Notification

×

Iklan

Iklan

Perdanamentri Negara Acheh Darussalam, Dinobatkan sebagai Kepala Negara Acheh Darussalam diakui oleh 19 Negara di Eropa.

Ahad, 9 November 2025 | November 09, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-20T07:37:52Z

 

SUNGGUH luar biasa, Yusra Habib Abdul Gani yang menyorot Mentalitas dalam Sastra Acheh (opini di Serambi, 7/4/2008). Ini kemudian mengusik saya sebagai orang Acheh. Saya tidak kenal persis siapa Yusra, tapi saya yakin ia orang Acheh yang tinggal di Denmark entah sementara atau memang warga negara di  sana. Dan itu tidak penting, dari tulisannya saya menangkap ada kekecewaan atas kedamaian yang saya dan anda rasakan selama ini sebagai pengorbanan GAM dan RI demi kita-kita ini yang sangat lemah. Tulisan itu, awalnya mengalir dan membelah mentalitas melalui sungai sastra di  negeri ini, tetapi ujung-ujungnya mengalir dan membelah mentalitas Acheh melalui  sungai politik yang terjadi di negeri ini, sebuah kekecewaan atas sikap yang  diambil petinggi GAM atas bertekuk lutut untuk tidak merdeka dan berdamai  dengan Pemerintah RI. Dan pernyataan yang menyesalkan Zaini Abdullah, Malik Mahmud dan petinggi GAM lainnya atas sebuah sikap yang sangat heroik menurut  saya, mundur selangkah untuk memberi kehidupan yang lebih baik bagi rakyat  Acheh, demi rakyat yang was-was dan merasa tidak nyaman selama perang.

 

Tulisan itu juga mengambarkan sosok Orang Acheh yang mudah diterkam dan  dicengkram dengan uang dan mudah membuat kesepakatan untuk mengadaikan apa saja  termasuk Acheh karena sikap dan sifat mataduitan dan beberapa kalimat yang  katanya sastra yang salah diartikan dan ini sangat bertolak belakang dengan  kenyataan bahwa perang Acheh dengan Belanda dan perang sipil yang baru berakhir  tidak dapat diselesaikan dengan uang, jika dapat diselesaikan dengan uang,  mengapa negeri ini dianggap negeri yang tidak bisa dikuasai Belanda, sampai  tahun 1900-an pahlawan-pahlawan Acheh terus berjuang untuk menunjukan kepada seluruh bangsa, malaikat dan Allah di atas sana bahwa Orang Acheh memang tidak  bisa dibeli dan tidak bisa dibendung akan tingginya kehormatan mereka.  Sementara itu seluruh bangsa di Jawa, Sumatera non Acheh, Kalimatan dan bagian Indonesia lainnya, mereka sudah menyerah, bahkan tidak mendapat apa-apa atau  mungkin juga mendapat banyak uang dan keuntungan dari Belanda, namun ketika  itu, Orang Acheh sibuk bermandikan darah dan air mata, mencabik perutnya karena  melawan arogansi Belanda yang modern sementara Orang Acheh hanya memiliki  senjata seadanya.

 

Demikian juga dengan Perang Sipil baik antara GAM dengan RI, DII/TII dengan RI  berlangsung dalam kapasitas yang sangat mengerikan dan membuat bangsa ini dicap sebagai bangsa dan sumber pemberontakan, namun DI/TII diselesaikan dengan cara  yang damai, dengan cara yang bermartabat, dengan cara yang menggugah, bukan dengan uang apalagi mengadaikan negeri ini,  Yusra mungkin belum pernah mendengar Hadih Majah Acheh, Pat Hujeun yang Hana Pirang, Pat Prang yang Hana Reuda. Dan mungkin juga ia tidak tahu bahwa Orang Achehlah yang telah membantu Republik Indonesia dengan uang agar negeri ini bisa merdeka dengan kehormatan dan martabat, inilah yang dimaksud dengan Meunyoe na Pakat Lampoh Jrat ta Peugala, suatu makluk sastra harus dilihat dari semua sisi, terutama yang dari positif, bukan pakai kacamata kuda.

 

Demikian juga pengorbanan petinggi GAM untuk tidak merdeka dan mau mundur selangkah untuk berdamai, tidak ada jeleknya sebuah ketetapan hati dan prinsip  diubah untuk kebaikan, saya yakin dan percaya GAM dan RI akan mempunyai  kekuatan dan kemampuan untuk mengobarkan perang yang panjang dan mematikan  dengan sikap dan ritme yang mengoncangkan kalbu masyarakat sipil, dunia  internasional, masalahnya TNI dan GAM bukan hidup sendiri, mereka hidup  berdampingan dengan dengan makluk lemah lainnya yang dinamakan masyarakat sipil  dan masyarakat Acheh, peluru mereka bukan hanya menyapa dan dialamatkan kepada  sesama mereka yang bertarung di medan perang tetapi lebih sering menyapa dan  mencekik serta menerkam mereka yang lemah.

 

Gempa dan tsunami yang menghantam, telah kembali melemahkan Orang Acheh dan  semua mereka yang tinggal di wilayah Ji´ee ini, membuat semua orang, seluruh  dunia, kristen sampai yang tak punya agama merasa iba, kasihan, mengulurkan  tangan, apalagi Orang Acheh sendiri (GAM-SIRA) dan Indonesia (TNI-Polri),  karenanya mereka terpaksa mengkaji ulang prinisp mereka seperti diantaranya  dilakukan oleh Malik Mahmud dari prinisp Éndatu kita sudah perangi Belanda,  sekarang giliran kita perangi Indonesia; ... jika tidak punya bedil, kita pakai  pisau; ... jika tidak punya pisau, kita gunakan tangan; ... jika tangan diikat, kita ludahi; ... jika tidak punya ludah, kita pelototi menjadi prinisp mengalah  untuk menang dengan menandatangani MoU Helsinki atas nama demokrasi dan atas  nama rakyat yang sudah lelah dihantam perang dan digoyang gempa serta ditendang  tsunami sehingga menjadi kumal dan kotor, orang yang kalah dari gempa dan  tusnami terkapar menjadi mayat terkadang terlentang bertelanjang di tengah  lumpur yang kala itu terkadang hanya dilihat saja, baru beberapa kemudian diangkut.

 

Snouck memang sudah pergi dan mati, tetapi pandangannya yang sangat provokatif  rupanya masih hidup dan mengalir dari kubur, ibarat lagu Elvis Presley dan Bob Marley yang masih dinyanyikan dan didengarkan oleh penggemarnya di seluruh  dunia, pendapat Snouck begitu mudah dikutip dan dinyanyikan serta didengarkan  para pengemarnya, kendatipun mereka tidak tahu apa yang mereka dengarkan dan  ucapkan dari baik lagu tersebut. Membuat satu pengadilan di atas kertas dengan mengutip sebait kalimat yang  hidup dalam masyarakat, kemudian dikatakan sastra adalah sangat dhaif. Dulu  saya begitu percaya dengan kalimat bahwa orang Melayu pemalas, sejak membaca buku SA.Alatas yang berjudul "Mitos Pribumi Malas". Saya baru mengerti bahwa itu hanya stigma pembenaran untuk menjajah Orang Melayu. Dulu saya begitu percaya dengan pendapat bahwa jangan kasih numpang jualan kepada Orang Pidie, nanti mereka akan masuk ke dalam toko anda sebagai pemilik, setelah saya lihat begitu banyak orang Pidie yang harus gulung tikar bahkan terkadang tidak ada lagi tikar yang harus mereka gulung, saya mulai percaya bahwa jiwa dagang ada pada semua Orang Acheh. Dulu saya juga sangat percaya dengan pendapat betapa dungunya orang Simuelue yang punya uang namun membeli kulkas kendatipun belum ada aliran listrik, sekarang saya tahu orang Simeulue adalah Orang yang paling taat beragama dan mau belajar menuntut ilmu, di Meulaboh sebagian besar masjid di kota kami digerakkan oleh Orang Simeulue sambil menuntut ilmu.

 

Ketika membawa tulisan Yusra saya teringat akan sebuah buku yang diberikan oleh Orang Scientology, kalau di Acheh mereka dikenal sebagai orang massage, tukang kusuk bukan tukang pijat ketika awal tsunami dulu. Ada satu hal yang diajarkan buku tersebut juga para scientology kepada saya bahwa jika seseorang menemukan sebuah kasus kemudian mengeneralkan kasus tersebut sebagai sebuah pendapat umum, maka orang itu sudah dapat diindikasi memasuki tahap awal kegilaan. Misalnya, dulu ketika perang kolonial, ada seorang atau dua orang Acheh atau katakanlah seratus Orang Acheh melakukan menyerang sporadik dan individual kepada pasukan Belanda dengan parang dan senjata alakadar dan seadanya kemudian pihak Belanda menyebutnya dengan Acheh Mord atau Acheh Pungo. Ini berarti pemerintah Kolonial Belanda sudah memasuki awal kegilaan dan malas berpikir.  Jika Anda menemukan ada Orang Acheh yang mata duitan dan mudah menggadaikan apa yang bisa mereka gadaikan, kemudian Anda mengatakan semua Orang Acheh seperti  itu, maka Anda sudah dianggap orang yang malas berpikir dan sedang menuju  kepintu kegilaan, di Acheh memang banyak orang sudah gila.

 

SUKA atau tidak suka kepada oknum yang meng-generalisasi-kan orang yang hidup di "dunia ketiga" sebagai bukan manusia, itu urusan lain. Yang pasti, Jean Paul Sartre (filosuf aliran existensialisme) asal Perancis, dalam "From Two Billion Pupolation of the Earth" menyimpulkan bahwa "Kaum penjajah mempercayai bahwa lima ratus juta umat manusia saja yang dinilai "manusia", selebihnya satu setengah milyar adalah "pribumi" yang tidak memiliki keistimewaan dan mereka ini terdiri dari "dunia ketiga". [1] Penilaian Sartre didasarkan kepada realitas kehidupan (mentalitas) manusia yang hidup di "dunia ketiga" yang tetap taqlid kepada pemikiran Barat dan sangat sulit menghindar dari ketergantungan ini. Ini kosekuensi logis daripada penjajahan Eropah ke atas bangsa-bangsa di Dunia ketiga. Tetapi, sehina itukah eksistensi manusia di "dunia ketiga" di mata Sartre [Barat]? Padahal Dunia Timur punya sederetan pemikir cemerlang berskala internasional. Lantas, apa respons kita untuk membela maruah dan sentimen ke-Timuran? Ternyata Frantz Fanon menyahutnya dengan jiwa besar dan mencoba dan berjaya merajut nasionalisme Algeria yang ditindas oleh Perancis dengan ucapan: "Pada dasarnya perjuangan bersama memerlukan tanggungjawab dari awal hingga akhir. Tidak ada orang yang bersih tangannya. Tidak seorangpun yang tidak bersalah dan tidak pula menjadi penonton. Kita mungkin telah mengotori negeri kita sendiri dan dalam kehampaan pikiran kita yang mengerikan." [2]

 

Fanon mengajak semua orang untuk bersikap jujur mengakui bobroknya mentalitas dan kebekuan pikiran orang di Dunia ketiga. Untuk itu, satu-satunya jalan ialah menghidupkan rasa kebanggaan atas kekayaan budaya Algeria, misalnya: berpakaian tradisional, bertutur dengan bahasa asli sendiri, para sopir taxi yang melayani turist, mesti memperlihatkan karakteristik budaya Algeria dst... . Selain itu, memberi kesadaran politik kepada rakyat bahwa, perlawanan atas kebijakan atau pola pikir penjajah mesti segera dimulai, sebab penjajah adalah penghancur semua tatanan hukum, politik dan sosial budaya Algeria.[3] Artinya, menyalakan kembali api jihad dalam dada orang yang sudah padam. Begitu pula Dr Ali Syariaty [pemikir Islam] dalam buku: "Haji", tidak tersinggung dan tidak merasa dilècèhkan oleh tudingan Sartre, sebab dalam realitasnya, Ali Syariaty mengakui wujudnya dua kelas manusia: penindas sebagai pihak penggilas dan tertindas sebagai pihak yang tergilas. Tudingan Sartre, dijadikan Fanon dan Ali Syariaty sebagai cambuk untuk menyibak "aurat" mentalitas kita yang sebelum ini dianggap suatu hal yang tabu; menyuntik agar jaringan saraf yang beku terangsang dan berfungsi kembali; membangunkan dari tidur massal-nya untuk membaca, berpikir dan bersikap kritis. Dengan begitu, orang-orang tertindas dapat merajut kembali existensi-nya sebagai makhluk yang memiliki keistimewaan, berpikir bebas dan bisa menentukan pilihan dan arah masa depannya. Hanya saja, jika ucapan tersebut ditangkap melalui anténa pendek, akan sukar dicerna dan dipahami, karena rongga otak orang di "dunia ketiga" sudah dijejal dengan doktrin; tidak bebas berpikir dan mengeluarkan pendapat; miskin idé, menjadi mangsa dari pola pikir Barat. Walau pun ada segelintir berpikir cemerlang, tetapi mereka juga jebolan pendidikan Barat, yang sudah mengalami proses cuci otak (brain washing) yang sudah terbiasa mengunyah slogan-slogan Barat, "The white men's burden", "civilized and cultured" dan "domocratic way of life", hingga kehadiran mereka hanyalah sebagai corong (’walking lies’) Barat di tengah masyarakat kita. Sekarang, slogan-slogan tersebut ditukar kepada: "jaga persatuan", "waspadai gerakan seperatis" dan "nikmati perdamaian" yang dilontarkan oleh politisi dan golongan bourgeois lewat media massa: TV, Radio, Majalah dan Suratkabar, untuk didengar dan ditelan bulat-bulat oleh rakyat jelata.

 

Pembukaan "aurat" mentalitas "kita" oleh kedua tokoh pemikir Timur ini, telah membuahkan reformasi di Dunia ketiga.  Iran mencuat dengan peningkatan kesejahteraan; … Iran tidak punya hutang negeri; … pembangunan ekonomi terpadu; … paradigma ke-ilmuan dan pengembangan tehnologi modern. Sementara Algeria, bangga dengan agama dan karakteristik budayanya. Jadi, biar pun tudingan Sartre terasa menyakitkan, belum dijumpai scientolog yang menuding Sartre berpikir general dan memprediksi jadi gila. Dalam masyarakat Dunia ketiga (khususnya di Acheh), muncul dilema ketidak mampuan menyerap pandangan baru, menolak pencerahan dan mengurung diri dalam kejumudan. Hal ini terjadi karena sebelum ini sudah membiasakan diri mengunyah menu ilmu pengetahuan monoton, takut mengemukakan interpretasi bebas terhadap teks: sastera, agama, politik dan hukum. Misalnya, artikel: "Mentalitas Dalam Sastera Acheh" dimuat [Serambi, 7/4/08], yang ditanggapi Teuku Dadek (bekas Camat Johan Pahlawan) dalam judul: "Berpikir general bisa bikin gila" [Serambi, 8/4/08], yang mengaku sebagai suatu hal yang: "Sungguh luar biasa….". Keratan kalimat "...luar biasa..." di sini dipahami, selain karena analisa yang dipaparkan akurat, akan tetapi juga diartikan sebagai luahan perasaan dari seseorang yang kecewa dan mengabaikan '... sisi positif dari sastera Acheh, bukan pakai kacamata kuda.'

 

Paradigma ilmu, analisa sastera yang tajam dan intensive, bagi Teuku Dadek, sama sekali merupakan hal yang baru dan responsnya lebih merupakan apologia-centries ketimbang memahami secara ilmiah. Prilaku demikian, merupakan gambaran dari karakter manusia yang hidup di Dunia ketiga yang merasa malu dan tabu, andaikata "aurat" mentalitas kaumnya dibuka. Kita belum terbiasa menerima dan mengakui kelemahan diri. Masih terbius dengan aroma keharuman sejarah dan sastera; sementara orang lain memakai sastera Acheh sebagai senjata untuk membunuh karakter ke-Acheh-an dan menghanguskan nilai-nilai sejarahnya. Agaknya, respons Fanon dan Ali Syariaty dalam konteks memahami tudingan Sartre dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, khusus kepada Teuku Dadek yang berpikir cètèk dan masih terjebak dalam kejumudan berpikir. Selebihnya, respons Roger Garaudy terhadap pemikiran-pemikiran Barat sangat menarik dan ilmiah. Semua ini bisa memperkaya khazanah pemikiran. Untuk apa fatwa scientolog, kalau kita goblok!

 

Sebetulnya, saat meretas belantara sastera Acheh; yang kita jumpai bukan saja keharuman dan kekaguman, akan tetapi juga onak dan duri yang rencam dengan hal-hal yang menjèngkèlkan dan menyakitkan. Kebetulan dalam kajian sastera Acheh ini, saya temukan 'onak dan duri' dalam keputusan politik yang ternyata; Acheh selalu terjebak dan terjungkal dalam perjalanan sejarah politiknya atas sebab-musabab yang sama. Lazimnya, hanya Keledai yang jatuh dalam lubang yang sama. Oleh sebab itu, analisa yang tajam dan interpretasi intensive sangat perlu dan penting dalam kajian ilmiah, tidak terkeuali dalam sastera. Sambutlah kelahiran dunia baru, yang memeriahkan orang berpikir bebas, belajar mencerna dan menempatkan pendapat orang lain dalam pandangan kita. Tudingan Sartre harus diakhiri dan ditebus dengan mengerahkan segala kemampuan kita sebagai penduduk di Dunia ketiga. Dalam konteks inilah dinasehatkan: "Takarlah setiap orang dengan takaran akalnya dan timbanglah dia dengan timbangan pemahamannya, agar engkau selamat darinya dan dia bisa mengambil manfaat darimu. Jika tidak, maka akan terjadi penolakan karena perbedaan ukuran. Memberi ilmu kepada orang bodoh adalah kesia-siaan. Tidak memberi ilmu kepada yang berhak adalah kedhaliman."[4]



Nampaknya orang hanya memahami permainan sepakbola sebagai permainan rakyat, akan tetapi luput dari kajian bahwa permainan ini sebenarnya berkaitan langsung dengan aspek kejiwaan, pola pikir, politik dan cara pandang terhadap manusia itu sendiri. Mesir, Cina, Yunani dan Jepang dikenal pasti sebagai pelopor permainan ini dan sudah kenyang menimba ilmu tentang taktik menendang, memenangkan permainan hingga akhirnya timbul inspirasi bagaimana ”membolakan manusia”.  Rezim Firaun dengan moto “Ana Rabbukumul A’la” (“Aku Tuhan kalian yang maha agung”)[1], memperbudak rakyat Mesir untuk tujuan membangun Piramid dalam suatu lokasi yang dijaga ketat oleh aparat, hingga Allah swt turun tangan lewat sosok Musa –sorang Nabi dan Rasul– untuk membebaskan orang Mesir dari tindakan rezim Firaun. Moto Firaun inilah yang kemudian diadopsi oleh Federation Internationale de Football Association (FIFA), dimana wasit adalah “Tuhan” di lapangan yang putusannya tidak dapat dianulir.  Di Cina, orang diperlakukan bagaikan binatang untuk membangun tembok Cina. Sekarang penguasa Cina melakukan pembantaian terhadap rakyatnya di Tiananmen Square, Beijing pada tahun 1989, melakukan genocide di Provinsi Ningxia dan Xinjiang (mayoritas muslim) terhadap ethnis Hui dan Uighur, juga di Tibet. Orang Yunani kuno juga bertindak biadab, yang menghukum Socrates (pembela kebenaran dan keadilan) untuk minum racun yang bertujuan membunuhnya. Demikian pula kekejaman terhadap pasukan kuda Trojan[2] yang membunuh banyak orang. Demikian pula Jepang, yang berlaku biadab dalam perang Dunia kedua (1938-1945) di Asia Timur Raya khususnya. Jadi, disini akan nampak jelas bahwa: bangsa-bangsa yang punya peradaban dengan permainan sepak bola adalah sah sebagai pelopor pelanggaran HAM.

 

Tidak diduga kalau kemudian, Inggeris mempopulerkan permainan ini pada abad ke-19 dan seiring dengannya mendirikan klub sepak bola pertama di dunia, yakni “Sheffield Football Club” tahun 1857, membentuk Football Association (FA), untuk merumuskan “rule of the game” sepakbola tahun 1863. Permainan sepak bola pun mendunia dengan dibentuknya “International Football Association Board” (IFAB) tahun 1886, yang mula-mula beranggota “Irish Football Association”, “Scottish Football Association” dan “Football Association of Wales” yang saat itu bermarkas di Manchester. Kebangkitan persepakbolaan modern yang dipelopori Inggeris, disusul oleh Sepanyol, Portugal, Itali, Prancis, Jerman (Eropa), tidak terlepas dari idé yang mengadopsi konsep sepakbola zaman purba dan memodifikasi dari “membolakan bola” kepada “membolakan manusia” melalui konsep “colonialism”, “salvation”, “capitalism” dan “imprialism”. Spanyol misalnya, melalui tangan Ratu Isabela, memperhamba warga Muslim dan Yahudi dan memaksa mereka untuk menukar agama masing-masing kepada agama Nasrani. Sesiapa yang menolak, disuruh pilih: mati dibunuh atau diusir ke Afrika. Sepanyol pernah mengapalkan 3 juta orang Afrika ke Amerika Latin: Brazil, Peru, Nikaragua dan Costarica, memperbudaknya –mengekploitasi manusia secara biadab– dalam  perusahaan perkebunan dan pertambangan. Serdadu Prancis –atas nama negara– telah berbuat zalim di Vietnam di Algeria. Portugis memerangi dan menaklukan Melaka dengan cara kekerasan dan menjajah Timor-Timur dengan cara membunuh sesiapa yang tidak mau menukar agama dan namanya berciri nama Portugis. Belanda melakukan kekejaman melalui program “Cultuurstelsel” di Netherland East Indies (Indonesia) dan melakukan genocide terhadap anak-anak, perempuan dan lelaki tua di Gayo Lues pada tahun 1904. Inilah perilaku jargon-jargon sepakbola Eropa yang diidolakan itu. Demikian pula tindakan biadab Inggeris terhadap penduduk Aborigin di kota Sidney dan sekitarnya sebanyak 1.500 jiwa pada tahun 1788, kemudian menciut menjadi 200 orang tahun 1830. Ini pengakuan Arthur Philips (komandan perang Inggeris pada ketika itu). Tindakan biadab-genocide ini berlaku, hanya karena orang Aborigin-penduduk asli-menolak Hukum Perkawinan British diterapkan.

 

Jadi, pantas kita dengarkan jeritan ini, “Dalam arena segi empat, kami ditendang-tendang, terikat dan tak mampu melepaskan diri dari kebiadaban manusia; tubuh terasa nyeri dan ingin berlari menyelematkan diri, tapi ada saja orang yang membantu melemparkan kami kembali ke padang rumput untuk bertekuk lutut di bawah kaki-kaki dan kuasa kalian. Ada saksi mata, yakni: kedua mata kaki, tetapi merekapun kalian balut dengan kain agar tidak bisa menyaksikan penderitaan ini dan tutup mulut. Memang ada penjaga gawang yang berdiri tegak dan berusaha menghadang agar kami tidak dijebloskan ke dalam gawang, tapi pada hakikatnya yang menendang dan penghalang, tokh semata-mata untuk meraih kemenangan.” Rumput pun menyahut, “Penderitaan anda tak seberapa; kami juga menjerit kesakitan, karena semua ini berlaku di atas punggung kami –padang rumput– dan sambil  berlari, manusia menginjak-injak tubuh dan harga diri kami; ladam sepatunya merobek, mencakar dan mencabut akar hingga terpental, pada hal kami menghidangkan kesejukan. Perasaan ini luka, tapi kemana harus mengadu?” Giliran tanah membantah: “Keluh-kesah kalian –bola dan rumput– sudah kudengar, akan tetapi jika mau jujur; kamilah yang paling dizalimi dari keseluruhan rentetan permainan bola ini. Bukkankah kalian semua hidup dan melakukan semua ini di atas punggungku?”

 

Dari sisi humanisme; jeritan ini mengingatkan kita kepada Nelson Mandela yang menjerit, diperlakukan seperti bola, dizalimi dalam penjara khusus oleh rezim yang mengamalkan rasisme –aparthed– selama 27 tahun. Kini, bumi Mandela menjadi saksi akan arogansi Perancis, Inggeris dan Itali –penjajah yang kenyang berbuat zalim di di Afrika– terjungkal  lebih awal dalam kancah permainan sepak bola dunia tahun ini (2010), sekaligus dicemoohkan oleh bangsanya sendiri, kiranya menjadi pelajaran bahwa kesombongan dan penjajahan adalah berhala yang wajib dirobohkan. Masalahnya sekarang, dunia Barat sudah dan sedang berusaha mengalihkan perhatian dan menggiring rasa emosional bangsa-bangsa terjajah ke arah lain, agar segalanya dilupakan. Untuk itu, konsep permainan sepak bola modern dikembangkan lebih jauh dan dikaji lewat pendekatan falsafah, mencari korelasi antara fragmen-fragmen pemikiran yang melahirkan nilai-nilai peradaban lama dan upaya penafsiran baru. Tegasnya interpretasi analogis, yang meng-qiyas-kan “lapangan sepak bola” sebagai “arena demokrasi.” Artinya, jika lapangan sepak bola dipakai sebagai ajang pertarungan kepentingan, kecurangan, mencederai lawan, mengalahkan musuh dengan berbagai taktik dan strategi; tokh dalam pentas demokrasi juga terjadi hal yang sama, bahkan tidak mustahil membunuh dan membunuh karakter lawan politik.



TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update