Notification

×

Iklan

Iklan

Dalam perjalanan sejarah Acheh Darussalam, muncul beberapa organisasi pro-merdeka, seperti Majlis Permusyawaratan GAM (MP-GAM) dan Majlis GAM Eropah

Khamis, 13 November 2025 | November 13, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-13T13:26:13Z


 

-          pelbagai ragam ethnik di Acheh Darussalam sehingga hidup dalam sebuah negara yang situasi aman, damai dan harmonis.

-           Memiliki kecakapan melobi dan berdialog dengan bangsa luar. Dengan begitu Acheh berjaya menjadi salah satu negara yang tergabung Fakta Pertahanan Dunia Islam (The Big Fife Power of Islamic State) bersama Turki, Marokko, Isfahan dan Agra pada abad ke-16-17.

-          Para petinggi negara Acheh Darussalam mampu berkomunikasi dalam beberapa bahasa asing, seperti bahasa Melayu, Arab, Inggeris dan Perancis.

-          Memiliki keberanian menentang setiap format dan kaedah kolonialisme-imprealisme. Hal ini dibuktikan dengan aksi mengusir penjajah Portugis, Belanda dan penentangan terhadap hegemoni politik bangsa-bangsa Eropah dan Amerika yang saling berebut peluang menguasai perekonomian di Selat Melaka dan Sumatera.

-          Menjadi satau-satunya negara di kawasan dunia Melayu yang  memiliki kekuatan militer paling tangguh, disegani dan ditakuti oleh bangsa luar.

-          Mempunyai sifat melindungi, tidak memusuhi dan tidak pula menzalimi bangsa-bangsa yang bertetangga dengan Acheh Darussalam. Itu sebabnya ramai petinggi Acheh Darussalam menjadi panglima perang dan pejabat tinggi sipil di sebagian besar negeri-negeri Melayu Sumatera.

-          Memiliki kemampuan untuk menguasai atau pun memuaskan wilayah imperium kesultanan Acheh Darussalam hingga ke Borneo bagian Barat, Jawa bagian Barat, Tanah Semenanjung Malaysia dan Sumatera., Maksud dan tujuannya untuk mengeratkan hubungan persaudaraan sesama muslim, memperluas hegemoni politik, penyebaran atau syiar agama Islam.

-          Acheh Darussalam memiliki khazanah ilmuan dalam pelbagai bidang, sehingga menjadi pusat kajian tamadun Melayu dan Islam di kawasan dunia Melayu selama beberapa abad lamanya.

-          Cakap membangun dan menata perekonomian serantau, sehingga mampu membeli persenjataan dan kapal-kapal perang serta Kapal Induk dari negara luar dengan harga yang mahal sekalipun untuk mempertahankan kedaulatan kawasan Dunia Melayu dari serangan negara asing.

-          Terbuka dengan pergaulan masyarakat dunia global, selain menjalin hubungan persahabatan, perdagangan dan diplomatik dengan negara-negara Islam, juga menjalin hubungan diplomatik dengan negara non muslim –bangsa-bangsa eropah, Amerika Serikat dan China.

-          Memiliki rasa kesetia-kawanan dan persaudaraan yang amat kental kepada bangsa luar, seperti membantu dana perang kepada Turki saat berperang melawan Cremia, membeli dua Pesawat Udara kepada Indonesia untuk melancarkan diplomasi di luar negeri, termasuk memberi dana pemindahan Kantor Presiden RI dari Jogyakarta ke Jakarta tahun 1949, memberi ratusan kg. Emas; 38kg. Di antaranya diletakkan di Tugu Monas, Jakarta; memberi pengakuan kepada Belanda sebagai negara merdeka dan berdaulat pada tahun 1601 M, di saat negara-negara Eropah lain tidak berani berbuat, karena takut kepada kekuatan Spanyol pada dekade itu. Terakhir memberi pengakuan kepada Palestina sebagai negara merdeka dan berdaulat pada 27 November 2023, jauh sebelum 143 negara PBB memberi pengakuan kepada Palestian pada 10 Mei 2024, disusul kemudian oleh Spanyol, Irlandia dan Norwegia.

 

Sementara FAKTOR-FAKTOR YANG MENJADI PUNCA RUNTUHNYA KESULTANAN ACHEH DARUSSALAM DAN KEGAGALAN PERJUANGAN PENGEMBALIAN HAK KEMERDEKAAN DAN KEDAULATAN NEGARA ACHEH DARUSSALAM

-          PENGKHIANATAN Pang Tibang, bekas seorang pemain Sirkus berasal dari Tamil India, pada gilirannya dilantik oleh Sultan Mahmud Syah menjadi Kepala Duane/Bea-cukai Krueng Acheh, merangkap sebagai juru runding Acheh melawan Belanda di Perairan Selat Melaka dan Singapura, sebelum berlangsung perang antara Belanda dan Acheh Darussalam pada April 1873; … memberi maklumat dan memperlihatkan denah lokasi Istana Sultan Acheh Darussalam dan Masjid Baiturrahman kepada militer Belanda bagi memudahkan militer Belanda menyerang.

-          PENGKHIANATAN Habib Abdurrahman Zahir, berasal dari Hazarul Maut, Yaman; saat dia masih berada di Turki, dilantik oleh Sultan Mahmud Syah menjadi Duta Besar berkuasa penuh Acheh Darussalam antara tahun 1873-1878. Abdurrahman Zahir dipercayai telah melobi militer pihak militer Belanda, supaya boleh menduduki jabawan Wali Negara made-in Belanda menggantikan Sultan Mahmud Syah yang meninggal tahun 1874. Bagaimanapun usahanya tercium oleh pihak kerabat Sultan dan Petinggi Negara Acheh Darussalam. Koneksuensinya nafsu politik Abdurrahman Zahir berhasil dikekat. Apabila niatnya tidak tercapai, dia pun berpaling tadah untuk bergabung dengan militer Belanda. Pemerintah kolonial Belanda kemudian memberangkatkan Abdurrahman Zahir dengan kapal laut Belanda ke Arab Saudi. Dari Arab Saudi, atas nama Mangkubumi, dia memberi nasehat atau anak kunci tentang bagaimana strategi menakluki Acheh. Katanya: „orang Acheh itu gila uang, pangkat dan jabatan, oleh itu berikan kepadanya; beri gaji secukupnya (tidak berlebihan), sehingga selamanya mereka merasa ketergantungan kepada pemerintah, puji kinerja mereka biarpun tidak profesional, tanamkan fitnah di kalangan pegawai.“ Di atas jasanya, pemerintah Belanda memberi gaji 10.000 Golden per/bulan dan fasilitas seumur hidup kepadanya selama menetap di Arab Saudi.

-          PENGKHIANATAN oleh beberapa Ulèëbalang yang tinggal berdekatan dengan Camp Concentratie linie di Indrapuri, dengan cara menerima uang sogok dari serdadu Belanda (tahanan perang Acheh) yang terkurung selama 12 tahun (1884-1896) lamanya, supaya tidak melempari mereka dengan batu dan diberi izin untuk keluar di sekitar Camp. Sejak itu, tahanan perang ini merasa ada pihak Ulèëbalang yang mau membantu dan berpihak kepada mereka.

-          PENGKHIANATAN oleh seorang perempuan tukang masak, dengan cara membubuh racun kedalam makanan yang disenangi Tengku Thjik di Tiro Muhammad Saman hingga mati pada 31 Januari 1891. Selain itu, kejujuran, kebaikan hati, keikhlasan dan keagungan moral Tengku Thjik di Tiro Muhammad Saman dimanfaatkan oleh serdadu Belanda untuk membunuh beliau. Missi militer Belanda ini berhasil!

-          PERKHIANATAN segelintir Ulèëbalang terhadap negara Acheh Darussalam dengan cara menandatangani Kort Verklaring (Pernyataan Singkat). Ulèëbalang  Langsa  misalnya „menghadapi  tekanan  militer Belanda, pada akhirnya mengakui  kedaulatan  Hindia  Belanda  pada  12  Mei  1877. Setelah melalui perundingan dengan para pemimpin di daerahnya, maka pada  12  Mei,  dia  akhirnya  mengakui  kedaulatan  Hindia  Belanda.  Pada  18  Mei  1877,  Teuku  Chik  Bentara  Blang  melakukan  sumpah  setia kepada pemerintah Hindia Belanda. Kemudian dia berikrar lagi pada tahun 1891 yang tertuang  dalam  18  pasal  Verklaring,  diperpanjang  melalui  sebuah  Additioneele Verklaring  pada  7  Mei  1897  dan  diperbarui  melalui  Korte  Verklaring  pada  23  Januari  1900.“  {baca: Ahmad Muhajir, Langkah Politik Belanda di Acheh Timur: Memahami Sisi Lain Sejarah Perang Acheh, 1873-1912, Februari 2018} Di antara teks Kort Verklaring (Pernyataan Singkat) menyebut: „Para Ulèëbalang menyatakan taat-setia dan tunduk sepenuhnya tanpa syarat kepada Ratu Belanda sebagai pemimpin tertinggi.“ Selain itu disebut: „Seluruh nanggroë (setingkat Kecamatan) yang berada di bawah kuasa Ulèëbalang adalah juga wilayah berdaulat kerajaan Belanda.“ Yang paling biadab dari Kort Verklaring menyebut: „musuh Belanda (pejuang Acheh) adalah juga musuh Ulèëbalang.“ Na´uazubillahi mindhalik!

-          Tuanku Muhammad Daud Syah (Pemangku Sultan Acheh Darussalam) –pemimpin nasional Acheh Darussalam– menyerah kepada petinggi militer kolonial Belanda pada 20 Januari 1903. Walaupun beliau mengaku bahwa, beliau menyerah atas nama pribadi –bukan dalam kapasitas sebagai Pemangku Sultan Acheh Darussalam– karena  jabatan Sultan sudah pun lebih awal diserah pada tahun 1903 kepada Ulama dari famili di Tiro, yaitu Tengku Thjik Lambada (1899 -1904). Keputusan ini telah meruntuhkan semangat perlawanan bangsa Acheh menentang Belanda, terutama para petinggi negara Acheh Darussalam, seperti Teuku Panglima Polim, Tuanku Mahmud dan Tuanku Raja Keumala (Anggota Majlis Tertinggi Negara) yang kemudian mengikuti jejak Tuanku Muhammad Daud Syah –menyerah  kepada militer kolonial Belanda– pada tahun yang sama (1903), bahkan kemudian ketiga-tiganya (Teuku Panglima Polim, Tuanku Mahmud dan Tuanku Raja Keumala), nekad mengirim Surat Ajakan Turun Gunung kepada Tengku Mahyédin ti Tiro, (1907-1910).

-          Paska menyerah Tuanku Muhammad Daud Syah tahun 1903 dan mati syahid Tengku Ma´at di Tiro tahun 1911, maka Ulama Dayah dan anggota Majlis negara yang sudah menyerah massal, bermaksud merubah haluan politik dari perjuangan bersenjata kepada perjuangan politik, bahkan ikut serta menjalankan roda pemerintahan dan menerima tunjuk ajar dari pemerintah kolonial Belanda di Acheh. Dayah, yang awalnya disepakati berfungsi sebagai pusat perjuangan untuk mengusir penjajah –jihad fisabilillah– berubah menjadi pusat pengajian agama Islam dalam urusan munakahat, muamalah, jenayah dan waris; tidak lagi mengkaji perkara siasah (politik). Seiring dengannya Ulama Dayah menyatakan taat-setia kepada kebijakan politik kolonial Belanda yang berjanji memberi keleluasaan untuk memajukan adat-istiadat, menunaikan ibadah Haji dan diberi izin membangun Dayah-dayah yang sudah remuk dan hancur selama konflik (1873-1911). Akibat daripada luputnya perbincangan tentang siasah, maka saat Belanda angkat kaki dari bumi Acheh Darussalam tahun 1942, kalangan Ulama Dayah + Ulama yang tergabung dalam PUSA dan segelintir Ulèëbalang, bukannya memproklamirkan kemerdekaan Acheh sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat. Sebaliknya mengundang Jepang menduduki Acheh (1942–1945). Para Ulama Dayah tidak tahu menentukan sikap, pendirian politik dan kepentingan nasional Acheh Darussalam serta keputusan terbaik untuk Acheh Darussalam; pada hal para Ulama Dayah + PUSA dan Ulèëbalang telah berhasil membunuh Tegelman (Controleur kolonial Belanda) dan Graaff (kepala Keretapi Acheh) sebagai simbol penjajahan di Acheh. Yang berlaku: bertukar Tuan dari Belanda kepada Jepang! Ini sebuah keputusan politik yang paling totol seingga merugikan kepentingan nasional Acheh Darussalam. Meuteugom bangai,

-          Begitu juga, ketika giliran Jepang keluar dari bumi Acheh secara tidak hormat pada tahun 1945, Ulama Dayah tidak memiliki ilmu pengetahuan politik untuk menentukan masa depan politik Acheh Darussalam. Konsekuensinya, politik Acheh didominasi dan dikuasai sepenuhnya oleh kalangan Ulèëbalang yang sebelumnya mengecap pendidikan di negeri Belanda, seperti Mr. Muhammad Hasan, Tuanku Mahmud, Teuku Abdul Hamid, Thahir Thaib dan Teuku Njak Arif, yang kemudian dilantik dilantik oleh Mr. Hasan (Gubernor Sumatera) menjadi Residen Acheh pertama. Para Ulama Dayah + Ulama PUSA menjadi penonton, tidak lebih daripada kambing congèk!

-          Apa Konsekuensi Politiknya? Teuku Njak Arif kemudian memerintahkan Teuku Panglima Muda Polim menerima penyerahan kuasa politik dari Jepang yang kalah Perang Dunia ke-II. Sementara ketertiban dan keamanan, Jepang serahkan kepada tentara Sekutu yang bermarkas di Singapura. Mengapa Jepang tidak serahkan kepada tokoh-tokoh dan Ulama Acheh yang mewakili negara Acheh Darussalam? Tokh yang mengundang Jepang masuk ke Acheh adalah PUSA dan Ulèëbalang. Tidak lama kemudian, kalangan Ulama yang tergabung dalam PUSA dan segelintir Ulèëbalang berkomplot mengadakan pakatan jahat membentuk Komitee Nasional Daerah (KND-Acheh) atas arahan dari Mr. Muhammad Hasan, yang bertujuan menjebloskan negara Acheh Darussalam kedalam wilayah Indonesia di penghujung tahun 1945.

-          Tuanku Raja Ibrahim –satu-satunya ahli waris Pemangku Sultan Acheh Darussalam– yang pada masa itu (1942-1945) masih hidup, berhak untuk menyambung kepemimpinan nasional Acheh Darussalam; akan tetapi Tuanku Raja Ibrahim tidak memiliki sikap dan pendirian tegas, bahkan tidak berani (ceuëk) untuk menyambung estafet kepemimpin nasional Acheh Darussalam masing-masing di tahun 1939, 1942 dan 1945.

-          Bangsa Acheh tidak cerdas memanfaatkan peluang kemerdekaan Acheh Darussalam pada tahun 1942 & 1945. PUSA justeru menyatakan sumpah setia kepada kepemimpinan Sukarno yang didaulat sebagai Pemimpin Maha tinggi melalui MAKLUMAT PUSA, 15 Oktober 1945. Tengku Hasan Kruengkalé, seorang Ulama yang pernah mengusul kepada Tengku Daud Beureuéh supaya bangsa Acheh menghidupkan semula institusi Kesultanan Acheh Darussalam, karena tiada guna ikut serta bergabung kedalam Indonesia yang ditegakkan berdasarkan ideologi nasionalis, bukan berlandaskan Islam. Tengku Daud Beureuéh menolak mentah-mentah, oleh sebab sudah termakan propaganda Saukarno. Tengku Hasan Kruengkalé pada waktu itu tidak memberi perlawanan terhadap keputusan Tengku Daud Beureuéh dan tidak mengambil inisiatif untuk mengambil alih jabatan Panglima perang dari tangan Tengku Daud Beureuéh. Ironisnya, Tengku H. Hasan Kruengkalé sendiri, yang awalnya menentang kepemimpinan Sukarno, akhirnya…. menjadi salah seorang yang turut serta bersama Tengku Daud Beureuéh, Tengku H. Ja´far Sidik Lamjabat dan Tengku H. Ahmad Hasbalah Indrapuri menandatangani Maklumat PUSA, 15 Oktober 1945, yang diketahui oleh Teuku Nyak Arif (Residen Acheh) dan Tuanku Mahmud (Ketua Momitee Nasional di Acheh). Tengku Hasan Kruengkalé bahkan dikenal pasti merupakan calon anggota DPR RI wakil parti PERTI dari daerah pemilihan Acheh pada Pemilu pertama Indonesia tahun 1955. Tragis!


-          PENGKHIANATAN oleh tiga anggota Kabinet Acheh Merdeka (Teuku Asnawi Ali, Thahér Husin dan Amir Ishak) terhadap kepemimpinan Tengku Hasan di Tiro, dengan cara menyerah kepada penguasa Indonesia tahun 1979. {Baca: buku Dari Rimba Acheh ke Stockholm, ditulis oleh dr. Husaini Hasan}.


-          PENGKHIANATAN oleh enam tentara Acheh Merdeka yang dididik di camp Tajura Libya terhadap kepemimpinan Tengku Hasan di Tiro –menyerah kepada rezim Suharto. Untuk itu kepulangan dari Malaysia ke Acheh, diurus  oleh Nur Juli dan dr. Husaini Hasan melalui Konsulate Indonesia di Pulau Pinang Malaysia tahun 1995/96. Sayang, bukti dukumen (foto) serah terima ini, yang disimpan di Kantor Acheh Merdeka di Selayang, Malaysia; digelèdah dan dirampas oleh Polisi Bukit Aman pada tahun 1976.

-          PENGKHIANATAN oleh belasan tentara Acheh Merdeka yang dididik di camp Tajura Libya, terhadap kepemimpinan Tengku Hasan di Tiro, dengan cara mendirikan Majlis Permusyawaratan Gerakan Acheh Merdeka (MP-GAM) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 1999. Pembentukan MP-GAM ini turut dibidani oleh dr. Husaini Hasan dan Zulfahri (Zol Malindo). Sementara MB-GAM Eropah, di bawah komando Yusuf Daud bersama Syahbudddin Abdurra´uf. Bukti pengkhianatan tersebut ialah, Dr. Husaini Hasan, Yusuf Daud dan Syabuddin Abdurra´uf  dalam kapasitas sebagai aktivis MB-GAM Eropah –faksi tandingan dalam tubuh GAM– turut  diundang oleh Martin Graffith (Ketua HDC) mewakili GAM untuk berunding di Geneva pada tahun 2000. Sementara itu, Tengku Hasan di Tiro, Malik Mahmud, Zaini Abdullah dan Bakhtiar Abdullah, juga diundang mewakili GAM untuk berunding. Kedua kubu ini bersabung di belakang layar di Geneva untuk berebut pengaruh: siapakah utusan GAM yang sebetulnya dipandang resmi oleh HDC untuk diajak berunding melawan juru runding Indonesia. Faksi MB-GAM akhirnya mundur teratur. Fakta sejarah ini membuktikan bahwa, faksi MB-GAM nyata-nayata melancarkan konfrontasi terhadap kepemimpinan Tengku Hasan di Tiro di luar negeri.


-          PENGKHIANATAN oleh juru runding Acheh Merdeka –Malik Mahmud, Zaini Abdullah, Bakhtiar Abdullah, Nurdin Abdurrahman dan Nur Juli– yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan sejarah Acheh yang mencukupi, untuk berunding dengan pemerintah Indonesia, tidak mampu berhujah dan tidak tahu menentukan sikap dan pendirian yang tegas –atas nama entiti (wadah) apa– menandatangani Perjanjian Jeda Kemanusiaan tahun 2000, Penghentian Permusuhan tahun 2002 dan MoU Helsinki 2005? Dikatakan demikian oleh karena, Acheh Merdeka secara resmi memiliki wadah perjuangan, yaitu AAM  NLFAS pada tahun 1976; … STATE OF ACHEH SUMATERA tahun 1978; … ASNLF tahun 1979; … NEGARA ISLAM ACHEH tahun 1987; … PEMERINTAH NEGARA ACHEH tahun 2002, … PEMERINTAH NEGARA ACHEH DI PENGASINGAN tahun 2004. Lantas mengapa juru runding Acheh Merdeka menandatangani Perjanjian Internasional dengan Indonesia atas nama Piimpinan Gerakan Acheh Merdeka (GAM), sementara sebutan tersebut diciptakan untuk tujuan proganda rezim Suharto Orde Baru (1967-1998)? Mengapa tidak menandatangani atas nama Pemerintah Negara Acheh di Pengasingan? Apa konsekuensi logisnya? Dalam Mukadimah MoU Helsinki dan poin 1. 1. 5 MoU Helsinki, Juru runding Acheh Merdeka nyata-nyata menjual negara Acheh Darussalam kepada Indonesia pada 15 Agustus, 2005, yang kandungannya: selain mengakui kedaulatan Indonesia ke atas Acheh Darussalam, juga menyatakan tunduk kepada konstitusi UUD-1945 di bawah naungan NKRI. Disusul kemudian menukar status kewarganegaraan –Malik Mahmud, Zaini Abdullah, Nurdin Abdurrahman dan Zakaria Saman– menjadi warganegara Indonesia (WNI). Dengan begitu lucutlah eksistensi subjek Hukum sebagai salah satu pihak yang berunding dengan pemerintah Indonesia dalam Perundingan Helsinki. Tegasnya, secara yuridis formal, keberadaan MoU Helsinki adalah BATAL DEMI HUKUM.

Inilah kronologi perubahan nama wadah perjuangan Acheh Merdeka:

a.       Diproklamirkan Acheh Sumatera Merdeka pada 4 Desember 1976. Seiring dengannya didirikan Angkatan Acheh Merdeka (AAM), 1976. Dibentuk National Liberation Front of Acheh-Sumatera (NLFAS), 1976.

b.       Didirikan State of Acheh Sumatera, 1978.

c.       Didirikan Acheh-Sumatera National Liberation Front (ASNLF), 1979.

d.     Didirikan Negara Islam Acheh (NIA), 1987.

e.      Ditetapkan Pembentukan Pemerintah Negara Acheh (PNA), 2002.

f.        Penggunaan Kepala Surat Resmi: Pemerintah Negara Acheh (PNA) Di Pengasingan, 2004.

g.      Pengukuhan Status Pemerintah Negara Acheh Di Pengasingan melalui Jurisprudensi Mahkamah Huddinge, Sweden, 18 Juni 2004.

h.       Tiba-tiba muncul Tuyul bernama Gerakan Acheh Merdeka (GAM), sekaligus digunakan sebagai entiti (wadah) dalam perundingan Jeda Kemanusiaan tahun 2000, Perjanjian Penghentian Permusuhan tahun 2002 dan Mou Heksinki tahun 2005. Tengku Hasan M. di Tiro dalam sejarahnya, tidak menggunakan atau mengatas namakan wadah ini untuk menjalin hubungan diplomasi dengan negara luar dan tidak pernah memakainya sebagai Kepala Surat resmi dan menandatangani surat.

i.        Terbentuk kembali Pemerintah Negara Acheh Darussalam (PNAD), 2020 – sekarang.

Dalam perjalanan sejarah Acheh Darussalam, muncul beberapa organisasi pro-merdeka, seperti Majlis Permusyawaratan GAM (MP-GAM) dan Majlis GAM Eropah, 1999; … Goverment Independence of Acheh Sumatera (GIAS), 2005;… ASNLF Demokratik, 2006; … Presidium ASNLF, 2012; … Tentara Acheh Merdeka (TAM), 2015; … GAM Independence, 2022; … Majelis GAM Pusat, 2023. Keaneka-ragaman wadah perjuangan bangsa Acheh ini sudah tentu menjadi bahan lelucon dan dipertanyakan oleh dunia internasional. Entiti (wadah) mana sesungguhnya memiliki legitimasi yang berhak mengadakan perundingan, menjalin hubungan diplomatik dengan negara asing?

Yang pasti, pada tahun 1988 dan 2000, Tengku Hasan M. di Tiro mengirim Surat politik kepada SekJen PBB; mengirim surat politik kepada 



Parlemen Inggeris tahun 1992; naskah Pidato ilmiah dalam Sidang UNPO tahun 1992. Kesemua surat politik (dokumen) Acheh Merdeka tersebut, dikirim oleh Tengku Hasan di Tiro menggunakan wadah ASNLF. Lantas, apa argumen ilmiah, alasan logis dan rasional, sehingga Acheh Merdeka menggunakan wadah Gerakan Acheh Merdeka (GAM) menandatangani Perjanjian antara Acheh Merdeka versus Indonesia tahun 2000, 2002 dan 2005?

Pada 3 Desember 2020, diadakan Musyawarah bangsa Acheh yang dihadiri oleh 13 wakil Wilayah seluruh Acheh Darussalam, yang maksud dan tujuannya adalah mengukuhkan pengembalian status negara Acheh Darussalam (PNAD) sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat seperti sedia kala. Sehubungan itu, PNAD membuktikan dengan cara mengirim Surat Diplomatik kepada 29 Kepala Negara seluruh dunia pada 18 Maret 2021. Surat Diplomatik tersebut ditandatangani oleh Perdana Menteri Negara Acheh Darussalam, dibubuh Stempel resmi negara. Begitu pula penandatanganan berkas pengajuan legal Status PNAD yang mengugat Belanda, Jepang dan Indonesia ke Mahkamah Internasional (Internatonal Court of Justice (ICJ) di Den Haaq, Netherlands pada Januari 2022 dan Surat Diplomatik ke SekJen PBB pada Januari 2023.


TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update