan Indonesia– melakukan trik dengan mengoper “bola Indonesia” kepada gelandang tengah –Mr. Teuku Muhammad Hasan dan Dr. Amir (seorang atheist)– menyusun serangan dari Bukit Tinggi, untuk menembus gawang Acheh yang lengah dari penjagaan; dibantu oleh Jamaluddin Adinegoro yang mengirim telegeram kepada Teuku Njak Arif untuk memasukkan “bola Indonesia” ke gawang Acheh, melalui Komite Nasional Daerah (KND), diperkuat oleh 15 pemain. Antaranya, Teuku Njak Arif, Tengku Daud Beureuéh, Tuanku Mahmud dan Sutikno dengan pola “main keroyok” berhasil menyarangkan “bola Indonesia” ke gawang Acheh dalam posisi –vacum of power– Goal! (posisi 0-1) bagi kemenangan pemerintah pusat Indonesia. Ketika kemelut politik Indonesia memuncak, dimana juru runding RI dalam perjanjian Renville melakukan kesalahan, sehingga Let Jend. Spoor mengirim nota, 27 Mei 1947; agar daerah-daerah RI dikawal Belanda.

 

Oleh karena Indonesia menolak, maka pada 30 Juni 1947, KNIL secara serentak menyerang dari udara di beberapa lokasi di pulau Jawa dan Sumatera, seperti kampung Sunggal, kampung Lalang, Asam Kumbang, Padang Bulan, Sei Semayang, Kelambir Lima, Titi Gantung, Hamparan Perak, Tebing Tinggi dan Pematang Siantar pada 21 juli 1947. Muhammad Hatta (Wakil Presiden RI) dan Teuku Muhammad Hasan (Gubenur Sumatera), yang berada di Pematang Siantar terpaksa dievakuasi ke Bukti Tinggi, Sumatera Barat. Di beberapa tempat terjadi penangkapan oleh OTK terhadap bekas raja-raja Melayu, pegawai, pedagang dan tokoh-tokoh masyarakat yang sebagian dibunuh dan harta dirampas. Nyawa Indonesia kritis akibat serangan KNIL, hingga Perdana Menteri Syahrir mengakui kedaulatan Belanda selama masa peralihan. Wilayah Acheh –merupakan zona aman– diklasifikasikan oleh Syahrir sebagai salah satu wilayah yang tidak aman di Sumatera. Bersamaan dengannya, Muhammad Hatta (wakil panglima perang Indonesia) mengangkat Tengku M. Daud Beureueh menjadi gubernur militer untuk daerah Acheh, Langkat dan Tanah Karo dengan SK No. 3/BKP/U/47. Pada hal pasukan KNIL; jangankan masuk dan menyerang, mendekat pun tak berani ke Acheh, sejak KNIL keluar tahun 1942. Jadi, munculnya SK No. 3/BKP/U/47 yang tidak relevan ini punya muatan politik; karena ketentuan tentang berhenti tembak-menembak di sepanjang ‘garis Van Mook’, gencatan senjata dan pembentukan kawasan kosong militer (point 1) perjanjian Renville; tidak termasuk Acheh, Langkat dan Tanah Karo.

 

Demikian juga ketentuan yang menyebut ’Belanda tetap berdaulat atas seluruh wilayah Indonesia sampai Republik Indonesia Syarikat (RIS) terbentuk,’ (point 2). Van Mook nyatanya tidak pernah membentuk Acheh sebagai salah satu negara bahagian, yang direncanakan menjadi negara bagian RIS. Oleh karena di Acheh, Langkat dan Tanah Karo tidak pernah bertempur dengan KNIL. Lantas, buat apa gencatan senjata dan pembentukan negara boneka Van Mook? Gawang Acheh kebobolan. Goal! (posisi 0-2) untuk kemenangan pemerintah pusat Indonesia. Oleh karena situasi di tiga daerah tersebut relatif aman dan fungsi gubernur tidak efektif; maka sebagai “penjaga gawang RI” di Sumatera, Tengku M. Daud Beureueh diberi tugas memberi layanan kepada para petinggi PDRI dipimpinan oleh Syafruddin Prawiranegara yang lari menyelamatkan diri dari Bukit Tinggi ke Acheh. Selama berada di Di Acheh, aktivis PDRI, selain dilayani secara baik, disediakan juga fasilitas komunikasi –Radio Rime Raya– yang dioperasikan dari rimba Rime Raya, Acheh Tengah, pada tahun 1948 yang menyiarkan: “jantung Indonesia masih berdenyut di Acheh”. Bahkan saat utusan DK-PBB (KTN) bekunjung dua kali ke Acheh, bertanya soal status Acheh. Tengku M. Daud Beureueh menjawab: “rakyat Acheh siap membela Indonesia”.

 

Demikian pula saat Tengku Mansyur (wali negara Sumatera imur) bertanya soal status Acheh. Dijawab: “Acheh tidak bermasud membentuk Acheh raya, sebab kami berjiwa republiken…” Gawang Acheh kebobolan. Goal! Posisi (0-3) untuk kemenangan pemerintah pusat Indonesia. Selain itu, Tengku Muhd. Daud Beureueh diminta mencari dana untuk membiayai dan menyelematkan nyawa Indonesia. Untuk itu beliau mengerahkan rakyat Acheh mengumpul uang sejumlah AS.$ 500 ribu, membiayai kantor perwakilan Indonesia di Singapura, kedutaan besar RI di India dan biaya untuk L.N. Palar –duta besar Indonesia pertama di PBB (1950-1953)– di New York dan mengumpul 5 kilogram emas untuk membeli perusahaan pemerintah dan obligasi pemerintah. Dana tersebut sejumlah AS $ 250 ribu membiayai TNI; AS $ 50 ribu membiayai kantor pemerintah; AS $ 100 ribu membiayai pemindahan pusat pemerintahan RI dari Yogyakarta ke Jakarta dan US $ 100 ribu diserahkan kepada Mr. A.A. Maramis. (TEMPO, 19 Desember 1999, No. 41/XXVIII.). Gawang Acheh kebobolan. Goal! Posisi (0-4) untuk kemenangan pemerintah pusat Indonesia Apa Yang Terjadi Kemudian? Tengku M. Daud Beureuh, atas nama gubernur militer Acheh, Langkat, dan Tanah Karo mengeluarkan kebijakan bahwa sejak 1 Juni 1948, seluruh unit militer, seperti Mujahidin divisi X Tgk. Tjhik di Tiro; kesatria Pesindo Divisi Rencong, Divisi Tgk. Tjhik di Paya Bakong dan lain-lain unit kemiliteran di Acheh, Langkat dan Tanah Karo dilebur dan digabung menjadi Angkatan Perang TNI Divisi X Sumatera.

 

Kebijakan ini rupa-rupanya perintah langsung daripada Panglima Militer Teritorial Sumatera, Panglima Sumatera, pemerintah pusat, Panglima divisi Rencong dan permintaan daripada dewan pimpinan Masyumi daerah Acheh. Maka pada 7 Mei 1948, Tengku Muhd. Daud Berueueh memerintahkan supaya selambat-lambatnya pada 30 Mei 1948 sudah bergabung dan pada 13 Jun 1948, ditetapkan supaya Divisi Paya Bakong (diketuai oleh Amir Husen Mujahid); Divisi Rencong (diketuai oleh A. Hasmy dan Njaknèh Lhoknga); Divisi Tengku Cik di Tiro (diketuai oleh Cèkmat Rahmany); segera bergabung kedalam unit TNI. Semua unit militer di Acheh dikosongkan dari kekuatan militer. Selanjutnya, menempatkan pasuskan ke luar Acheh, sehingga satu resimen saja yang tinggal di Acheh dan hampir semua anggotanya bukan orang Acheh, bahkan komandannya adalah seorang kader komunis. Gawang Acheh kebobolan. Goal! Posisi (0-5) untuk kemenangan pemerintah pusat Indonesia. Setelah penanda tangan KMB, 27 desember 1949, Syafruddin Prawiranegara, (wakil Perdana Menteri RIS) mengeluarkan Peraturan Wakil Perdana Menteri Pengganti Peraturan Pemerintah No: 8/Des/WKPM/1949 tentang pembentukan Provinsi Acheh dan Tengku Muhd. Daud Beureuéh dilantik sebagai gubernur sivil Acheh pemerintahan RIS, sementara itu; jabatan gubernur militer Acheh, Langkat dan Tanah Karo masih aktif. Rupa-rupanya, Syafruddin Prawiranegara mahu membayar hutang budi, karena ketika mengungsi sebagai pelarian politik lokal (1948-1949) ke Acheh; Teungku Daud Beureueh, Hasan Aly, Ayah Gani, Nur El- Ibrahimy dan Teuku Amin secara rahsia meminta kepada Syafruddin supaya provinsi Acheh segera didirikan. (TEMPO, 19 Disember 1999).

 

Semenjak itu, Acheh resmi menjadi salah satu provinsi di bawah kerajaan RIS –walau pun Acheh bukan salah satu daripada 16 negara bahagian– yang menerima jatah kedaulatan dari Belanda kepada RIS pada 27 Desember 1949. Goal! Posisi (0-6) untuk kemenangan pemerintah pusat Indonesia. Nyatanya, prosedur penbentuan provinsi Acheh dan status Tengku Muhd. Daud Beureuéh dianggap illegal, kerana belum mendapat restu dari kerajaan pusat RIS. Oleh itu, Perdana Menteri Abdul Halim (21 Januari-6 September 1950), perintahkan Susanto Tirtoprodjo (Menteri dalam negera) berangkat ke Acheh untuk memberitahu hal tersebut. Provinsi Acheh akhirnya dibubarkan oleh Kabinet Abdul Halim dan dijebloskan kedalam Provinsi Sumatera Utara dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU) Nomor 5 Tahun 1950, ditanda tangani oleh Mr. Asaat (Presiden RI) dan Menteri Dalam Negeri Mr. Susanto Tirtoprodjo. Tengku M. Daud Beureuéh tidak sadar kala itu, kalau jawatan gubenur sivil Acheh (1949-1950) merupakan umpan pemerintah RIS untuk memerangkap, sekali gus melucuti kekuatannya sebagai gubernur militer. Goal! Posisi (0-7) untuk kemengan pemerintah pusat Indonesia. Tidak lama kemudian, RIS mengeluarkan Undang-Undang Darurat No. 11 tahun 1950 dan Peraturan Pemerintah No. 21/1950 tentang penubuhan sepuluh propinsi di wilayah Indonesia –tidak termasuk Acheh– dan diumumkan pembentukan NKRI pada 15 Ogos 1950. Sesudah kehilangan segala-galanya, Tengku M. Daud Beureuéh dijebloskan kedalam Departemen Dalam Negeri di Jakarta dan diangkat menjadi anggota DPR pusat tahun 1950. ”Nasib ni gegerip ijemur ku lao” (nasib nasi kerak dijemur pada sinar matahari). Semoga engkau bahagia dan damai disana, Tengku. Aaamiiin ya Rabb!

 

 

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update