[1] Senarai nama Gubernur Acheh, Pusat Maklumat Pejabat Gubernur Daerah Acheh, Banda Acheh.
[2] Sjama’un Gaharu, 1986, Setelah Naik Gunung, TEMPO, edisi September.
[3] Temu bual antara wartawan Tempo dengan Ali Hasjmy, 1991, TEMPO, edisi Mac.
[4]Echols, John M.; Shadily, Hassan, 1989, Kamus Indonesia Inggeris; An Indonesian-English Dictionary (3 ed.), PT Gramedia. Friend, T., 2003, Indonesian Destinies. Harvard University Press. hlm. 25, 82–83. Ricklefs, M. C., 1991, A History of Modern Indonesia since century 1300 (2 ed.). MacMillan. hlm. 268.Vickers, Adrian, 2005, A History of Modern Indonesia, Cambridge University Press. hlm. 146.
[5] Sjama’un Gaharu, 1986, Setelah Naik Gunung, edisi September, Majalah TEMPO.
[6] Cornelis Van Dijk, 1983, Darul Islam Sebuah Pemberontakan, penerbit Grafiti Press,
hitam’ terdapat nama, “seperti Tengku Daud Beureueh, Tengku Abdul Wahab Seulimum, Teuku Muhammad
Amin, Hasan Ali, Husin Yusuf dan A Hasjmy akan ditangkap karena diklasifikasi
sebagai kumpulan tidak berjiwa republiken.”[1] Dipercayai “dokumen tersebut
disebar luas oleh Sunarjo,”[2] yang membawanya ke Medan, Sumatera
Utara. Bagaimanapun, “pada rapat Parlimen pusat, pada 2 November 1953;
Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo membantah dan mengatakan, isu tersebut
sengaja dihembus oleh ahli politik PKI untuk menghantam gerakan Islam di
Acheh.”[3] Pendapat lain menyebut bahwa “list
hitam’ tersebut merupakan permainan dari lawan politik Teungku Muhammad Daud
Beureueh untuk menghancurkan pengaruhnya.”[4]
Seterusnya, situasi keamanan yang tidak nyaman, telah menimbulkan keresahan rakyat di Acheh, yang sengaja dicipta oleh pihak-pihak tertentu untuk menakut-nakutkan dan menghasut, seakan-akan “kami akan ditangkap oleh tentera dengan tuduhan hendak memberontak, menyimpan senjata gelap dan sebagainya. Jika hendak menangkap dan membunuh kami, buat apa membuat pelbagai alasan-alasan yang tidak munasabah. Tindakan melampau ini telah menimbulkan keresahan dan kegelisahan rakyat yang luar biasa.”[5] Sehubungan itu, “dalam dada tiap-tiap rakyat Acheh mempunyai tiga tingkatan fikiran sebagai pusaka peribadi yang turun-menurun, yaitu sabar, tidak mengindahkan (menjijikkan) dan menantang. Kini, sudah tiba pada peringkat tidak menghiraukan.”[6] Kesemua fakta tersebut menggambarkan retaknya hubungan antara Tengku Muhammad Daud Beureueh dan Sukarno. Sehubungan itu, ketika Sukarno melawat ke Acheh pada tahun 1951, disambut
[1] Ali Hasjmy, 1997, Ulama
Acheh Mujahid Pejuang Kemerdekaan dan Pembangun Tamadun Bangsa, cetakan
pertama, Bulan Bintang, hlm. 116.
[2] Sunarjo adalah seorang Pendakwaraya
semasa Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo memerintah (1953-1955).
[3]B. J. Boland, 1971, The Struggle of Islam in Modern Indonesia, The Hague: Martinus Nijhoff, Holland, hlm. 73.
[4] Muhhamad Nur El Ibrahimy, 2001, Peranan Tengku Daud Beureueh dalam Pergolakan Acheh, Penerbit Media
Dakwah, hlm. 24-25.
[5] Teks Surat Tengku Muhammad Daud Beureueh, 8 Oktober
1951, yang dikirim kepada Sukarno. Sila lihat: Muhhamad Nur El Ibrahimy, 2001, Peranan Tengku Daud Beureueh dalam
Pergolakan Acheh, Penerbit Media Dakwah, hlm. 305.
[6] Ibid, teks Surat Tengku Muhammad Daud Beureueh, 8 Oktober 1951.
kurang mesra, bahkan Sukarno disambut dengan poster-poster anti Presiden
yang menyebut kami cinta Presiden tapi lebih cinta agama. “Bahkan pada rapat
Ulama yang diadakan di Medan (Sumatera Utara) pada April 1951, kenyataan
politik Tengku Muhammad Daud Beureueh sudah mula menjurus kepada idea
pembentukan negara Islam, walaupun ada pandapat menyatakan bahwa, kemunculan
gerakan DI-Acheh bermotif kepentingan daerah, bukan kepentingan Islam.”[1] Perubahan sikap ini dilakukan
dengan sadar, “sekaligus merupakan tindakan menentukan dan merubah pandangan
masyarakat umum. Artinya, mau keluar dari wilayah politik Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI), karena tidak ada faedahnya.”[2] Setelah itu, Tengku Muhammad Daud
Beureueh balik ke Acheh dan melakukan kunjungan ke daerah-daerah untuk
membentang pandangan politik berbangsa dan bernegara berteraskan ‘Pan-Islamisme’.[3] Dengan kata lain, menghidupkan
semula konsep pemerintah di bawah panji kesatuan ummah.[4]
[1] Nazaruddin Sjamsuddin, 1985, The Republican Revolt: A study of The Achehnese Rebellion, Revision of
the author's thesis (doctoral)-Monash University, Singapore: Institute of
Southeast Asian Studies, hlm. 8 - 9.
[2] Murizal Hamzah, 2014, Hasan Tiro Jalan Panjang Menuju Damai Acheh, Penerbit Bandar
Publishing, hlm. 291.
[3]
Idea‘pan-Islamisme dicetuskan oleh
Jamaluddin al-Afghani yang pada asasnya merupakan gagasan reformasi dan kebangkitan untuk
menyatukan dunia islam dengan sokongan semangat masyarakat muslim maupun
pemerintah Islam di bawah kepimpinan muslim. Lihat: Jamal al-Din al-Afghani, 1979,
al-amal al-kamilah; dirasah wa-tahqiq Muhammad Immarah, al-Muassasah al-Arabiyah lil-Dirasat wa-al-Nashr. Lihat: Mohammad, H. 2006, Tokoh-Tokoh Islam Yang
Berpengaruh Abad 20, Gema
Insani; Rahmat, M. I., 2005, Arus Baharu Islam Radikal, Jakarta
Erlangga. Romli, A S M., 2000, Demonologi
Islam: Upaya Barat Membasmi Kekuatan Islam, Jakarta: Gema Insani Press.
[4] Mukti Ali, 1995, Alam Fikiran Islam Modern Di Timur Tengah, Djambatan, hlm. 261.
[5] Memorandum Pengurus Besar Persatuan
Ulama Seluruh Acheh (PUSA), 1950, Kutaraja, hlm. 11. Lihat: Fachri Aly, Suharso
Monoarfa dan Baktiar Effendy, 2007, Kalla
dan Perdamaian Acheh, penerbit LSPEU, hlm. 135.
[1] Mukti Ali, 1995, Alam Fikiran Islam Modern Di Timur Tengah, Djambatan, hlm. 261
[1] Memorandum Pengurus Besar Persatuan Ulama Seluruh Acheh (PUSA), 1950, Kutaraja, hlm. 11. Lihat: Fachri Aly, Suharso Monoarfa dan Baktiar Effendy, 2007, Kalla dan Perdamaian Acheh, penerbit LSPEU, hlm. 135.
[1] Memorandum Pengurus Besar Persatuan Ulama Seluruh Acheh (PUSA), 1950, Kutaraja, hlm. 3-4.
[1] James T. Siegel, 1969, The Rope of God, Berkeley: University of California Press, hlm. 70
[1] Muhammad Nur El Ibrahimy, 2001, Peranan Tengku M. Daud Beureu-eh Dalam Pergolakan Acheh, Penerbit Media Dakwah, hlm. 22.
[1] Benedict Anderson, 1983, Imagined Communities: Reflections on the origin and spread ofDI-Acheh pada 21 September 1953, adalah merupakan jawaban dari kekecewaan terhadap pemerintah pusat.[1] Dua hari
berselang setelah proklamasi berdirinya Negara Bagian Acheh/NII, maka
dirumuskan dan disusun struktur dan sistem pemerintahan Darul Islam Acheh dalam
Piagan Batèë Krueng. Ke-ikut sertaan Tengku Muhammad Daud Beureuéh tidak terlepas idé Pan-Islamisme, yang disebar oleh aktivis
Negara Islam Indonesia (NII) merebak luas pada masa itu. Konsep perjuangan NII yang bersandar kepada Pan-Islamisme inilah
yang merangsang Tengku Muhammad Daud Beureueh dan percaya bahwa daulah Islamiah akan tegak,
apabila bersatu kekuatan untuk mendirikan NII yang tidak terbatas hanya untuk wilayah Acheh saja. Berangkat dari keyakinan ini, maka „daerah
Acheh dan sekitarnya dinyatakan menjadi bagian dari NII.”[2] Dengan menempatkan Acheh dan daerah sekitarnya kedalam salah satu bagian
dari wilayah NII; berarti kedudukan Acheh hanya bertukar status (dari salah
satu Provinsi di bawah Pemerintah Indonesia kepada salah satu negara bagian
NII), dimana „Tengku Muhammad Daud Beureuéh sendiri menjadi Gubernur NII
untuk wilayah Acheh dan daerah sekitarnya.”[3]
[1] C. Van Dijk, 1998, Rebellion Under The Banner Of Islam: The Darul Islam In Indonesia,
Leiden, Netherland; The Gaque Martinus
Nijhoff, hlm. 269.
[2] Teks pembentukan Darul Islam Acheh (DI-Acheh), 21 September 1953. Lihat: Muhammad NurEl-Ibrahimy, 2001, Peranan Tengku M. Daud Beureu-eh Dalam Pergolakan Acheh, Penerbit Media Dakwah, hlm. 1.
[3] Surat Keputusan (SK) Tengku Muhammad Daud Beureueh
menjadi Gubernur Militer untuk daerah Acheh dan sekitarnya. SK yang dihantar
oleh Mustafa ke Acheh, dikenal pasti telah jatuh ke tangan inteligen pemerintah
pusat Indonesia. Lihat: Muhammad NurEl-Ibrahimy, 2001, Peranan Tengku M. Daud Beureu-eh Dalam Pergolakan Acheh,
Penerbit Media Dakwah, hlm. 22.
Epilognya, perjuang DI-Acheh menerima proposal damai yang diajukan pemerintah pusat
Indonesia –menyerah– sekaligus meletakkan Acheh Darussalam kembali sebagai
daerah otonomi Istimewa. Proposal itu dibahas oleh anggota Dewan revolusi seramai 25 orang dalam
rapat yang diadakan pada 25 Maret 1959. Antaranya ialah, Hasan Saleh, Husen
Yusuf, Amir Husen Mujahid, T. A. Hasan, Ishak Amin, Gani Mutiara. Pada intinya,
menyepakati teks Surat Keputusan (SK) Perdana Menteri yang menyebut: ’Daerah
Swatantra peringkat 1 Aceh,[2] disebut ’Daerah Istimewa Aceh’ dengan syarat, „kepada daerah itu tetap
berlaku ketentuan-ketentuan mengenai daerah swatantra seperti mana tertera pada
UU No. 1 tahun 1957; tentang pemerintah daerah dan peraturan lain yang berlaku
untuk daerah Swatantra mengenai autonomi seluas-luasnya, terutama dalam bidang
keagamaan, kebudayaan dan pendikikan.“[3] Sebutan ’Daerah Istimewa Aceh’
mesti dilaksanakan berdasakan kepada perundang-undangan negara Indonesia, bukan
kepada kepentingan politik dan institui Negara Bagian Acheh (NBA/NII). Artinya,
Surat Keputusan (SK) Perdana Menteri tidak boleh bertentangan dengan ketentuan
perundang-undangan yang hirarki lebih tinggi dari Surat Keputusan Perdana
Menteri. Hal ini sesuai dengan prinsip ’lex
specialis derogat legi generali’ (pelaksanaan peraturan yang hirarki lebih
rendah, tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi).[4]
[1] Boyd R. Compton, 1995, Surat-Surat Rahasia, LP3ES, Jakarta, hlm. 1-25.
[2]Setaraf dengan Negeri di Malaysia.
[3] Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia, 1959, 26 Mei, No 1/Misi/1959, ditandatangani oleh Mr. Hardi (Timbalan Menteri 1/Ketua Missi Pemerinah ke Aceh. Simpanan Arkib Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, kod: R 349. 598 IND t 1959. No. 1 – 46.
[4] Yusra Habib Abdul Ghani, 2008, Self-Government Studi Perbandingan Tentang Desian Administrasi Negara, Penerbit
Paramedia Press, hlm. 132.



