Kita tidak sedang berada di alam fikiran fiksi, tetapi sedang menelusuri
relung-relung sejarah dalam konteks politik ekonomi Acheh Darussalam suatu
ketika dahulu yang terasa asing dari pengetahuan umum, jarang dikaji apalagi
dibincang dalam forum-forum ilmiah. Kita terlalu jauh sudah berlari
meninggalkan identitas ke-Acheh-an, mengejar bayangan konsep ekonomi yang tidak
pasti; pada hal fakta sejarah membuktikan konsep pembangunan ekonomi Acheh
Darussalam dikenal sebagai sebuah model perekonomian dunia yang bukan saja dikagumi
oleh bangsa-bangsa Eropah akan tetapi juga oleh masyarakat dunia umumnya. Bukti
ilmiahnya akan dapat dilihat di sini. Oleh karena itu, kertas kerja ini
bukanlah recep untuk menemukan jawaban bagaimana menghabiskan anggaran Anggaran
Pendapatan Belanja Acheh (APBA) atau mengembalikan Sisa Lebih Perhitungan
Anggaran (SILPA) kepada pemerintah pusat, akan tetapi menyingkap tabir
bagaimana Acheh menyusun angaran Belanja negara yang turut melibatkan pakar
ekonom bertaraf Internasional, strategi pengalokasian biaya pembangunan yang
mencakupi semua aspek, seperti dana untuk penelitian dan penulisan kitab-kitab
Ilmu pengetahuan agama Islam, astronomi, pertahanan keamanan dan pembinaan
tamadun Melayu dan Islam yang berpusat di Acheh serta istrumen perdagangan
Acheh Darussalam (mata uang) yang diakui oleh dunia Internasional mengikut kurs
mata uang asing yang beredar pada ketika itu.
Dalam catatan sejarah, para pedagang
Acheh mempunyai standard moral saat melakukan transaksi perdagangan dengan
pedagang asing, perkara ini direkam dalam lipatan sejarah sebagaimana
dibuktikan dalam kertas kerja ini. Kini diaspora Acheh ke luar wilayah Acheh
(Medan, Jakarta dan Malaysia) terdapat indikasi ingin mengulangi tract
record indatu. Namun mereka mesti berhadapan dan bertarung dengan
kebijakan-kebijakan penguasa yang bukan membatasi gerak usahanya, bahkan telah
terasa meresahkan nasib masa depan mereka yang tidak pasti.
Kata kunci: Acheh, model dan ekonomi.
METODOLOGI PENULISAN
Kertas kerja ini dirakit dengan pendekatan metodologi
kepustakaan yang dihimpun dari pelbagai sumber terpercaya, yakni dokumen dalam
bentuk transaksi, perjanjian, ‘diplomatic correspondence’ milik
pemerintah China, Turki, Belanda, Inggeris, Perancis, Spanyol dan Amerika
Serikat, dll. Selain itu, menyertakan sumber skunder berupa literatur yang
ditulis oleh sejarawan dan peneliti sejarah Acheh. Bagi melengkapi dan
mempertegas penjelasan, dilakukan wawancara langsung dengan aktor utama yang
terlibat langsung dalam lintas dagang di Malaysia, Medan dan Jakarta. Artinya,
fakta yang didapati di sini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
PEMBAHASAN
SEBELUM mengadakan kontak
perdagangan dengan pihal asing; Acheh terlebih dahulu melakukan penelitian dan
kajian awal tentang kelayakan kawasan geographi, kedekatan sosio-kultural,
strategi keselamatan perdagangan jika muncul masalah di kemudian hari dan mitra
dagang yang dapat dipercaya. Oleh itu Acheh membuka hubungan perdagangan dengan
bangsa-bangsa yang pada awalnya dikuasai oleh kerajaan Rum (baca: Eropah), oleh
karena bangsa-bangsa ini memiliki ‘tract record’ ketika suatu masa
dahulu menguasai wilayah Konstantinople (kemudian menjadi wilayah kekhalifahan
Utsmaniyah Turki), termasuk wilayah Hijaz (Mekkah & Medinah). Begitu pula
dengan wilayah Asia -terutama hubungan perdagangan dengan China, Canton (Hong
Kong) dan negeri-negeri lain di Asia Tenggara; dimana kedudukan geografi Acheh yang terletak paling ujung
Pulau Sumatera menuju ke tanah daratan Asia dan terbentang menghadap lautan
Hindia, ternyata bukan saja mempunyai pertalian sejarah yang panjang, memiliki
hubungan sosial-politik dengan beberapa bangsa, negara, kaum dan suku yang
berbeda, akan tetapi sejarahnya juga diikat oleh hubungan persahabatan,
diplomatik, sosial budaya, politik dan ekonomi.
Pertalian
sejarah ini telah mencorakkan keunggulan politik, ekonomi, sosial-budaya,
kepemimpinan dan sistem pertahanan keamanan di Acheh khususnya, Selat Melaka,
lautan Hindia dan kawasan dunia Melayu umumnya. „Kedudukan geografi Acheh yang amat strategik, merupakan tempat persinggahan
utama oleh para pedagang dunia maupun oleh para pendakwah Islam"[1] yang berlangsung sejak berabad-abad
lamanya. Namun begitu, seperti telah
disuntuh sebelumnya bahwa Acheh sangat cerdas mempertimbangkan dan menentukan
mitra dagang. Di atas sebab-sebab itu „Acheh tidak berminat membuka hubungan
persahabatan, perdagangan dan politik ke wilayah Pulau Jawa, baik semasa
kerajaan Majapahit dan kerajaan-kerajaan lain yang wujud kemudiannya,"[2] bahkan
ketika Pulau Jawa dikuasai oleh kolonial Belanda. Sebetulnya bukan saja Pulau
Jawa, akan tetapi juga kawasan yang membentang luas ke sebelah Timur, seperti
Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat-Timur, Timor Timor, Maluku, Papau, Australia
dan gugusan Pulau Solomon turut tidak menjadi perhitungan Acheh. Antara
alasannya adalah, kawasan yang disebut terakhir ini memiliki naluri
perdagangan, berbanding dengan gugusan daratan yang membentang ke Asia Barat
dan Eropah, termasuk Amerika Serikat. „Acheh hanya melakukan hubungan perdagangan dengan
bangsa-bangsa maju dan bangsa-bangsa yang memiliki naluri berdagang. Berhubung
dengan jalinan perdagangan antara Acheh dengan bangsa-bangsa besar dan
berpengaruh di dunia, maka Acheh dianggap merupakan sebuah negara yang penuh
dengan peristiwa-peristiwa bersejarah."[3] Sementara
hubungan perniagaan, „Acheh
dikenali sebagai sebuah negara Islam yang masyhur di bagian paling ujung
Sumatera Utara, sekaligus menjadi pusat utama perdagangan lada hitam, "[4] yang
dieksport ke Eropah melintasi kawasan Mediteranian melewati Laut Merah, yang
sudahpun berlangsung sejak dari abad ke 16. „Hubungan diplomatik, perdagangan dan
persahabatan dengan negara luar ini sudah berlangsung semasa Sultan Ala ad-Din
Riayat Syah dan Iskandar Muda yang dikenal pasti sebagai raja-raja pertama di
Timur Jauh yang melakukan hubungan diplomatik dengan orang Barat."[5] Dari hubungan inilah bangsa luar menyimpulkan
bahwa „Acheh merupakan sebuah bangsa dan
negara berdaulat serta memiliki kekuatan dan berwibawa, "[6] terutama dalam bidang ekonomi dan
pertahanan keamanan serantau.
Sejarah hubungan diplomatik antara Acheh-Turki misalnya, sudah berlangsung sejak tahun 1273 lagi. Hal
ini didasarkan pada fakta „dimana
uang dirham Turki, bertulis ‘Sultan Sulaiman Syah bin Salim Syah Khan’ sudah
beredar dan ditemui di kawasan kampung Pandé, Acheh."[7] Hubungan
tersebut diteruskan pada tahun 1520,
yaitu ketika Acheh mengirim sebuah delegasi ke Turki untuk menjalin
persahabatan, sekaligus menyatakan pengakuan Acheh kepada kepemimpinan Sultan Salim,
penguasa imperium Turki saat itu. Kapal-kapal Acheh yang turut menyertakan
saudagar-saudagar berlabuh di pelabuhan tersebut, mengibarkan bendera Turki
sebagai isyarat Acheh secara simbolik menyatakan perlindungan kepada kesultanan
Turki. Sebagai gantinya, „penguasa
Turki memerintahkan Wazir Sinan Pasha mengirim meriam-meriam dan pedang-pedang
kehormatan kepada Sultan Acheh"[8] dan mengakui Acheh sebagai sebuah negara
dan berkuasa di dunia Melayu, sekaligus membuka hubungan dagang secaraa resmi
antara kedua-dua negara, tidak terkecuali ke kawasan Hijaz yang ketika itu
berada di bawah imperium kekhalifahan Turki. Kontak dagang antara kedua-dua
negara berlangsung sampai tahun 1873, yaitu ketika Belanda melancarkan perang
ke atas Acheh. Terdahulu, Sultan Ibrahim Alaudin Mansursyah (1824-1870), pernah
mengirim surat kepada pemerintah Turki untuk meminta bantuan kelengkapan
senjata perang. „Untuk itu Gebenor Turki di Yaman
telah diarahkan oleh Sultan Turki untuk memberi pertolongan bagi melindungi
kepentingan Acheh."[9] Bahkan Sidi Muhammad (Duta Besar
Acheh) telah dihantar ke Istanbul tahun 1850-1851 untuk mengeratkan hubungan
dan menyatakan Acheh tetap merupakan satu bagian dari imperium kekhalifahan
Utsmaniyah Turki. „Sultan Abdul Majid memenuhi
permintaan itu dan gubenor Turki di Yaman diperintahkan untuk mengurus
kepentingan Acheh. Memandangkan eratnya hubungan kedua-dua negara, Sultan Acheh
mengirim uang sejumlah $10.000 ke Istanbul untuk membantu biaya perang Turki di
Crimea."[10] Sumbangan tersebut sudah tentu atas
usaha para saudagar Acheh yang menjadi tiang-sri pemerintah Acheh. „Kerjasama ekonomi dan potitik antara Turki-Acheh, telah menempatkan
pakar-pakar ekonom Turki duduk sebagai anggota kehormatan Parlemen Acheh,
seperti Mayor Thalib (asal Turki), Khoja Hamid (asal Turki), Khoja Nasir (asal
Turki), Khoja Rahsia (asal Turki)."[11] Pada tahun 1582, selain menjalin
hubungan dengan Turki; „Acheh juga menjalin hubungan
persahabatan dan perdagangan dengan negara-negara lain di sekeliling lautan
Hindia, seperti Jepang hingga ke negara-negara Arab."[12] Ketika itu „Acheh mengeksport pelbagai barang dagang, seperti batu berlian, kayu ambar,
kayu gaharu, cengkèh, keris dan timah ke luar negeri."[13]
Hubungan diplomatik dan perdagangan antara „Acheh dengan China telah terjalin sejak abad ke-15 lagi."[14] Peniaga China menuturkan pengalaman
antara kedua-dua negara bahwa, para pedagang China menjalankan traksaksi
jual-beli di bandar Canton (Hong Kong) dengan padagang Acheh. „Pada masa itu, Acheh mengekport
kapur barus, batu mulia, akik, kuda-kuda berbadan tegap, badak, batu ambar,
kayu gaharu, cengkeh, dupa, rèncong, panah, timah, lada dan belerang."[15] Untuk membuktikan wujudnya lintas
dagang antara kedua-dua negara ini, Dinasti Ming (1368- 644) telah
menghadiahkan sebuah ’Lontjèng Raksasa’
yang diserahkan oleh diplomat China kepada Sultan Acheh. Lontjèng ini lebih
dikenali dengan sebutan ’Tjakra Donja’,
terletak di depan pintu masuk Muzium Acheh, Banda Acheh. Pada abad ke-17,
pelbagai barang China, seperti tembakau, kertas dan keramik, teh, kipas
dan beras dipasarkan ke Acheh; bahkan
para pedagang China ini diberi kebenaran oleh penguasa Acheh untuk tinggal di
lokasi penampungan khusus di daerah Peunayong dan bebas untuk berdagang di
sini.
Selain itu, Acheh juga membangun
hubungan pesahabatan dan perdagangan dengan negara-negara Eropah, seperti
Belanda, Portugis, Spanyol, Perancis dan Inggeris. „Hubungan Acheh dengan Belanda misalnya, sudah berlangsung pada
penghujung tahun 1590-an, ketika
pedagang Belanda datang berkunjung ke Acheh dengan maksud membeli rempah-rempah."[16] Dilanjutkan dengan kunjungan
Houtman bersaudara (Cornelis de Houtman
dan Frederijk de Houtman) ke Acheh pada 21 Juni 1595, yang berhasrat menjalin
hubungan dagang dengan Acheh. Sehubungan itu, Sultan Alaudin Riayat Syah IV
(1589-1604) mengarahkan Kemalahayati[17] untuk memeriksa kapal dagang ’Van Leeuw’ dibawah nakhoda Cornelis de
Houtman, yang terbukti Nakhoda beserta awak kapal ini hendak melancarkan kudeta
terhadap pemenitahan Acheh, yang berakhir dengan terbunuhnya Cornelis de Hotman
oleh Kemalahayati. Pada 11 Desember tahun 1600, Prins Maurits memaklumkan
kepada Sultan Alaudin Riayat Syah IV bahwa, Portugis dan Spanyol-lah yang
berada di sebalik peristiwa ini, mereka menghasut dan irihati dengan dibukanya
perdagangan langsung antara Acheh-Belanda. Diakui bahwa hubungan Belanda-Acheh
retak akibat berlakunya kasus ini. Pemerintah Belanda kemudian mengirim „sebuah delegasi dipimpin oleh kapten Cornelio Bastiaensen, Yuan Tonneman,
Matheo Anthonisa dan Cornelio Adrianss beserta empat orang komisaris, yaitu
Gerit de Roy, Lorenco Begger, Juan Jacobuss dan Nicolao van der Lee, yang
meminta secara hormat supaya Belanda dibenarkan berdagang kembali dengan Acheh."[18] Oleh itu, Pangeran Maurits van
Nassau mengirim surat kepada Sultan Acheh yang diserahkan oleh Gerard de Roy,
Laurens Bicker dan Cornelis Bastiaenszoon pada 28 Januari 1601.[19] Menyusul kemudian, kapal dagang van Caerden berlabuh di Pelabuhan Acheh
pada 31 Juni 1601. Delegasi perdagangan Belanda dipimpin oleh nakhoda kapal
(Laksamana Jacob van Neck) mengaku mau mengantar sepucuk surat permohonan minta
maaf dari Prins Maurits kepada Sultan Alaudin Riayat Syah. Sehubungan itu,
diadakan perjanjian antara Acheh-Belanda pada 23 Agustus 1601. Keumalahayati
wakil kerajaan Acheh dan Laksamana Laurens Bicker (Komisaris Gerard de Roy)
wakil kerajaan Belanda yang sepakat untuk berdamai. Antara isi perjanjian ini
menyebut bahwa:
1. „Frederijck de Houtman dibebaskan.
2.
Belanda harus membayar kerugian kapal-kapal Acheh yang dirompak oleh
pasukan Van Caerden sejumlah 50.000 Gulden
3. Sultan Acheh mengirim Tengku Abdul
Hamid, Laksamana Sri Muhammad dan Hasan ke negeri Belanda, sebagai balasan ke
atas niat baik pemerintah Belanda."[20]
Seiring dengannya, Print Maurice
memohon kepada Sultan Acheh, supaya pengaruh Acheh dapat digunakan untuk
membantu menyelamatkan negeri Belanda dari cengkeraman penjajah yang lebih dari
30 tahun lamanya dijajah oleh Spanyol. Maka, pada tahun 1602, Acheh sebagai
negara pertama yang memberi pengakuan kepada Belanda sebagai negara merdeka,
sekaligus menempatkan Tengku Abdul Hamid sebagai Duta Besar Acheh berkuasa
penuh untuk negeri Belanda. Tidak lama kemudian, beliau meninggal dunia pada 10
Agustus 1602 di Meddelberg, Belanda.[21] Perkara ini diakui bahwa „Acheh merupakan negara pertama yang memberi pengakuan kepada negeri Belanda
sebagai negara merdeka dan berdaulat dari jajahan Spanyol."[22] Hubungan antara Acheh-Belanda
berlangsung hingga pertengahan abad ke-19. Untuk membuktikan komitmen bersama,
kedua-dua negara menandatangani perjanjian persahabatan dan perdagangan
langsung pada 30 Maret 1857, walau pun Perjanjian ini kemudian menjadi malapetaka
kepada Acheh, karena pedagang Belanda telah memanfaatkan untuk memprovokasi
beberapa Ulèëbalang di Acheh Timur (Idië), sehingga kelompok Ulèëbalang ini
berani menolak serahkan setoran pajak kepada pemerintah pusat (Sultan), bahkan
nekad mengibarkan bendera Belanda di Acheh Timur.
Dalam realitasnya, „Belanda tidak mampu mengimbangi pengaruh Acheh dalam sektor ekonomi,
perdagangan, politik dan pertahanan keamanan di Selat Melaka dan Sumatera, oleh
sebab Acheh-Inggeris terikat dengan perjanjian kerjasama ekonomi dan pertahanan
keamanan terhadap kapal-kapal dagang kedua-dua negara dan peraturan bea-cukai
terhadap kapal-kapal asing yang melintasi Selat Melaka"[23] dan Perjanjian Raffles, 21 April
1819.[24] Ini salah satu faktor mengapa
Belanda menyerang Acheh pada tahun 1873.
Sementara hubungan diplomatik dan perdagangan antara
Acheh-Perancis juga sudah lama berlangsung, yaitu „ketika kehadiran Davis (konsulate dagang
Perancis) yang berkunjung dan menjalin hubungan dagang dengan Acheh,"[25] telah disambut dengan upacara
adat-istiadat negara. Begitu pula saat Jenderal de Beaulieu berkunjung ke
Acheh, telah menyerahkan sepucuk surat dari kepala negara Perancis kepada
Sultan Iskandar Muda. Saat meninggalkan Acheh, „beliau menerima sepucuk surat dari Sultan Acheh kepada raja Perancis yang
menyatakan jawaban atas tawaran barang dagang asal Perancis,"[26] untuk dipasarkan di Acheh. Hubungan
diplomatik antara kedua-dua negara berterusan sampai Tengku Said Muhammad Abdul
Qadir diutus oleh Sultan Acheh „menghadiri penobatan Napoleon III di
Perancis yang berlaku pada tahun 1852."[27] Sementara hubungan Acheh-Inggeris
bermula pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Shah IV yang memerintah
(1589-1604), „dimana beliau-James Lancaster
menandatangani sebuah Perjanjian tahun 1603."[28] Kedua-dua belah pihak berjanji „saling menjaga, memberi perlindungan, keselamatan terhadap pedagang Ingeris
yang melintasi Selt Melaka dan bantuan kepada kapal-kapal dagang milik Inggeris
dan Acheh yang melintasi Selat Melaka, terutama apabila terjadi musibah
terhadap kapal dagang dan anak-anak kapal milik kedua-dua negara."[29] Hubungan tersebut dieratkan lagi,
apabila ratu Elizabeth I „menyerahkan sepucuk surat kepada Sir James Lancester untuk diteruskan
kepada Sultan Acheh yang komitmen untuk mewujudkan perdamaian dan persahabatan
antara kedua-dua negara."[30] Sebelum menandatangani perjanjian
pada 5 Januari 1602, „empat kapal dagang Inggeris berlabuh
di pelabuhan Acheh untuk tujuan berdagang."[31] Pada tahun 1660, „Henry Gari (wakil Inggeris) dan Ratu Saifiatuddin (wakil Acheh)
menandatangani perjanjian dagang antara kedua negara."[32] Seterusnya, pada tahun 1670, John
Hallewell berlabuh kapalnya di pelabuhan Acheh, disusul oleh Thomas Bowrey pada
tahun 1675 dan J. Taylor tiba di Acheh pada tahun 1681."[33] Walaupun situasi politik di Acheh
dalam situasi tidak stabil karena terjadi rampasan kuasa terhadap Sultan Ala‘
al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815) oleh
Syarif Saif al-Alam (anak lelaki Sayid Hussein) pada tahun 1815-1818), „akan tetapi nilai eksport dari Acheh ke Pulau Penang mencapai 463, 117
dollar Spanyol pada tahun 1810/11 dan nilai eksport dari Acheh ke Pulau Penang
mencapai 216, 558 dollar Spanyol"[34] yang bersumber lada dari hasil penjualan Lada hitam „mencecah 303, 290.56 dollar Spanyol pada tahun 1822/23 dan mencapai 84, 972
dollar Spanyol pada tahun 1814/15."[35] Pada 22 April 1819, Acheh-Inggeris
menandatangani perjanjian Raffles yang menyetujui pembelian kelengkapan senjata
perang dan peranan Inggeris secara langsung mengatasi kemelut politik yang
berlaku dalam urusan internal kerajaan Acheh (1818-1824); memperkukuhkan
hubungan perdagangan dengan Inggeris. Pada masa yang sama, „Acheh juga menjalin hubungan dagang dengan India dan China di Pulau Penang;
dimana Acheh terlibat dalam lintas dagang, mengeksport hasil pertanian,
terutama lada hitam dan buah Pinang."[36]
Hubungan
perdagangan antara Acheh-Amerika Serikat berlangsung sejak tahun 1789. Ketika
itu, „kapal-kapal dagang USA, seperti Friend dan Potomac
berlayar dari Boston, New York, Beverly, Philadelphia, Marblehead, New Bedford,
Baltimore menuju pelabuhan Tapak Tuan, Sama Dua, Teluk Pauh, Meukék, Labuhan
Haji, Manggéng, Susoh, Kuala Batu, Seunagan, Meulaboh, Bubon dan Woyla. Nilai
ekport dari daerah penghasil lada ini mencapai 42,000 pikul (3,000 ton)/tahun
dan tidak kurang dari 400 kali pelayaran, "[37] bahkan „pada tahun 1805, mengisi muatan kapalnya antara 70,000 -
80,000 pikul."[38] Hubungan perniagaan ini terhenti, akibat dari konspirasi
Belanda yang sengaja merampok kapal dagang milik Amerika Syarikat yang sedang
berlabuh di Pelabuhan Kuala Batu, pada 7 Februri 1831 menggunakan kapal
berbendera negara Acheh. „Tanpa melewati proses penyelidikan terlebih dahulu,
tentera USA menyerang penduduk kampung Kuala Batu dan membunuh yang
mengenyampingkan pertimbangan prikemanusiaan."[39] Ada
fakta sejarah yang tidak dinafikan tentang munculnya penentangan yang dilakukan
oleh pemerintahan negeri Sosu Trumon terhadap pemerintah pusat Acheh, yaitu
secara rahasia mengadakan hubungan dagang gelap dengan Amerika Syarikat yang
menggunakan mata uang lokal pada tahun 1804. „Mata uang tersebut dikeluarkan/dicetak secara
illegal oleh peniaga Amerika Serikat di Sosu yang bersekongkol
dengan Lebi Dapa, pewaris negeri Sosu,
Acheh. "[40] Walaupun begitu,
maruah dan kewibawaan Acheh masih tetap dapat dipertahankan. Hal ini terbukti
dari Traktat London, 1824; dimana Inggeris-Belanda sepakat untuk tetap
menghormati Acheh sebagai sebuah negara merdeka dan menjaga kelancaran hubungan
dagang dengan Acheh. „Kemampuan dan kelincahan Acheh memainkan peranan dalam hubungan diplomatik
dan perdagangan diakui oleh dunia Internasional, sehingga meletakkan Acheh
sebagai sebuah kekuatan besar, paling berkuasa, berpengaruh, kaya-raya dan
bertamadun di wilayah Asia Tenggara."[41] Bayangkan saja, „pada tahun 1627, Acheh telah mengirim sebuah delegasi ke negeri Belanda
untuk pembelian sebuah armada perang (Kapal Induk) yang dibelanjakan dengan
uang yang banyak sekali."[42] Maksud pembelian kapal armada
perang ini adalah „untuk menyerang benteng Porugis,
oleh karena perjanjian yang disepakati sebelumnya diingkari."[43] Selain itu, Acheh sangat disegani
oleh raja-raja di kawasan dunia Melayu termasuk oleh raja-raja Jawa pada suatu
masa dahulu. Buktinya, „Sultan Acheh pernah mengirim sebuah
delegasi ke Jawa untuk menjumpai raja yang sangat besar kuasanya disana,
meminta raja Jawa tersebut supaya tidak mengizinkan pengiriman beras serta
bahan-bahan makanan dari pelabuhan-pelabuhannya ke benteng-benteng Portugis di
Melaka dan tempat-tempat lainnya."[44] Permintaan Sultan Acheh dihormati
dan ditaati oleh Sultan Jawa yang berkuasa itu.
Berdasarkan laporan journal
Internasional bahwa, „kegemilangan Acheh pada kurun abad
ke-17 - 18, ditandai dengan peranan Acheh dalam memperkukuh kekuatan, terutama
di Kedah, Johor dan Pahang yang
merupakan wilayah imperium kesultanan Acheh di Semenanjung Tanah Melayu"[45] dan „Sumatera sampai ke daerah-daerah pantai laut Minangkabau (Padang, Bengkulu,
Moko-moko, Pariaman, Tiku); sementara di sebelah Timur Sumatera, Acheh berkuasa
sampai ke Jambi, Siak, Riau dan Pulau Lingga."[46] Hegemoni kekuasaan pemerintah Acheh mewajibkan semua negeri di
bawah perlindungannya menyetor upeti/pajak pendapatan hasil bumi yang
dibebankan oleh Sultan Acheh, jika tidak Ibukota negeri itu dibakar; bahkan
ketika angkatan perang Acheh yang bertugas mengutip pajak di Sumatera Tengah
yang dihalang-halangi oleh angkatan Laut Belanda, maka angkatan perang Acheh
membakar kapal-kapal dagang Belanda. ‘Ini sebuah peringatan ataupun pelajaran
kepada Belanda yang arogan dan coba menguasai kekayaan bumi Sumatera.’ kata
Sultan Acheh. Pertumbuhan dan kemajuan ekport hasil bumi dunia Melayu di bawah
kendali Sultan Acheh, selain dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat, juga
diagihkan bagi pembinaan tamadun Islam dan Melayu. Hal ini „ditandai dengan lahirnya pemikir-pemikir Islam dan sasterawan Melayu,
seperti Hamzah Fansuri (1575-1625), pengarang buku Tabyan Fi Ma’rifati Al-Adyan[47] dan Tun Seri Lanang (1580-1615)"[48] yang menulis sastera Salatus
Salatin, justeru di saat Acheh sedang terjadi pergolakan politik, yaitu
penentangan terhadap segala bentuk kolonialisme; Syamsuddin Sumaterani (1630),
pengarang Kitab Mi’raja Al-Muhakikin
Al-Iman (Mufti Besar semasa Iskandar Muda memerintah); Nuruddin Arraniri
(1658), pengarang buku Sirat- Almustaqim,
Butanus- Alsalatin; Sjèh Jacob Al-Singkili (1693), pengarang Kitab Mi’raj Al Tulabb Fi Fashil, Ma’rifat
Al-Ahkama’sh-shayyah Li Mali Al Wahab dan Umdat Al Muhtajim. Selain itu, Acheh juga dikenali sebagai sebuah negara „yang memiliki kemampuan memproduksi meriam berukir pada abad ke-16-19,[49] bahkan ’di era modern sekali pun,
Acheh tetap mempunyai hubungan diplomatik, perdagangan dan perjanjian dengan bangsa luar, seperti Turki,
hubungan dagang dan perjanjian dengan Inggeris dan Belanda."[50] Sehubungan itulah Acheh „dipandang sangat berjasa dalam membina identitas Melayu"[51] dan diakui sebagai „pusat Islam dan tamadun Melayu di kepulauan Melayu selama
lima abad lamanya."[52] Pada masa yang sama, „ramai masyarakat Islam menetap di Acheh yang datang dari Istanbul, Marokko,
Isfahan, Agra yang akhirnya berhasil membentuk fakta kekuatan bersama lima
negara Islam untuk membina tamadun Islam pada abad ke-16."[53] Selain
itu, Acheh juga sebagai sebuah negara yang mendobrak hegemoni kekuasaan dari
kaum lelaki kepada wanita. „Ketika
orang bicara soal gender di era demokrasi dewasa ini, Acheh sejak abad ke-17
lagi sudah menempatkan kaum wanita dalam Parlemen. Dipastikan 16 orang dari 73
anggota Parlemen Acheh adalah wanita."[54] Ini suatu
indikasi bahwa kesetaraan dan tingkat kesejahteraan rakyat -khususnya wanita-
sudah mencukupi dan terjamin pada ketika itu.
[1] Nab Bahany As, 2012, Acheh Dalam Lintas Budaya Dunia, Serambi Indonesia.
[2] Anthony Reid, 2004, War, Peace and Burden of History
in Acheh, Asian Ethnicity, vol. 5 No.
3, hlm. 301.
[3] Julius Karel Jacobs, 2010, Het Familie En Kampongleven Op Groot-Atjeh:
Eene Bijdrage Tot De Ethnographie Van Noord-Sumatra, Part 2 Dutch Edition, Nabu Press.
[4] Arndt Graf, Susanne Schrôter, 2010, (ed.), Acheh, History, Politics and Culture.
Sher Banu A.L. Khan, The Sultanahs of
Acheh (1641-99), Institute of Southest Asian Study, hlm. 3.
[5] Denys Lombard, 1986, Kerajaan Acheh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Balai
Pustaka, Jakarta, hlm. 71.
[6] Ibid, hlm. 181.
[7] Harun Keuchik Leumiek, 2013, Mata Uang Emas Kerajaan Acheh, Serambi Indonesia, 2013, 23 November.
[8] Fahri Ali, Suharso Monoarfa dan Bakhtiar Effendy, 2007, Kalla dan Perdamaian Acheh. Lspeu.
Indonesia. Cetakan pertama, Ogos 2007. hlm. 2. Surat Rasyid (Menteri Luar
Negeri Turki) kepada Duta Besar untuk Inggeris dan Belanda, 11 Ogos 1873;
Woltring, (Ed.), Bescheiden Betreffende
de Buitenlandche Politiek van Netherland, 2de Peiod, The Haague: Nijhoff,
1962, 1, hlm. 612. Anthony
Reid, The Ottoman in Southeast Asia; Asia
Research Institute (ARI) Working Paper No. 36, n.d.), hlm 1.
[9] Prof. Dr. H. Rusjdi Ali Muhammad, SH., MA, 2003, Revitalitasi Syari’at Islam Di Acheh
Problem, Solusi dan Implementasi, Jakarta Logos Wacana Ilmu, hlm. xxi.
[10] Prof. Dr. H. Rusjdi Ali Muhammad, SH., 2003, Revitalitasi Syari’at Islam di Acheh,
Logos Wacana Ilmu, hlm. xxi.
[11] Hamka,
1981, Dari Perbendaharaan Lama, Penerbit Pustaka Antara, hlm 247-248.
[12] De Magnim, C, 1874, Atchin ou Achem, La Grande Encyclopedie, Jilid IV, hlm. 402.
[13] Denys Lombard, 1986, Kerajaan Acheh Zaman Iskandar Muda (1607-1636), Balai Pustaka,
Jakarta, hlm. 148-149.
[14] Ibid, hlm. 284.
[15] Ibid, hlm. 284.
[16] J. C Van Leur, 1954, Indonesia Trade and Society, The Haguw, W. Van Hoeve, hlm. 175-180;
K.N. Chaudhuri, 1965, The Enhlish East Company, London, F.
Cass, hlm. 3.
[17]
Kemalahayati (anak perempuan kepada Laksamana Mahmud Syah) kakeknya adalah Laksamana Muhammad Said Syah, anak
lelaki kepada Sultan Salahuddin Syah yang memerintah (1530-1539). Pada masa Sultan Alaiddin Riayat Syah IV memerintah
(1589–1604), Kemalahayati dilantik menjadi ketua pasukan tentera wanita Acheh
dengan pangkat Laksamana. Sejak itu, beliau berkhidmat sebagai Laksamana
angkatan laut Acheh yang memimpin pasukan janda-janda yang suami mereka gugur
dalam perang menentang Portugis di Melaka, negeri Aru dan mengawal
pelabuhan-pelabuhan Acheh. Sila lihat: Kompasiana,
2010, 15 November, Laksamana Malahayati dan Bangsa Kita. Sila lihat juga: Republika, 2009, 9 April, Inilah Wanita-wanita
Nusantara Yang Lebih Hebat dari Kartini.
[18] Keratan dokumen simpanan
Arsip pribadi Adi Fauzi Abdrurrahman Oemar, alamat: Jln. keluar Bus Terminal
Kartosuro, Kerangan Wetan Rt1/1 Wirogunan Kartosuro, Solo, Jawa Tengah.
[19] Denys Lombard, 1986, Kerajaan Acheh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Balai
Pustaka, Jakarta, hlm. 309-314.
[20] Ibid, 1986.
[21] Yusra Habib Abdul Ghani di Institute for Ethnics
Civilization Research (INECERES). CVR/SE. 31679370.
Kjærslund 15 St.V, 8260 Viby J, Denmark. Sila lihat: Yusra Habib Abdul Ghani, 2008, Status Acheh Dalam NKRI, Penerbit Institute for Ethnics
Civilization Research, hlm. 165.
[22] Testimoni Prof. Adriaan Bedner kepada Dr. Taqwadin di
Amsterdam Belanda, D esember 2018.
[23]Perjanjian ini ditandatangani tahun 1603. Simpanan
Arsip pribadi Yusra Habib Abdul Ghani, Status Acheh Dalam NKRI, 2009,
diterbitkan oleh Institute for Ethnics Civilization Research
(INECERES), CVR/SE, 31679370, Denmark.
[24]
Treaty of Friendship and Alliance between The Honorable English East India
Company and The Kingdom of Acheen, 1819, 21 April, Pedir Acheh. Terjemahan Muhammad Nur
El Ibrahimy, 1993, Selayang Pandang
Langkah Diplomasi Kerajaan Acheh, Penerbit PT. Gramedia Widiasarana
Indonesia, Jakarta, hlm 16-19.
[25] Denys Lombard, 1986, Kerajaan Acheh Zaman Iskandar Muda (1607-1636), Balai Pustaka,
Jakarta, hlm. 326-327.
[26] Ibid., Denys Lombard, 1986, hlm. 326-327.
[27] Yusra Habib Abdul Ghani, 29 Desember 2013, Acheh Dalam Pergaulan Global, Kertas
kerja, Forum diskusi bersama Azwar Abubakar (Menteri Aparatur Negara RI), Anas
Adam (Kepala Dinas P&K Provinsi NAD), Buchari Daud (Koordinator Pemberdayaan
Manusia Provinsi NAD), Wisma Royal Commenwealth Society, Kuala Lumpur Malaysia.
[28]
The Original Correspondence Section of The East India Companys Records.
Articles set down by The King of Dachem and Delevered To Sir James Lancaster.
A.D 1603. Simpanan Arkib
peribadi Yusra Habib Abdul Ghani, 2007, Institute for Ethnics
Civilization Research (INECERES). CVR/SE. 31679370. Kjærslund 15 St. TV, 8260
Viby J, Denmark.
[29] Ibid,
The Original Correspondence Section of
The East India Companys Records. Articles set down by The King of Dachem and
Delevered To Sir James Lancaster. A.D 1603.
[30] Muhammad Nur El-Ibrahimi, 1993, Selayang Pandang Diplomasi Kerajaan Acheh, PT. Gramedia Widia
sarana Indonesia, Jakarta, hlm. 3.
[31] Van Leur, J.C., 1954, Indonesia Trade and Society, The Hague, W. Van Hoeve, hlm. 175-180;
K.N Chaudhuri, 1965, The Inglish East
Company, London, F, Cass, hlm. 3.
[32] Bassett, D.K., 1989, The British Country Trade and Local Networks in the Thai and Malay States,
c 1680-1770; Modern Asian Studies, 23: 625-643.
[33] Bassett, D.K., 1990, The British Country Trade and Mariner in Southest-East Asia, c,
1660-1717, in Bassett, D.K., The
British in Southest-East Asia during the Seventheenth and eighteenth Centuries,
Hull, Centre for Southest-East Asia Studies, hlm.. 1-31.
[34] Ibid, hlm. 249.
[35] Ibid, hlm. 250-51.
[36] Lee Kam Hing, 1995, The Sultanate of Acheh, Relations with the British 1760-1824,
Oxford University Press, Singapore Oxford New York, hlm. 250. Dr. Kamaruzzaman Bustamam
Ahmad, 2012, Diskusi Kebudayaan, International
Centre for Acheh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), Banda Acheh.
[37] Muhammad Nur El-Ibrahimi, 1993, Selayang Pandang Diplomasi Kerajaan Acheh, PT. Gramedia Widia
sarana Indonesia, Jakarta, hlm. 22-23.
[38] Lee Kam Hing, 1995, The Sultanate of Acheh, Relations with the British 1760-1824,
Oxford University Press, Singapore Oxford New York, hlm. 199.
[39] Muhammad Nur El-Ibrahimi, 1993, Selayang Pandang Diplomasi Kerajaan Acheh, PT. Gramedia Widia
sarana Indonesia, Jakarta, hlm. 24.
[40] Simpanan Arkib peribadi Adi Fauzi Abdrurrahman Oemar,
alamat: Jalan Keluar Bus Terminal Kartosuro, Kerangan Wetan Rt 1/1 Wirogunan
Kartosuro, Solo, Jawa Tengah.
[41] Prof. M.C. Ricklefs, 1981, A History of Modern Indonesia,
Bloomington, hlm. 335.
[42] Kerajaan Acheh Dalam Dokumen Spanyol, alih bahasa
oleh Aboe Bakar, 2015, Pusat Dokumentasi dan Informasi Acheh, hlm. 5. Surat ini dikirim oleh Antonio Pinto da FONSECA, Melaka 9
Juni 1629.
[43]
Ibid., Kerajaan Acheh Dalam Dokumen Spanyol, 2015, hlm. 5.
[44]
Ibid., Kerajaan Acheh Dalam Dokumen Spanyol, 2015, hlm. 4.
[45] The Global Journal, 2012,
5 Ogos.
[46]
Abdul Samad Ahmad, 1958, Sejarah
Kesusasteraan Melayu, Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, hlm. 29-30.
[47]
Yusra Habib Abdul Ghani, 2000, Mengapa
Sumatera Menggugat, penerbit Biro Penerangan Acheh-Sumatera Merdeka
National Leberation Front, hlm. 28.
[48]
Wawancara dengan Adli Abdullah, calon PhD pada fakultas sejarah, Universitas
Sains Malaysia (USM) Pulau Pinang, 27 November 2015, Perpustakaan Tun Sri
Lanang UKM, Bangi Malaysia.
[49] Ibid, 2012, 10 Ogos.
[50] Michael Vatikiotis, 1999, Far Eastern Economic Review, Vol: 162 No. 30, hlm. 17.
[51]
The global Journal, 2012,
8 Mei.
[52] Anthony Reid, 1969, The Contest for North Sumatra: Acheh, the Netherlands and Britain,
London, hlm.1.
[53] Wilfred Cantwell Smith, 1957, Islam In Modern History, Princeton, hlm. 38.
[54] Hamka, 1981, Dari Perbendaharaan Lama, Penerbit Pustaka
Antara, hlm 247-248. Di antara anggota Parlemen Acheh terdapat beberapa wanita
(Lihat: tulisan miring). Sahil, Bujang Jumaat, Ahmad Bungsu, Abdul Yatim,
Abdurrasyid, Faimir Said, Iskandar, Ahmad Dewan, Mayor Thalib (asal Turki), Si
Njak Bunga, Si Khalifah, Ahdal, Abdul Ghani, Abdul Majid, Si Sanah,
Khoja Hamid (asal Turki), Isa, Hidayat, Si Njak Bunga, Munabinah, Siti
Cahaya, Makhiyah, Si Bukih, Si Saman,
Ahmad Jamil, Bin Muhammad, Si Njak Ukat, Khoja Nasir (asal Turki), Si
Manyak Puan, Abdul Wahid, Malik Saleh Samir, Khatib Mu’azhzham, Imam
Mu’ahhan, Abdurrahman, Badai, Bujang Aransyah, Penghulu Muallim, Sri Dewa,
Si Syahid, Si Banyak, (Tidak jelas….), Si Njak Reihi, Ahmad Ratib Si Minhan, Si
Jibah, Mustafa, Si Syidin, Si Rajuna, Si Aman Khan, (dua orang jelas
namanya), Khoja Rahsia (asal Turki), Badai ’Atuq, Uli Puan, Siti Awan, Si
Njak Angka, Si Aman, Si Njak Tampli, Abdul Muqim, Si Mawar, Si
Manis, Abdul Majid, Ibrahim, Abdullah, Umar, Abdurrahim, Muhyiddin, Harun
Abdul Muthalib.



