Notification

×

Iklan

Iklan

Acheh pada gilirannya dihimpit oleh multi kekuatan Eropah –Belanda, Inggeris, Perancis,

Khamis, 13 November 2025 | November 13, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-13T13:13:00Z

 


Semasa Sultan Ali Mughayatsyah (periode: 1514-1530), Acheh mulai memugar hubungan persahabatan dan diplomatik dengan Khalifah Usmaniah Turki. Pada masa yang sama, Acheh terlibat dalam menentang kuasa kolonial Portugis di Melaka, yang sejak tahun 1511 ditakluki. Kala itu pula „Sultan Ala ad-Din Riayatsyah dan Iskandar Muda yang dikenal pasti sebagai raja-raja pertama di Timur Jauh yang melakukan hubungan diplomatik dengan orang Barat. Seiring dengannya, Acheh memperluas wilayah imperium hingga ke Pariaman, Sumatera Barat; Sungai Kampar, Sumatera bagian Timur; maksudnya untuk menghadang Portugis merambah masuk ke Sumatera, sekaligus membangun benteng pertahanan militer supaya  Portugis tidak sewenang-wenang menguasai Sumatera. Bahkan, ketika Sultan Iskandar Muda memerintah (1607-1636), Acheh meluaskan lagi wilayah takluknya hingga ke seluruh Sumatera, Jawa Barat, Borneo Barat dan Semenanjung Tanah Melayu sebagai upaya untuk menjalin ikatan persaudaraan sesama masyarakat muslim di kawasan dunia Melayu.


Selain itu, sejak abad ke-16-17, kerajaan Acheh sudah menempatkan kaum wanita dalam Parlemen dan dipastikan 16 orang (Si Njak Bunga, Si Khalifah, Si Sanah, Si Njak Bunga, Munabinah, Siti Cahaya, Makhiyah, Si Manyak Puan, Sri Dewa, Si Jibah, Uli Puan, Siti Awan, Si Njak Angka, Si Njak Tampli, Si Mawar dan Si Manis) dari 73 anggota Parlemen Acheh adalah wanita.[1] Ini merupakan fakta dan khazanah penting dalam tamadun sejarah Melayu bahwa, Acheh adalah sejak awal lagi sudah mencampakkan standard gender. Bahkan Acheh, walaupun pemerintahannya mengamalkan sistem monarchy, akan tetapi seorang kepala negara tidak mesti dipegang oleh hegemoni kaum lelaki. Wanita berhak menjadi pemimpin tertinggi negara (Sultanah) di lingkaran kekuasaan. Inilah yang berlaku di Acheh pada priode (1641-1699).


 Hamka, 1981, Dari Perbendaharaan Lama, Penerbit Pustaka Antara, hlm 247-248. Di antara anggota Parlemen Acheh terdapat beberapa wanita (Lihat: tulisan miring). Sahil, Bujang Jumaat, Ahmad Bungsu, Abdul Yatim, Abdurrasyid, Faimir Said, Iskandar, Ahmad Dewan, Mayor Thalib (asal Turki), Si Njak Bunga, Si Khalifah, Ahdal, Abdul Ghani, Abdul Majid, Si Sanah, Khoja Hamid (asal Turki), Isa, Hidayat, Si Njak Bunga, Munabinah, Siti Cahaya, Makhiyah, Si Bukih, Si Saman,  Ahmad Jamil, Bin Muhammad, Si Njak Ukat, Khoja Nasir (asal Turki), Si Manyak Puan, Abdul Wahid, Malik Saleh Samir, Khatib Mu’azhzham, Imam Mu’ahhan, Abdurrahman, Badai, Bujang Aransyah, Penghulu Muallim, Sri Dewa, Si Syahid, Si Banyak, (Tidak jelas….), Si Njak Reihi, Ahmad Ratib Si Minhan, Si Jibah, Mustafa, Si Syidin, Si Rajuna, Si Aman Khan, (dua orang jelas namanya), Khoja Rahsia (asal Turki), Badai ’Atuq, Uli Puan, Siti Awan, Si Njak Angka, Si Aman, Si Njak Tampli, Abdul Muqim, Si Mawar, Si Manis, Abdul Majid, Ibrahim, Abdullah, Umar, Abdurrahim, Muhyiddin, Harun Abdul Muthalib.

 

Dalam bidang pertahanan keamanan geo-politik Dunia Melayu misalnya, kekuatan Armada Laut Acheh pada masa itu “... memiliki lebih dari 500 buah kapal layar dan 100 buah kapal galley berukuran besar yang ditempatkan selain di Pelabuhan Bandar Acheh Darussalam juga pada beberapa pelabuhan besar lainnya seperti Daya dan Pedir. Kapal-kapal galley tersebut dapat mengangkut 600 hingga 800 orang penumpang. Di antara kapal-kapal itu ada yang besarnya melebihi dari kapal-kapal yang miliki dan diproduksi di negara-negara Eropa pada masa


Hamka, 1981, Dari Perbendaharaan Lama, Penerbit Pustaka Antara, hlm 247-248. Di antara anggota Parlemen Acheh terdapat beberapa wanita (Lihat: tulisan miring). Sahil, Bujang Jumaat, Ahmad Bungsu, Abdul Yatim, Abdurrasyid, Faimir Said, Iskandar, Ahmad Dewan, Mayor Thalib (asal Turki), Si Njak Bunga, Si Khalifah, Ahdal, Abdul Ghani, Abdul Majid, Si Sanah, Khoja Hamid (asal Turki), Isa, Hidayat, Si Njak Bunga, Munabinah, Siti Cahaya, Makhiyah, Si Bukih, Si Saman,  Ahmad Jamil, Bin Muhammad, Si Njak Ukat, Khoja Nasir (asal Turki), Si Manyak Puan, Abdul Wahid, Malik Saleh Samir, Khatib Mu’azhzham, Imam Mu’ahhan, Abdurrahman, Badai, Bujang Aransyah, Penghulu Muallim, Sri Dewa, Si Syahid, Si Banyak, (Tidak jelas….), Si Njak Reihi, Ahmad Ratib Si Minhan, Si Jibah, Mustafa, Si Syidin, Si Rajuna, Si Aman Khan, (dua orang jelas namanya), Khoja Rahsia (asal Turki), Badai ’Atuq, Uli Puan, Siti Awan, Si Njak Angka, Si Aman, Si Njak Tampli, Abdul Muqim, Si Mawar, Si Manis, Abdul Majid, Ibrahim, Abdullah, Umar, Abdurrahim, Muhyiddin, Harun Abdul Muthalib.


itu.”[1] Lebih jauh dikatakan: “kapal-kapal Galley Acheh berukuran 60 - 70 ton baik kapal dagang maupun kapal perang/galley yang dapat berlayar melintasi muara sungai Acheh menuju Pelabuhan. Kerajaan Acheh memiliki angkatan perang yang amat kuat menurut ukuran masa itu, mengandalkan pada kapal-kapal galley dan pasukan gajah yang dipunyai oleh angkatan darat.”[2] Disebutkan juga bahwa ”kapal-kapal itu juga tersedia tempat-tempat menembak di haluan depan yang dilapisi dengan kepingan-kepingan emas murni yang pada waktu itu banyak terdapat di Bandar Acheh Darussalam.”[3] Sementara itu, Augustin de Beulieu yang pernah mengunjungi Acheh pada tahun 1621 menyaksikan dan mengaku bahwa ”terdapat 2.000 pucuk meriam yang terdiri dari 1.200 pucuk meriam berkaliber sedang dan 800 berkaliber besar, kesemuanya terbuat dari perunggu.”[4] Itu sebabnya, Acheh dipandang perlu dan penting diikut sertakan dalam Fakta Pertahanan Dunia Islam’ yang terdiri dari lima negara, yaitu Turki, Marokko, Isfahan dan Agra yang dikenal pasti sebagai pembina sejarah besar yang berjaya pada abad ke-16.”[5]

 

Wabil khusus semasa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda bermula pada 4 April 1607, pasca wafatnya Sultan Ali Riayat Syah. Semasa kepemimpinannya, berhasil mempersatukan negeri-negeri di kawasan Dunia Melayu untuk melawan bangsa asing. Wilayah kekuasaan Kesultanan Acheh pada periode Sultan Iskandar Muda bertambah luas, mencakupi seluruh Sumatera, Pulau Jawa bagian Barat, Borneo bagian Barat dan Tanah Semenjung Malaysia. Di bawah kepemimpinannya, perekonomian Acheh maju, karena perdagangan yang bersumber dari pelbagai sektor. Pada masa yang sama, Selat Melaka berada di bawah pengawalan Sultan Acheh. Oleh itu, beliau membebankan pajak bagi kapal-kapal asing yang melintasi Selat Melaka. Dari pendapatan tersebut, Acheh selain mamu mengembangkan perekonomian, juga memajukan sektor pilitik, penegakan hukum dan kekuatan militer.


 Teuku Rahmadi, 16 Mei 2020, catatan tentang Pendapat Para Tokoh Dan Sejarahwan Dunia Tentang Armada Kapal Angkatan Laut Kerajaan Acheh Darussalam. Atjeh Gallery, facebook.  Teuku Rahmadi mengutip pendapat Thomas Braddel dari Journal berjudul  On The History of Achen.

  Arun Kumar, 1962, Acheh in Indonesian Trade and Politics : 1600-1641, Tesis untuk meraih gelar PhD, Cornell University, hlm. 108.

   H Yule,  1993, On Northen Sumatera and Especially Achin, hlm. 72.

  Julius Jacobs, kisah perjalanan Agustin de Beaulieu ke Acheh, hml. 98. Baca juga: Tiele, Orang Eropa De di Kepulauan de Malaische, BKI. 35 (1886), hlm. 306 - 307.

 Wilfred Cantwell Smith, 1975, Islam in Modern History, London: Oxford, 




  Di mata masyarakat Internasional, Sumatera dan Selat Melaka merupakan kawasan paling strategis, karena dianggap satu-satunya laluan ataupun lintas perdagangan Internasional yang memudahkan hubungan antara dunia Barat dengan Timur. Oleh itu bangsa Eropah termasuk Amerika Serikat merasa berkepentingan di Acheh-Sumatera. Pada tahun 1802 misalnya, sebanyak 21 kapal dagang dari Boston, membeli Lada dari Acheh dan 31 kapal dagang USA singgah ke pelabuhan di Sumatera.Menyusul kehadiran pedagang Inggeris dan Perancis ke Acheh. Sehubungan itu dalam konteks politik Internasional, situasi politik dan keamanan di Sumatera sangat bergantung kepada perubahan politik (perang Eropah) yang berlaku di Eropah di awal tahun 1800-an. Bagi Acheh, walaupun perang tersebut tidak berkaitan dengan status Acheh, akan tetapi konflik Internasional, tetap saja memberi kesan dan impak kepada perekonomian dan politik dalaman Acheh. Inggeris juga dipastikan menjalin hubungan perdagangan dengan Acheh sejak tahun 1805 lagi. Sehubungan itu, Cambell (1810), Lawrence (1811) dan Kapten John Canning (1814)

Lee Kam Hing, 1995, The Sultanate of Acheh - Relation with the British 1750-1824, Kuala Lumpur Oxpord University Press, Singapore Oxpord New York, hlm 103.

 

Sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat, Acheh memiliki konstitusi yang mengatur segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Walaupun pemerintahan Acheh mengamalkan sistem monarchy, namun kuasa Sultan tidaklah bersifat otoritas mutlak seperti berlaku di Inggeris, dimana raja menetapkan hukum sesuka hati dan bersifat multak. Keadaan ini baru tamat setelah ’Magna Charta disepakati berlaku sebagai ’rule of law’ dalam konstitusi Inggeris pada tahun 1215. Acheh di bawah pemerintahan Sultan, menganut sistem Pemerintahan yang  tunduk kepada konstitusi (’constitutional monarchy’), yaitu pemerintah yang mengatur negara wajib tunduk kepada ketentuan undang-undang tanpa pengecualian. Sultan tidak mempunyai kuasa mutlak. Kekuasaan dibagi kepada institusi terkait.  Artinya, selain meletakkan al-Qur’an, Hadits, Ijmak, qiyas dan Ijtihad



[1] Magna Charta ditandatangani tahun 1215, untuk mengakhiri kebijakan politik luar negeri dan pajak yang tinggi yang dikenakan oleh kerajaan Inggeris. Magna Charta dipinda semula tahun 1216, 1217 dan 1225, yang menegaskan bahwa negara mesti berdasarkan kepada rule of law , sekaligus menjadi dasar dari sistem common law di Inggeris. Lihat: Doris Mary Stenson, 2015, Magna Charta, English Great Charter, Encyclopædia Britannica (Magna Charta England (1215).

  Constitutional monarchy yang dimaksud disini adalah seluruh warganegara Acheh wajib taat kepada al-Qur’an, Hadits, Ijmak, qiyas dan Ijtihad sebagai dasar negara, sumber hukum tanpa kecuali dan kekuasaan dibagi kepada lembaga eksekutif, legislative (parlimen) dan yudikatif (Mahkamah Qadhi Malikul’adil) mengikut ketentuan Undang-undang.

 

Magna Charta ditandatangani tahun 1215, untuk mengakhiri kebijakan politik luar negeri dan pajak yang tinggi yang dikenakan oleh kerajaan Inggeris. Magna Charta dipinda semula tahun 1216, 1217 dan 1225, yang menegaskan bahwa negara mesti berdasarkan kepada rule of law , sekaligus menjadi dasar dari sistem common law di Inggeris. Lihat: Doris Mary Stenson, 2015, Magna Charta, English Great Charter, Encyclopædia Britannica (Magna Charta England (1215).

 

[1] Constitutional monarchy yang dimaksud disini adalah seluruh warganegara Acheh wajib taat kepada al-Qur’an, Hadits, Ijmak, qiyas dan Ijtihad sebagai dasar negara, sumber hukum tanpa kecuali dan kekuasaan dibagi kepada lembaga eksekutif, legislative (parlimen) dan yudikatif (Mahkamah Qadhi Malikul’adil) mengikut ketentuan Undang-undang.

 

sebagai dasar hukum negara; juga terdapat ketentuan yang membagi dan memisahkan antara kuasa Sultan (eksekutif) kuasa Parlimen (legeslatif) dan Qadhi malikul’adil (Yudikatif) dalam sistem birokrasi pemerintahan. Konstitusi (Meukuta Alam(landasan hukum mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara) disusun begitu lengkap, mulai dari pengaturan sektor pelayanan masyarakat sipil, sistem perundang-undangan (qanun, resam, adat-istiadat dan protokuler) sampai kepada pengaturan strategi militer. Misalnya prosedur memilih raja (pasal 1), Wazir Menteri-menteri (pasal 2), Qadhi malikul adil (pasal 3), Panglima perang dan  Hulubalang (pasal 4), Imam Mukim (pasal 5), Kepala Kampung (Keucik) (pasal 6), Wakil kepala kampung (pasal 7),  Imam rawatib (pasal 8), Tuha pheuët (pasal 9),  Syèh Islam mufti empat (4) Mazhab (pasal 10), Qadhi negara (pasal 11), Qadhi ma’dum (pasal 12), Laksamana kepala urusan militer darat dan laut (pasal 13), Syarat-syarat menjadi militer (pasal 14), Kurun Katibul Muluk/Setia usaha negara (pasal 15). Selain itu, pemerintah Acheh juga mempunyai undang-undang tentang pengaturan kapal-kapal



 Naskah Meukuta Alam (Konstitusi Negara Acheh) yang disalin semula oleh Said Abdullah Di Meulek yang dilantik menjadi Wazir Rama Setia Keurukon Kitabul Muluk (Menteri Sekretaris Negara) pada masa Sultan Ibrahim Alaiddin Mansursyah memerintah (1838-1870). Jabatan itu dipegangnya hingga masa pemerintahan Sultan Alaiddin Mahmud Syah (1870-1874). Pada masa perang Acheh melawan Belanda, dilantik sebagai Wakil Panglima Besar Perang Acheh dengan pangkat Letnan Jenderal. Said Abdullah Di Meulek banyak menulis naskah-naskah kerajaan Acheh, disimpan dalam Darul Asar (Mezium) kerajaan Acheh yang letaknya berdekatan Masjid Baiturrahim dalam Kawasan Istana Daruddunia yang hangus dibakar selama perang menentang Belanda. Manuskrip Meukuta Alam, koleksi arsip Perpustakaan Tun Seri Lanang, Universitas Kebangsaan Malaysia, hlm. 13.

 

 Tata cara pemilihan Keuchik/Geucik (Kepala Kampung) dan syarat-syarat mengikut qanun ‘Meukuta Alam’. Qanun syara’ negara menetapkan syarat-syarat kepada sekalian rakyat Acheh Timur, Barat, Selatan dan Utara pada tiap-tiap kampung, hendaklah memilih Keuchik (Kepala Kampung), yaitu  mengadakan musyawarah mufakat mengambil satu keputusan yang tertib dengan sahih sah ijma’ mufakat, sekalian dipilih seorang buat jadi dilantik menjadi Kepala Kampung, Sagi masing-masing kampung bermusyawarah di Meunasah (Surau), dengan memenuhi syarat: Pertama, berumur sekurang-kurangnya empat puluh tahun. Kedua, paham hukum saya’, syari’at Nabi Sallallhua’laihiwasalam. Ketiga, mengetahui qanun syara’ kerajaan. Ke-empat, orang yang berketurunan baik. Kelima, tidak ada menimbulkan permusuhan. Ke-enam, berani atas yang benar. Ketujuh, takut atas perbuatan salah. lihat: Meukeuta Alam, koleksi arsip Perpustakaan Tun Seri Lanang, Universitas Kebangsaan Malaysia,

 

Meukuta Alam, disalin dari teks tulisan huruf Jawi kepada teks huruf Romawi (bahasa Melayu) oleh Teuku Muttaqin Mansur (calon Phd. pada Fakultas Perundangan, Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM).

 

 Naskah Meukuta Alam (Konstitusi Negara Acheh) yang disalin semula oleh Said Abdullah Di Meulek yang dilantik menjadi Wazir Rama Setia Keurukon Kitabul Muluk (Menteri Sekretaris Negara) pada masa Sultan Ibrahim Alaiddin Mansursyah memerintah (1838-1870). Jabatan itu dipegangnya hingga masa pemerintahan Sultan Alaiddin Mahmud Syah (1870-1874). Pada masa perang Acheh melawan Belanda, dilantik sebagai Wakil Panglima Besar Perang Acheh dengan pangkat Letnan Jenderal. Said Abdullah Di Meulek banyak menulis naskah-naskah kerajaan Acheh, disimpan dalam Darul Asar (Mezium) kerajaan Acheh yang letaknya berdekatan Masjid Baiturrahim dalam Kawasan Istana Daruddunia yang hangus dibakar selama perang menentang Belanda. Manuskrip Meukuta Alam, koleksi arsip Perpustakaan Tun Seri Lanang, Universitas Kebangsaan Malaysia, hlm. 13.

 

[1] Tata cara pemilihan Keuchik/Geucik (Kepala Kampung) dan syarat-syarat mengikut qanun ‘Meukuta Alam’. Qanun syara’ negara menetapkan syarat-syarat kepada sekalian rakyat Acheh Timur, Barat, Selatan dan Utara pada tiap-tiap kampung, hendaklah memilih Keuchik (Kepala Kampung), yaitu  mengadakan musyawarah mufakat mengambil satu keputusan yang tertib dengan sahih sah ijma’ mufakat, sekalian dipilih seorang buat jadi dilantik menjadi Kepala Kampung, Sagi masing-masing kampung bermusyawarah di Meunasah (Surau), dengan memenuhi syarat: Pertama, berumur sekurang-kurangnya empat puluh tahun. Kedua, paham hukum saya’, syari’at Nabi Sallallhua’laihiwasalam. Ketiga, mengetahui qanun syara’ kerajaan. Ke-empat, orang yang berketurunan baik. Kelima, tidak ada menimbulkan permusuhan. Ke-enam, berani atas yang benar. Ketujuh, takut atas perbuatan salah. lihat: Meukeuta Alam, koleksi arsip Perpustakaan Tun Seri Lanang, Universitas Kebangsaan Malaysia,


Meukuta Alam, disalin dari teks tulisan huruf Jawi kepada teks huruf Romawi (bahasa Melayu) oleh Teuku Muttaqin Mansur (calon Phd. pada Fakultas Perundangan, Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM).


dagang asing yang melintas wilayah perairan Acheh, harga barang makanan. Melalui Meukuta Alam, Sultan Acheh dijelaskan secara terperinci dalam wasiat yang terdiri dari 21 ketetapan. Preamble Meukuta Alam diawali dengan lafaz Bismillahirrahmanirrahim dan shalawat serta salam atas junjungan alam penghulu segala ambiya dan rasul ‘alaihi shalatuwassalam. Model mukadimah Meukuta Alam diadopsi oleh konstitusi negara Brunei Darussalam.Ternyata Konstiusi negara Swissland dimulai dengan In the name of Almighty God.


 Manuskrip naskah Acheh tentang Hukum Laut Acheh. Simpanan koleksi arsip Perpustakaan Tun Seri Lanang, Universitas Kebangsaan Malaysia,  Bangi, Selangor Darul Ehsan, hlm. 11.

 

Sebagian dari Naskah Meukuta Alam yang diterjemahkan kedalam Bahasa Melayu oleh Tan Sri Sanusi Juned, blog Sanusi Juned. my.com.

  Teks Meukuta Alam, manuskrip naskah Acheh, simpanan koleksi Arsip Perpustakaan Tun Seri Lanang, Universitas Kebangsaan Malaysia,  Bangi, hlm. 1.

  Teks Mukadimah Perlembagaan Brunei Darussalam, 1959. Lihat: Negara Brunei Darussalam Dokumen-dokumen negara. Semua amandemen sebelum tahun 2008 telah dimasukkan. Dikeluarkan resmi oleh penerbitan negara Brunei Darussalam.

 Teks Federal Constitution of the Swiss Confederation (pasal 197), 18 Desember 1998, berkuatkuasa pada 18 April 1999. Lihat: The Federal Constitutional of the Swiss Confederation of 18 April 1999, Merriam Webster Dictionary.

 

Pada pandangan umum, perang fisik yang melibatkan dua atau multi kekuatan negara dalam peperangan yang panjang sudah tentu akan menimbulkan kecemasan, ketidak stabilan keamanan, politik, ekonomi, sosial budaya dan hukum; yang efeknya dirasakan langsung oleh masyarakat. Perang, bahkan dapat meredupkan semangat hidup, mematikan kreativitas berfikir dan membekukan aktivitas kajian-kajian ilmiah tentang agama, sastera dan pembinaan tamadun menjadi tiada bergairah. Bagi Acheh, pandangan umum ini tidak sepenuhnya benar; oleh karena selama beberapa abad lamanya Acheh terlibat dalam peperangan menentang kekuatan asing, seperti Portugis dan Belanda; ternyata pada masa yang sama pula pemerintah negara Acheh Darussalam mendorong, merangsang dan menyemarakkan kajian-kajian tentang sastera Melayu dan Islam,


Bahkan menghasilkan pemikir-pemikir Islam dan sasterawan Melayu ternama, seperti Sjèh Jacoeb Al-Singkili (1693), pengarang Kitab Mi’raj Al Tulabb Fi Fashil, Ma’rifat Al-Ahkama’sh-shayyah Li Mali Al Wahab dan Umdat Al Muhtajim; … Syamsuddin Sumaterani (1630), pengarang Kitab Mi’raja Al-Muhakikin Al-Iman (Mufti Besar semasa Iskandar Muda memerintah); … Nuruddin Arraniri (1658), pengarang buku Sirat- Almustaqim, Butanus- Alsalatin; … Hamzah Fansuri (1575-1625), pengarang buku Tabyan Fi Ma’rifati Al-Adyan dan Tun Seri Lanang (1580-1615) yang menulis sastera Salatus Salatin. Karya-karya mereka digunakan sebagai rujukan ilmu pengetahuan agama, sastera dan tasawwuf; bahkan terjadi reformasi dan ledakan berfikir yang berani merubah kelaziman ataupun kaedah kepemimpinan (Imamah) dalam tradisi ketatanegaraan Islam dari hegemoni kekuasaan kaum lelaki (Sultan) kepada kepemimpinan wanita (Sultanah) di Acheh –Sultanah Safiatuddin, Zakiatuddin, Naqiatuddin dan Keumalat Syah– yang  berlangsung selama 59 tahun lamanya (1641-1699). Dalam konteks inilah dikatakan tiada warisan harta yang ditinggalkan oleh  Rasulullah  Muhammad  SAW  kepada  umatnya.  Baginda mewariskan  Sunnah dalam bentuk ilmu pengetahuan dan  amalan sebagai pelita penerang   menapaki kehidupan dunia menuju akhirat. Rasulullah SAW bersabda :  “Barangsiapa  menempuh  jalan  untuk  mencari  ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.  Dan sungguh para malaikat melingkupkan sayap-sayapnya kepada para penuntut ilmu karena ridho terhadap apa yang mereka  perbuat.  Dan  sungguh  seorang  yang  berilmu senantiasa  dimintakan  ampunan  untuknya  oleh  semua penduduk  langit  dan  bumi,  bahkan  hingga  ikan-ikan  di lautan.” (HR Abu Daud dan Tirmizi). Jadi, apapun alasannya, yang pasti Acheh memang berperan aktif, gigih membangun tamadun Melayu dan Islam, sekaligus mendudukkan Acheh; selain sebagai pusat perdagangan, juga menjadi pusat kajian peradaban Melayu dan Islam di Asia Tenggara. Selain itu, menyemarakkan transaksi lintas dagang ekonomi serantau. Buktinya, hubungan perdagangan antara „Acheh-Pulau Penang sangat  menyemarakkan interaksi sosial dan lintas dagang antara masyarakat di kawasan dunia Melayu serta menghidupkan identitas masyarakat Melayu.” Pelbagai jenis barang dagang „diimport dari Acheh ke Penang dan dieksport dari Penang ke Acheh. Demikian pula barang perhiasan yang dibuat dengan teknik mencungkil yang „menghasilkan perhiasan berukiran

 Yusra Habib Abdul Ghani, 2000, Mengapa Sumatera Menggugat, penerbit Biro Penerangan Acheh-Sumatera Merdeka National Leberation Front, hlm. 28.

 

Wawancara dengan Adli Abdullah, calon PhD pada fakultas sejarah, Universitas Sains Malaysia (USM) Pulau Penang, yang menulis tentang sejarah hidup Tun Sri Lanang, 27 November 2015, UKM Bangi Malaysia.

 ] Dr. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, 2012, Diskusi kebudayaan yang diselenggarkan oleh International Centre for Acheh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), Banda Acheh.

 

 Lee Kam Hing, 1995, The Sultanate of Acheh, Relations with the British 1760-1824, Oxford University Press, Singapore Oxford New York, emas, dimana motifnya dipengaruhi oleh peradaban Acheh, India dan Turki turut diperdagangkan.” Karya Acheh lainnya adalah memproduksi meriam pada abad ke-16-19.” Banyak bukti sejarah „yang menunjukkan jasa Acheh dalam membina identitas Melayu, termasuk berjasa dalam penyusunan Kamus bahasa Melayu buat pertama kalinya. Namun kemudian, orang Acheh tidak mampu bertahan dan mengembangkan, terjadi kemerosotan karya-karya sastera Melayu dan Islam serta seni ukir ini, oleh karena Acheh terlibat dalam perang menentang Belanda dan Jepang, sehingga kecemerlangan tadi terkendala. „Pada hal Acheh diakui sebagai pusat Islam dan tamadun Melayu di kepulauan Melayu selama lima abad lamanya.

 Nia Deliana, 2012, Warisan Leluhur Acheh Di Nusantara, Serambi Indonesia, 2012, 10 Agustus.

 

Acheh pada gilirannya dihimpit oleh multi kekuatan Eropah –Belanda, Inggeris, Perancis, termasuk Amerika Serikat– bersekongkol menjatuhkan kesultanan Acheh Darussalam sejak separuh awal abad ke-18. Belanda melancarkan perang terhadap kesultanan Acheh Darussalam pada tahun 1873–1942, disusul pendudukan Jepang (1942-1945) dan klimaknya dijajah oleh Indonesia dengan cara pengalihan kuasa sivil dan militer yang illegal. Sebetulnya pangalaman Acheh yang tragis  dari sebuah negara merdeka dan berdaulat menjadi sebuah Provinsi di wilayah NKRI, pernah juga dirasakan juga oleh negara sahabat Acheh yang suatu ketika dahulu bergabung dalam fakta pertahanan lima negara dunia Islam pada abad ke-16-17 –Turki , Marokko, Isfahan dan Agra– yang terpaksa kehilangan wilayah berdaulat akibat diserang, sekaligus dijajah oleh kekuatan politik dan militer Eropah. Hanya saja mereka lebih bernasib baik berbanding Acheh. Turki misalnya, walaupun terpaksa kehilangan 80% wilayah imperiumnya (wilayah imperium kerajaan Rum) dan wilayah Timur Tengah melalu Perjanjian Sevres, seperti wilayah Hijaj (Mekkah dan Madinah), Armenia, Anatolia dan Sakaria (Izmir) dan wilayah lainnya, sebagai imbas dari kekalahan dalam pertarungan kekuatan militer dan politik semasa perang Dunia pertama melawan kekuatan bersekutu Eropah. Namun begitu Tukri mampu menyelamatkan kembali wilayah berdaulatnya yang hilang

 

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update