Selain itu, sejak abad ke-16-17, kerajaan Acheh sudah menempatkan kaum wanita dalam
Parlemen dan dipastikan 16 orang (Si Njak Bunga, Si Khalifah, Si Sanah, Si Njak Bunga, Munabinah, Siti Cahaya, Makhiyah, Si
Manyak Puan, Sri Dewa, Si Jibah, Uli Puan, Siti
Awan, Si Njak Angka, Si Njak Tampli, Si Mawar dan Si Manis) dari 73 anggota Parlemen Acheh adalah wanita.[1] Ini merupakan fakta dan khazanah
penting dalam tamadun sejarah Melayu bahwa, Acheh adalah sejak awal lagi sudah
mencampakkan standard gender. Bahkan Acheh, walaupun pemerintahannya
mengamalkan sistem monarchy, akan
tetapi seorang kepala negara tidak mesti dipegang oleh hegemoni kaum lelaki.
Wanita berhak menjadi pemimpin tertinggi negara (Sultanah) di lingkaran
kekuasaan. Inilah yang berlaku di Acheh pada priode (1641-1699).
Hamka, 1981, Dari Perbendaharaan Lama, Penerbit Pustaka
Antara, hlm 247-248. Di antara anggota Parlemen Acheh terdapat beberapa wanita
(Lihat: tulisan miring). Sahil, Bujang Jumaat, Ahmad Bungsu, Abdul Yatim,
Abdurrasyid, Faimir Said, Iskandar, Ahmad Dewan, Mayor Thalib (asal Turki), Si
Njak Bunga, Si Khalifah, Ahdal, Abdul Ghani, Abdul Majid, Si Sanah,
Khoja Hamid (asal Turki), Isa, Hidayat, Si Njak Bunga, Munabinah, Siti
Cahaya, Makhiyah, Si Bukih, Si Saman,
Ahmad Jamil, Bin Muhammad, Si Njak Ukat, Khoja Nasir (asal Turki), Si
Manyak Puan, Abdul Wahid, Malik Saleh Samir, Khatib Mu’azhzham, Imam
Mu’ahhan, Abdurrahman, Badai, Bujang Aransyah, Penghulu Muallim, Sri Dewa,
Si Syahid, Si Banyak, (Tidak jelas….), Si Njak Reihi, Ahmad Ratib Si Minhan, Si
Jibah, Mustafa, Si Syidin, Si Rajuna, Si Aman Khan, (dua orang jelas
namanya), Khoja Rahsia (asal Turki), Badai ’Atuq, Uli Puan, Siti Awan, Si
Njak Angka, Si Aman, Si Njak Tampli, Abdul Muqim, Si Mawar, Si
Manis, Abdul Majid, Ibrahim, Abdullah, Umar, Abdurrahim, Muhyiddin, Harun
Abdul Muthalib.
itu.”[1]
Lebih jauh dikatakan: “kapal-kapal Galley Acheh berukuran 60 - 70 ton baik
kapal dagang maupun kapal perang/galley yang dapat berlayar melintasi muara
sungai Acheh menuju Pelabuhan. Kerajaan Acheh memiliki angkatan perang yang
amat kuat menurut ukuran masa itu, mengandalkan pada kapal-kapal galley dan
pasukan gajah yang dipunyai oleh angkatan darat.”[2]
Disebutkan juga bahwa ”kapal-kapal itu juga tersedia tempat-tempat menembak
di haluan depan yang dilapisi dengan kepingan-kepingan emas murni yang pada
waktu itu banyak terdapat di Bandar Acheh Darussalam.”[3] Sementara
itu, Augustin de Beulieu yang pernah mengunjungi Acheh pada tahun 1621
menyaksikan dan mengaku bahwa ”terdapat 2.000 pucuk meriam yang terdiri dari
1.200 pucuk meriam berkaliber sedang dan 800 berkaliber besar, kesemuanya
terbuat dari perunggu.”[4]
Itu sebabnya, Acheh
dipandang perlu dan penting diikut sertakan dalam „Fakta
Pertahanan Dunia Islam’ yang terdiri dari lima negara, yaitu Turki, Marokko,
Isfahan dan Agra yang dikenal pasti sebagai pembina sejarah besar yang berjaya
pada abad ke-16.”[5]
Wabil
khusus semasa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda bermula pada 4 April 1607,
pasca wafatnya Sultan Ali Riayat Syah. Semasa kepemimpinannya, berhasil
mempersatukan negeri-negeri di kawasan Dunia Melayu untuk melawan bangsa asing. Wilayah kekuasaan Kesultanan Acheh pada periode Sultan
Iskandar Muda bertambah luas, mencakupi seluruh Sumatera, Pulau Jawa bagian
Barat, Borneo bagian Barat dan Tanah Semenjung Malaysia. Di bawah
kepemimpinannya, perekonomian Acheh maju, karena perdagangan yang bersumber
dari pelbagai sektor. Pada masa yang sama, Selat Melaka berada di bawah
pengawalan Sultan Acheh. Oleh itu, beliau membebankan pajak bagi kapal-kapal
asing yang melintasi Selat Melaka. Dari pendapatan tersebut, Acheh selain mamu
mengembangkan perekonomian, juga memajukan sektor pilitik, penegakan hukum dan
kekuatan militer.
Teuku Rahmadi, 16 Mei 2020, catatan tentang Pendapat Para Tokoh Dan Sejarahwan Dunia
Tentang Armada Kapal Angkatan Laut Kerajaan Acheh Darussalam. Atjeh Gallery,
facebook. Teuku Rahmadi mengutip pendapat Thomas Braddel dari Journal berjudul On The History of Achen.
Arun Kumar, 1962, Acheh in Indonesian Trade and Politics : 1600-1641, Tesis untuk meraih gelar PhD, Cornell University, hlm. 108.
H Yule, 1993, On Northen Sumatera and Especially Achin, hlm. 72.
Julius Jacobs, kisah perjalanan Agustin de Beaulieu ke Acheh, hml. 98. Baca juga: Tiele, Orang Eropa De di Kepulauan de Malaische, BKI. 35 (1886), hlm. 306 - 307.
Lee Kam Hing,
1995, The Sultanate of Acheh - Relation
with the British 1750-1824, Kuala Lumpur Oxpord University Press, Singapore
Oxpord New York, hlm 103.
Sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat, Acheh memiliki konstitusi yang mengatur segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Walaupun pemerintahan Acheh mengamalkan sistem monarchy, namun kuasa Sultan tidaklah bersifat otoritas mutlak seperti berlaku di Inggeris, dimana raja menetapkan hukum sesuka hati dan bersifat multak. Keadaan ini baru tamat setelah ’Magna Charta’ disepakati berlaku sebagai ’rule of law’ dalam konstitusi Inggeris pada tahun 1215. Acheh di bawah pemerintahan Sultan, menganut sistem Pemerintahan yang tunduk kepada konstitusi (’constitutional monarchy’), yaitu pemerintah yang mengatur negara wajib tunduk kepada ketentuan undang-undang tanpa pengecualian. Sultan tidak mempunyai kuasa mutlak. Kekuasaan dibagi kepada institusi terkait. Artinya, selain meletakkan al-Qur’an, Hadits, Ijmak, qiyas dan Ijtihad
[1] Magna Charta
ditandatangani tahun 1215, untuk mengakhiri kebijakan politik luar negeri dan
pajak yang tinggi yang dikenakan oleh kerajaan Inggeris. Magna Charta dipinda semula tahun 1216, 1217 dan 1225, yang
menegaskan bahwa negara mesti berdasarkan kepada rule of law , sekaligus menjadi dasar dari sistem common law di Inggeris. Lihat: Doris Mary
Stenson, 2015, Magna Charta, English
Great Charter, Encyclopædia Britannica (Magna Charta England (1215).
Constitutional monarchy yang dimaksud disini adalah seluruh warganegara Acheh wajib taat kepada al-Qur’an, Hadits, Ijmak, qiyas dan Ijtihad sebagai dasar negara, sumber hukum tanpa kecuali dan kekuasaan dibagi kepada lembaga eksekutif, legislative (parlimen) dan yudikatif (Mahkamah Qadhi Malikul’adil) mengikut ketentuan Undang-undang.
Magna Charta
ditandatangani tahun 1215, untuk mengakhiri kebijakan politik luar negeri dan
pajak yang tinggi yang dikenakan oleh kerajaan Inggeris. Magna Charta dipinda semula tahun 1216, 1217 dan 1225, yang
menegaskan bahwa negara mesti berdasarkan kepada rule of law , sekaligus menjadi dasar dari sistem common law di Inggeris. Lihat: Doris Mary
Stenson, 2015, Magna Charta, English
Great Charter, Encyclopædia Britannica (Magna Charta England (1215).
[1]
Constitutional monarchy yang dimaksud
disini adalah seluruh warganegara Acheh wajib taat kepada al-Qur’an, Hadits,
Ijmak, qiyas dan Ijtihad sebagai dasar negara, sumber hukum tanpa kecuali dan
kekuasaan dibagi kepada lembaga eksekutif, legislative (parlimen) dan yudikatif
(Mahkamah Qadhi Malikul’adil) mengikut ketentuan Undang-undang.
Naskah Meukuta
Alam (Konstitusi Negara Acheh) yang disalin semula oleh Said Abdullah Di Meulek
yang dilantik menjadi Wazir Rama Setia Keurukon Kitabul Muluk (Menteri
Sekretaris Negara) pada masa Sultan Ibrahim Alaiddin Mansursyah memerintah
(1838-1870). Jabatan itu dipegangnya hingga masa pemerintahan Sultan
Alaiddin Mahmud Syah (1870-1874). Pada masa perang Acheh melawan Belanda,
dilantik sebagai Wakil Panglima Besar Perang Acheh dengan pangkat Letnan
Jenderal. Said Abdullah Di Meulek banyak menulis naskah-naskah kerajaan Acheh,
disimpan dalam Darul Asar (Mezium)
kerajaan Acheh yang letaknya berdekatan Masjid Baiturrahim dalam Kawasan Istana
Daruddunia yang hangus dibakar selama perang menentang Belanda. Manuskrip
Meukuta Alam, koleksi arsip Perpustakaan Tun Seri Lanang, Universitas
Kebangsaan Malaysia, hlm. 13.
Tata
cara pemilihan Keuchik/Geucik (Kepala Kampung) dan syarat-syarat mengikut qanun
‘Meukuta Alam’. Qanun syara’ negara menetapkan syarat-syarat kepada sekalian
rakyat Acheh Timur, Barat, Selatan dan Utara pada tiap-tiap kampung, hendaklah
memilih Keuchik (Kepala Kampung), yaitu
mengadakan musyawarah mufakat mengambil satu keputusan yang tertib
dengan sahih sah ijma’ mufakat, sekalian dipilih seorang buat jadi dilantik
menjadi Kepala Kampung, Sagi masing-masing kampung bermusyawarah di Meunasah
(Surau), dengan memenuhi syarat: Pertama, berumur sekurang-kurangnya
empat puluh tahun. Kedua, paham hukum saya’, syari’at Nabi
Sallallhua’laihiwasalam. Ketiga, mengetahui qanun syara’ kerajaan. Ke-empat, orang yang berketurunan
baik. Kelima, tidak ada menimbulkan permusuhan. Ke-enam, berani
atas yang benar. Ketujuh, takut atas perbuatan salah. lihat: Meukeuta Alam, koleksi
arsip Perpustakaan Tun Seri Lanang, Universitas Kebangsaan Malaysia,
Meukuta Alam, disalin dari teks tulisan huruf Jawi kepada teks huruf
Romawi (bahasa Melayu) oleh Teuku Muttaqin Mansur (calon Phd. pada Fakultas
Perundangan, Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM).
[1] Tata
cara pemilihan Keuchik/Geucik (Kepala Kampung) dan syarat-syarat mengikut qanun
‘Meukuta Alam’. Qanun syara’ negara menetapkan syarat-syarat kepada sekalian
rakyat Acheh Timur, Barat, Selatan dan Utara pada tiap-tiap kampung, hendaklah
memilih Keuchik (Kepala Kampung), yaitu
mengadakan musyawarah mufakat mengambil satu keputusan yang tertib
dengan sahih sah ijma’ mufakat, sekalian dipilih seorang buat jadi dilantik
menjadi Kepala Kampung, Sagi masing-masing kampung bermusyawarah di Meunasah
(Surau), dengan memenuhi syarat: Pertama, berumur sekurang-kurangnya
empat puluh tahun. Kedua, paham hukum saya’, syari’at Nabi
Sallallhua’laihiwasalam. Ketiga, mengetahui qanun syara’ kerajaan. Ke-empat, orang yang berketurunan
baik. Kelima, tidak ada menimbulkan permusuhan. Ke-enam, berani
atas yang benar. Ketujuh, takut atas perbuatan salah. lihat: Meukeuta Alam, koleksi
arsip Perpustakaan Tun Seri Lanang, Universitas Kebangsaan Malaysia,
Meukuta
Alam, disalin dari teks tulisan huruf Jawi
kepada teks huruf Romawi (bahasa Melayu) oleh Teuku Muttaqin Mansur (calon Phd.
pada Fakultas Perundangan, Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM).
dagang asing yang melintas wilayah perairan Acheh, harga barang makanan. Melalui Meukuta Alam, Sultan Acheh dijelaskan secara terperinci dalam wasiat yang terdiri dari 21 ketetapan. Preamble Meukuta Alam diawali dengan lafaz Bismillahirrahmanirrahim dan shalawat serta salam atas junjungan alam penghulu segala ambiya dan rasul ‘alaihi shalatuwassalam. Model mukadimah Meukuta Alam diadopsi oleh konstitusi negara Brunei Darussalam.Ternyata Konstiusi negara Swissland dimulai dengan In the name of Almighty God.
Manuskrip
naskah Acheh tentang Hukum Laut Acheh. Simpanan koleksi arsip Perpustakaan Tun
Seri Lanang, Universitas Kebangsaan Malaysia,
Bangi, Selangor Darul Ehsan, hlm. 11.
Sebagian
dari Naskah Meukuta Alam yang diterjemahkan kedalam Bahasa Melayu oleh Tan Sri
Sanusi Juned, blog Sanusi Juned. my.com.
Teks Meukuta Alam, manuskrip naskah Acheh, simpanan koleksi Arsip Perpustakaan Tun Seri Lanang, Universitas Kebangsaan Malaysia, Bangi, hlm. 1.
Teks Mukadimah Perlembagaan Brunei Darussalam, 1959. Lihat: Negara Brunei Darussalam Dokumen-dokumen negara. Semua amandemen sebelum tahun 2008 telah dimasukkan. Dikeluarkan resmi oleh penerbitan negara Brunei Darussalam.
Teks Federal Constitution of the Swiss Confederation (pasal 197), 18 Desember 1998, berkuatkuasa pada 18 April 1999. Lihat: The Federal Constitutional of the Swiss Confederation of 18 April 1999, Merriam Webster Dictionary.
Yusra Habib
Abdul Ghani, 2000, Mengapa Sumatera
Menggugat, penerbit Biro Penerangan Acheh-Sumatera Merdeka National
Leberation Front, hlm. 28.
Wawancara dengan Adli Abdullah, calon PhD pada
fakultas sejarah, Universitas Sains Malaysia (USM) Pulau Penang, yang menulis
tentang sejarah hidup Tun Sri Lanang, 27 November 2015, UKM Bangi Malaysia.
] Dr. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, 2012, Diskusi kebudayaan yang diselenggarkan oleh International Centre for Acheh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), Banda Acheh.
Lee Kam Hing, 1995, The Sultanate of Acheh, Relations with the British 1760-1824, Oxford University Press, Singapore Oxford New York, emas, dimana motifnya dipengaruhi oleh peradaban Acheh, India dan Turki turut diperdagangkan.” Karya Acheh lainnya adalah „memproduksi meriam pada abad ke-16-19.” Banyak bukti sejarah „yang menunjukkan jasa Acheh dalam membina identitas Melayu,” termasuk berjasa dalam penyusunan Kamus bahasa Melayu buat pertama kalinya. Namun kemudian, orang Acheh tidak mampu bertahan dan mengembangkan, terjadi kemerosotan karya-karya sastera Melayu dan Islam serta seni ukir ini, oleh karena Acheh terlibat dalam perang menentang Belanda dan Jepang, sehingga kecemerlangan tadi terkendala. „Pada hal Acheh diakui sebagai pusat Islam dan tamadun Melayu di kepulauan Melayu selama lima abad lamanya.
Nia Deliana, 2012, Warisan Leluhur Acheh Di Nusantara, Serambi Indonesia, 2012, 10 Agustus.
Acheh pada
gilirannya dihimpit oleh multi kekuatan Eropah –Belanda, Inggeris, Perancis,
termasuk Amerika Serikat– bersekongkol menjatuhkan kesultanan Acheh Darussalam
sejak separuh awal abad ke-18. Belanda melancarkan perang terhadap kesultanan
Acheh Darussalam pada tahun 1873–1942, disusul pendudukan Jepang (1942-1945)
dan klimaknya dijajah oleh Indonesia dengan cara pengalihan kuasa sivil dan
militer yang illegal. Sebetulnya pangalaman Acheh yang tragis dari sebuah negara merdeka dan berdaulat
menjadi sebuah Provinsi di wilayah NKRI, pernah juga dirasakan juga oleh negara sahabat Acheh yang suatu
ketika dahulu bergabung dalam fakta pertahanan lima negara dunia Islam pada
abad ke-16-17 –Turki , Marokko, Isfahan dan Agra– yang terpaksa kehilangan
wilayah berdaulat akibat diserang, sekaligus dijajah oleh kekuatan politik dan
militer Eropah. Hanya saja mereka lebih bernasib baik berbanding Acheh. Turki
misalnya, walaupun terpaksa kehilangan 80% wilayah imperiumnya
(wilayah imperium kerajaan Rum) dan wilayah Timur Tengah melalu
Perjanjian Sevres, seperti wilayah Hijaj (Mekkah dan Madinah), Armenia,
Anatolia dan Sakaria (Izmir) dan wilayah lainnya, sebagai imbas dari kekalahan
dalam pertarungan kekuatan militer dan politik semasa perang Dunia pertama
melawan kekuatan bersekutu Eropah. Namun begitu Tukri mampu menyelamatkan
kembali wilayah berdaulatnya yang hilang



