Bicara soal pèngè dan pèng pada akhirnya bicara soal moralitas dan mentalitas. Dengan managemen yang professional dan pengaturan pèngè yang terkontrol, telah menempatkan Denmark pada urutan pertama sebagai negara yang teraman di dunia dan urutan keempat terbaik di dunia dalam hal mensejahterakan rakyat di bawah urutan Island, Norwegia dan Sweden. Yang lebih menarik lagi, semua negara yang disebut terakhir ini berada di kawasan Scandinavia. Sementara pengaturan pèng melalui managemen yang amburadul, telah berhasil menempatkan Acheh sebagai Provinsi terkorup se-Indonesia dan se-Asia Pacific. Tapi, biarkan saja ICW dan APCW berpikir general tentang moralitas dan mentalitas PNS Acheh, tokh masih menurut ICW, bahwa "Gorontalo adalah Provinsi yang terkorup di dunia". Kemanapun pergi, pèng akan kukejar, hingga ke ujung dunia sekalipun. Senyumlah!
Ketika King Pop Michael Jackson dilepas dari Triple
Centre (06/07/09) lalu, secara filosufis Queen Latifah (berkulit hitam)
berkata: “Yang sudah tiada akan kita saksikan sebagai sesuatu yang akan
tiada lagi, tapi Michael Jackson selamanya dikenang sebagai penyanyi ulung di
dunia.” Seorang anggota Kongress USA, wanita berkulit hitam, juga
mengatakan: “Michael Jackson telah meruntuhkan tembok racisme antara black
and white di Amerika Serikat yang sangat menjengkelkan itu. Dunia telah menjadi
saksi.” Di akhir pidatonya, dia persembahkan kepada ahli waris sebuah
plakat yang ditandatangani oleh 600 orang terkemuka. Isinya penobatan Michael
Jackson sebagai penyanyi legenda yang bernilai universal. Memang diakui bahwa:
sentuhan lagu “black or white”, bermaksud mengubur racisme dan bermaksud untuk
membangun cinta dan kedamaian. Namun segala terbatas, seperti bunyi kalimat
yang terpampang pada moniter di gedung Triple Centre: “ada orang bilang,
langit itu terbatas; aku setuju dengan ucapan ini”. Keratan kalimat “langit
itu terbatas” membayangkan bahwa manusia juga pemilik sah dari ketidak
sempurnaan dan keterbatasan. Itu sebabnya, untuk menilai seseorang jangan
melihat dari satu arah pandang, terlepas sanjungan ke atas Michael Jackson
mengalir deras ke jiwa manusia segala generasi. Tetapi ada sisi lain, yakni:
realitas moral atau jati diri’ yang melekat dalam diri Jackson akan berguna
sebagai pelajaran, misalnya: kedua anaknya tidak mengenal Ibu kandungnya
(Debbie Rowe) yang selama ini kenyang (tamak) dengan agihan uang Rp 400 juta
setiap tahun dari Michael Jackson, untuk tidak mengasuh anak kandungnya.
Kemudian, menyisakan masalah: hak mengasuh ketiga anaknya. Kini sedang menjadi
perdebatan hangat antara Gloria Allred (kuasa hukum Debbie Rowe, bekas Isteri
Michael Jackson) dan Wendi Murphy (kuasa hukum dari famili Jacko) yang sangat
mengecam prilaku Debbie Rowe.
Realitas lain ialah: Michael Jackson yang ketika
dibaptis bernama Michael Joseph lahir pada 29. Agustus 1958 di Gary, Indiana
dari pasangan Joseph dan Karen Jackson, dari keturunan orang berkulit hitam dan
sah berkulit hitam. Lantas, yang terjadi adalah: Michael Jackson mengingkari
kodrat Tuhan dalam ucapannya: “Aku orang kulit putih dan isteriku berkulit
hitam. Aku tidak senang berkulit hitam dan lihat anak-anakku, mereka semua
berkulit putih.” yang dibeberkan secara gamblang dalam Oprah Winfrey Show
tahun 1990-an tentang: mengapa dia mengubah kulitnya dari warna hitam manis
menjadi warna putih dan tindakan Joseph (Ayah Michael Jackson) yang disiplin,
sering menggebuki dan bertindak otoriter terhadap dirinya. Sekiranya tidak
diperlakukan demikian, mungkin tak jadi begini Michael Jackson. Tapi semua itu
hanyalah andaian-andaian dan sah-sah saja berkata demikian. Yang pasti, di mata
Michael Jackson, tindakan Ayahnya disifatkan sebagai bentuk ‘neo kolonialism’
atau “neo-liberalism” yang membenarkan dan membebaskan segala tindakan
kekerasan berlaku dalam lingkungan keluarga yang mengatas namakan kuasa atau
otoritas orangtua. Streotype orang seperti “Joseph- Joseph”, bertabur dan
menjamur dalam masyarakat kita, yang pada umumnya memandang anak bukan sebagai
mitra bicara, melainkan objek dari kuasa orangtua.
Biarlah jutaan orang –terutama fans-nya– larut dalam
kenangan, yang tidak menyangka kalau ‘king of the pop music’ itu akan
tersungkur dan terkubur dan meluahkan rasa fanatisme dengan ucapan: ‘Michael
Jackson hanya sekali mati, akan menghidupkan dan menghadirkannya dalam relung
hati kami lewat sentuhan lagu-lagunya.’ Jutaan orang memang telah mengantar
dan menitipkan Michael Jackson kepada kandungan bumi agar setia mengasuhnya.
Orang hanya bisa memakamkan jasadnya, tetapi siapa pun tidak akan mampu
menguburkan warisan penyakit jiwa Michael Jackson -‘inferiority complex’-
yang dideritanya sejak dia menjadi artis pujaan yang populer. Penyakit ini akan
terus menular sepanjang masa dalam masyarakat mana saja dan dimana saja; yang
bahayanya akan mampu mengalahkan wabah flu burung dan flu babi yang merebak
seleruh dunia.
’Inferiority complex’ adalah sutu jenis penyakit
jiwa, di mana seseorang kehilangan kekuatan jiwa; kehilangan percaya diri;
selamanya tergantung kepada kehendak orang lain; merasa dirinya lebih rendah
derjatnya daripada orang lain. Hal ini bisa saja terjadi karena bentuk fisik
yang tidak secantik orang lain; kulitnya tidak semulus orang lain; warna
kulitnnya tak seputih bersih orang lain; hidungnya tidak semancung orang lain;
fosturnya tubuhnya yang panjang ’semeter kotor’ tidak sesemampai dan seganteng
orang lain. Sebagai contoh: seorang
gadis cantik USA, salah seorang patient dari Dr. Phill [Psycholog massa yang
kondang di USA], mengaku telah mengeluarkan puluhan ribu dollar USA, melakukan
operasi plastik untuk merombak wajahya, secantik wajah Jennefer Winston
-bintang film “Friend”- itu. Operasi plastik ini tidak sepenuhnya berhasil atau
persis seperti wajah yang diinginkannya. Maklum saja plastik tak tahan lama
kena sinar Matahari. Wajah gadis yang sebelum ini juga cantik, berubah menjadi
Jenneffer palsu yang tidak cantik lagi. Gadis itu pun menyesal dan menangis
sejadi-jadinya di depan Dr. Phill. Sang dokter memberitahu walau pun nasihatnya
sudah terlambat; “meniru adalah proses alamiah dan hal yang wajar, tetapi
tidak mesti dalam bentuk meniru fisik, melainkan meniru moral dan prestasi
seseorang, disesuaikan dengan potensi diri”. Gadis ini terserang penyakit
jiwa ‘inferiority complex’. Ciri-ciri lain dari penyakit jiwa ‘inferiority
complex’ ialah: orang merasa malu bertutur dalam bahasa Ibunya -bahasa asli-
sebaliknya merasa bangga bertutur dalam bahasa asing; membungkuk dan tabik
kepada orang lain, sebab merasa derajat dirinya dan suku (ethnic)-nya lebih
rendah daripada orang dan suku lain; merasa malu memakai pakaian adatnya,
sebaliknya merasa dirinya mulia dan terhormat ketika memakai pakaian adat suku
asing; orang malu membubuh nama berciri sukunya sendiri, sebaliknya merasa
bangga memakai nama dari suku lain. Misalnya, ketika di kampung bernama Teuku
Djunéd, setelah bermukim di Jakarta bertukar menjadi Turino Junaidi; ketika di
kapung bernama Ipak Bensu, setelah tinggal di Medan menukar nama menjadi ”Boru
Butèt”; menukar nama kota dan kampung halaman berciri adat dan sejarah kepada
nama berciri etnis lain.
Kisah nyata ini mengingatkan kita kepada kehidupan
pribadinya Michael Jackson yang menderita penyakit jiwa ‘inferiority complex’,
yang telah menukar kulitnya dari warna hitam kepada warna putih; mengubah hidungnya dari sedikit pèsèk menjadi
lebih mancung dan rambut yang keriting ikal menjadi hitam lurus bagaikan lidi,
dengan membelanjakan jutan dollar USA. Akhirnya, wajahnya yang manis menarik
itu rusak binasa, kulitnya tidak bisa lama terkena sinar matahari, sebab bisa
keriput dan nyeri. Sehingga kemana saja pergi selalu dipayungi, karena takut
pènyok! Michael Jackson telah kehilangan percaya diri dan kebanggaan sebagai
orang berkulit hitam; merasa dirinya lebih populer berwarna kulit putih
ketimbang berkulit hitam; kehilangan percaya diri yang mengira lebih mulia
berkulit putih daripada berkulit hitam. Dia menyiksa diri dengan rasa nyeri dan
ngilu di sekujur tubuhnya. Untuk mengusir rasa sakit ini, telah membelanjakan
lebih dari Rp 450 juta setiap bulan dan selalu dihantui oleh perasaan
‘hypochondria’ (kekhawatiran yang berlebihan terhadap kondisi kesehatan).
Dalam dunia psychology juga dikenal istilah lain
‘skizofrenia’, yakni: penyakit otak yang timbul akibat ketidak seimbangan pada
dopamine, yaitu: salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa
psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan respons emosional dan
menarik diri dari hubungan antar pribadi normal. Kerap diikuti dengan delusi
(keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).
Semua ini berhubungan dengan neurosis atau disebut juga dengan ‘psikoneurosis’,
yang merujuk pada ketidak seimbangan mental yang menyebabkan stress. Sahabat
Jacko, Tarak Ben Ammar, menuduh para dokter pribadinya telah memanfaatkan
‘hypochondria’ yang diserita Jacko untuk merusak wajahnya dan menawarkan obat
penenang, sebagai alasan untuk meraup uang. Michael Jackson juga khawatir kalau
dia mati mendadak, seperti dituturkannya kepada Lisa Marie Presley, yang
dinikahinya pada 18 Me 1994 dan bercerai 18 Januari 1996, yang akhirnya menjadi
kenyataan pada 25 Juni 2009, dimana Los Angeles Coroner Office memberi tahu dan
membenarkan bahwa Jackson mati karena serangan jantung. Sementara itu, Brian Oxman (pengacara keluarga
Jackson) mengatakan: “Jackson ambruk di rumahnya di Los Angeles, California”.
Satu hal yang harus kita pahami disini adalah: dalam
falsafah warna, hitam adalah simbul dari keagungan dan kemegahan, sementara
putih adalah warna murahan (kelas kaki-lima). Jacko lupa akan hal ini! Lihat:
mobil mewah berwarna hitam pekat yang ternyata ditumpangi oleh Jacko yang
dibungkus dalam keranda; termasuk puluhan mobil warna hitam yang mengantarkan
ke lokasi pusara. Jacko tidak sadar, kalau dia populer seluruh dunia,
sebenarnya bukan karena kulit putihnya yang palsu dan murahan itu, akan tetapi
karena dia warna hitam dari keturunan orang berkulit hitam. Banyak orang coba
melupakan atau menyembunyikan kebenaran ini. Benar ia sudah pergi dan tak akan
kembali lagi. Tetapi Jacko tak pernah
akan mati, sebab jutaan orang di seluruh dunia terus mewarisi, menghidupkan dan
menularkan penyakit jiwa ‘inferiority complex’ yang diderita Michael Jackson.
SIAPA menyangka, kalau
Ramses 1 –berpengaruh dan pemegang tampuk kekuasaan tertinggi rezim Fira’un–
berasal dari suku minoritas (Lewi) yang disokong oleh suku Ruben, Simeon,
Yehuda, Isakhar, Zebulon, Dan, Naftali, Gad, Asyer, Yusuf dan Benyamin,
berkata: ’Akulah Tuhan kalian yang paling tinggi’ (An Nazi’at: 24) dan “Aku
tidak mengetahui Tuhan bagi kalian selain aku” (Al Qashash: 38); diam-diam
ternyata menyimpan sejuta rasa takut (’phobos’) yang terlalu akan keselamatan
masa depan kuasanya di Mesir dari ancaman kaum mayoritas –Ibrani Bani Israel–
pendatang dari Kan’an ke Mesir yang dianggap asing (xenos), sehingga
mendorongnya untuk mengusir secara paksa ke tanah asalnya (Kan’an/Yerusalem).
Gejolak jiwa yang resah ini, dalam psykhologi disebut ’Xenophobia’ yang berasal
dari perkataan ’phobos (rasa takut) dan ’xenos’ (asing). Dengan kata lain, suatu perasaan cemas dan
ketakutan yang terlalu terhadap sesuatu yang dianggap asing (xenofobia) yang
diyakini dapat menggugat kedaulatan seseorang individu, keluarga, organisasi
(partai), bahkan kekuasaan. Fenomena kejiwaan individual dan kolektif ini boleh
mengarah kepada tindakan ’uncivilize’, yang mengatas namakan melindungi
kemurnian identitas maupun kekuasaan yang mungkin dirampas dan digilas oleh
pihak lain. ’Xenophobia’ juga dapat berpunca dari perasaan racisme dan
diskriminasi yang merangsang Fira’un untuk ’menyembelih anak laki-laki mu dan
membiarkan hidup anak-anak perempuanmu’ (Al-Baqarah: 49).
’Xenophobia’ boleh jadi muncul oleh karena kecemburuan
yang terlalu mengkristal menjadi rasa kebencian, seperti yang dialami oleh Nabi
Yusuf AS sewaktu kecil –dianggap asing– oleh sebab dipercayai akan menggugat
kribelitas saudara kandungnya yang kemudian sanggup mencemplungkan Yusuf
kedalam sebuah telaga tua di padang pasir, seperti dikisahkan: ’Wahai anakku!
Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan
membuat tipu daya untuk membinasakan mu.’ (Yusuf: 5). Bahkan ’xenophobia’ boleh
terjangkit oleh sebab perbedaan kepentingan politik dan ideologi suatu
kelompok. Misalnya, pada tahun 2009-2014, apabila Partai Acheh (PA)
menguasai parlemen dengan suara mayoritas (48 kursi mewakili PA dari 69 kursi
anggota DPRA), merasa cemas dan ketakutan kepada lain yang dianggap asing
(’xenophobia’), karena komponen masyarakat lain mau membentuk partai lokal
(Parlok) dan percaya bahwa, yang berhak eksis di Acheh hanya PA. Agenda politik
PA akhirnya terhempas diterjang ketentuan perundangan RI yang tidak membatasi
untuk mendirikan Parlok di Acheh. Selain itu, ’xenophobia’ juga diakibatkan
oleh perasaan takut kepada orang yang berbeda kepercayaan, suku, ketidak
mampuan bersaing dalam pentas politik dan perebutan status sosial. ’Xenophobia’
model inilah melanda jiwa umat Islam –khususnya dalam kancah memenangkan
Pilkada DKI Jaya 2017– yang menghadirkan Basuki Cahaya Purnama (Ahok) beragama
Nasrani yang diyakini menodai kemurnian iman berdasarkan teks qur’an
(Al-Maidah: 51), yang ’melarang orang Islam memilih pemimpin dari kalangan
non-muslim.’ Bukti umat Islam mengidap ’xenophobia’ digambarkan bahwa ’Kami
berikan cobaan kepadamu dengan ketakutan...’ (al-Baqarah: 155) yang ditandai
dengan aksi solidaritas yang melibatkan jutaan umat Islam bertunjuk rasa di
Jakarta. Aksi ini adalah refleksi dari perasaan ketakutan (’Xenophobia’ politik
Islam), bukan simbol keberanian umat Islam.
Refleksi ketakutan inilah yang mengantar Anies Bawean ke
jenjang tampuk kuasa di Jakarta pada pilkada 19 April 2017. Di daerah lain
tidak muncul gejolak politik ’pada pilkada 2016 di kepulauan Sula, Maluku Utara
yang penduduknya 97% terdiri daripada umat Islam; telah terpilih Hendra Teis
–seorang pengusaha keturunan China beragama Protestan– sebagai Bupati. Penduduk
Kepulauan Sula punya pertimbangan sendiri untuk menyukai dan memilihnya; walau
pun ada pihak tertentu yang me-’review’ ke Mahkamah Konstitusi (MK). Tapi MK
telah menetapkan bahwa Hedre Teis sebagai Bupati yang sah mengikut
undang-undnag. Jadi, jika dalam pilkada Jakarta ternyata kawannya Hendra
tidak terpilih, berarti penduduk DKI tidak menyukainya. Jika sebaliknya -
terpilih- maka umat Islam mesti belajar dari realitas ini.’ (Ucapan Prof. Dr.
Jimly Assiddiqie, dalam suatu forum diskusi baru-baru ini). Pada gilrannya,
’xenophobia’ juga melanda politisi Acheh dan budayawan yang berasal dari suku
mayoritas di Acheh, merasa cemas dan takut dengan kehadiran Mante (pihak asing)
dalam video yang berhasil derekam oleh sekelompok mengendera trayler di sebuah
lokasi pedalaman Acheh Besar yang nampak telanjang bulat, seperti dilaporkan
oleh Tabloid Lintas Gayo dan Serambi Indonesia. Pada hal suku mayoritas
Acheh, mengikut sejarahnya terdiri dari empat suku utama, yaitu Sukèë lhèë
reutôh ban aneuk drang (Kaum tiga ratus bagaikan anak drang), Sukèë Jak Sandang
Jeura haleuba (Kaum Jak Sandang bagaikan Jeura haleuba), Sukèë Tok Batèë na
bacut-bacut (Kaum Datuk Batu ada sedikit-sedikit), Sukèë Imeum Peuët njang
gok-gok donja (Kaum Imam Empat yang guncang dunia) –yang suatu ketika dahulu
pernah konflik horizontal berebut kuasa di Acheh. Bertuah Sultan Ali
Mughayatsyah (1511-1524) berhasil mematahkan obsesi mereka masing-masing dan
sampai sekarang tidak seorang berani mendakwa dirinya sebagai salah satu
keturunan dari empat Suku utama tadi.
Suku Mayoritas inilah, secara diam-diam menyimpan rasa
takut (’xenophobia)’ dengan kehadiran Mante. Perasaan takut tersebut
dibayang-bayangi lewat kalimat: ’bagaimana kalau suku mante bersatu, lalu buat
organisasi dan Parpol, kemudian mengusir kita dari Acheh dengan alasan mereka
pribumi asli sedangkan kita pendatang.’ (Lintas Gayo, 30 Maret 2017). Fenomena
ini hanyalah simbol dari ketakutan suku mayoritas terhadap masa depan
politiknya, sebab melalui proses alamiah ’kesadaran politik mereka (baca: Mante
atau suku minoritas lain di Acheh) dapat menggerakkan apa pun.’ Oleh itu,
saatnya difikirkan supaya ’orang Acheh (baca: suku mayoritas) memerangi suku
Mante karena takut terusir’ (Lintas Gayo, 30 Maret 2017) untuk menyelematkan
dominasi politik suku mayoritas yang ’dianngap sebagai kaum penjajah’. (Lintas
Gayo, 30 Maret 2017). Dalam koneks ini, yang membedakan antara
’xenophobia’ yang diderita Fira’un dan politisi Acheh adalah, jika Ramses 1
(dari suku minoritas Lewi) ’curi start’ untuk mendominasi politik (menjajah)
daripada digilas oleh (suku mayoritas Ibrani), sementara ’xenophobia’ politisi
Acheh (dari suku mayoritas Acheh) mendominasi politik dan berencana ’memerangi
suku Mante karena takut terusir’. Fenomena psykhis dan sosial-politik tersebut
adalah normal, bahkan terbaik bagi suku mayoritas di Acheh demi menjaga dan
menyelamatkan kemurnian identitas Ke-Acheh-annya.
Sebetulnya, mengikut pelbagai referensi, Mante (makhluk
misteri yang secara 'genetical') hidup dalam rimba Acheh, diakui telah dilihat
langsung oleh beberapa saksi mata dan memberi testimoni. Snouck Hurgronje
menyebutnya suatu ras Mantran yang hidup di hutan sekitar Acheh Besar,
sementara Yunus Melalatowa menyifatkan Mante sebagai suku terasing dalam rimba
Acheh; namun tidak siapa pun dapat dan berani bersaksi memastikan namanya
adalah Mante. Bagaimana pun, 'Mante genetical' tersebut baru akan memiliki legitimasi
secara ilmiah, jika DNA-nya telah ditest melalui laboratorium. Mana tahu,
kalau kehadiran Mante terbukti lebih tua daripada éndatu orang Gayo yang sudah
menetap di persekitaran Loyang Mendali sejak 8000 talaun yang lampau. Bahkan
usaha mengadakan research sudah pun direstui oleh Kementerian Sosial RI. Dalam
ilmu sosial segalanya tidak muntahil! Masalahnya, contoh yang dijadikan figur
Mante itu sudah ratusan bahkan ribuan tahun wujud di rimba Acheh namun belum
juga dapat dipastikan. Terlepas dari semua itu, lupakan buat sementara
kisah ’xenophobia ’ Ramses 1, saudara kandung Nabi Yusuf, politisi Acheh dan
'Mante genetic'. Ianya tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kehadiran
’Mante Politisi’ (politician Mante) yang eksis dalam atmosfer politik dan
kekuasaan, tidak kalah nekad mempamerkan aksi 'telanjang bulat' –tanpa perasaan
malu- di mata Allah dan manusia untuk melakukan tindakan tidak terpuji –secara
peribadi maupun bergerombolan– menggarong kekayaan negara melalui profesi
masing-masing hingga menyebabkan Acheh diklasifikasi sebagai provinsi termiskin
ke-dua se-Sumatera di bawah Provinsi Bengkulu. Rekaman video sosok telanjang
bulat yang disiarkan oleh kumpulan trailer baru-baru ini, secara psykhis-sosial
adalah suatu simbolik bahwa, 'politician Mante' berdasi, sebenarnya dikenal
pasti (telanjang bulat) telah merugikan negara secara terencana dan sitematik.
Tragisnya, 'politician Mante' tersebut dengan gerak cepat melakukan manuver
politik, bersembunyi dan menyelamatkan diri di sebalik semak belukar, yaitu
sistem politik yang sudah dibangun, memberi perlindungan kepada 'politician
Mante' untuk tidak dapat dikesan, ditangkap, ditahan dan diadili.
Lebih menggelikan lagi, apabila ada pihak yang
berpura-pura memburu dengan menggunakan senjata galah panjang –lihat video
rekaman yang beredar secara meluas– yang diperagakan, boleh dianggap lucu dan
hal ini tindakan irrational. Artinya, untuk menangkap 'politician Mante',
terlebih dahulu memberi aba-aba bahwa mereka sedang dikejar. Padahal, semak
belukar itu adalah jaringan birokrasi kekuasaan –benteng pertahanan– tempat
politisi bajingan ini berlindung. Rakyat tidak akan mampu menerobos, apalagi
menangkap 'politician Mante', selagi sistem politik tidak diubah secara
mendasar. Walaupun dari sisi lain, Snouck Hurgronje menyifatkan Mante
sebagai ’tingkah kebodoh-bodohan dan kekanak-kanakan,’ bahkan ada yang
menyebutnya sebagai kisah ngarut; namun secara simbolik, ianya wujud dalam
romantika peradaban manusia. Jadi, dalam konteks politik Acheh, ’xenophobia ’
terhadap 'Mante genetic' tidak berarti apa-apa, berbanding ’xenophobia ’
terhadap 'politician Mante' yang sedang menggerogoti bangunan tamadun sebuah
bangsa dan negara.



