Notification

×

Iklan

Iklan

Tengku Muhammad Daud Beureueh Bersama Tengku Ilyas Leubé di Rimba Acheh

Khamis, 13 November 2025 | November 13, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-13T13:52:51Z




Selain itu, Tengku Muhammad Daud Beureueh merasa ditipu oleh Panglima Tentera Teritorial Sumatera, Panglima Sumatera, Panglima Divisi Rencong yang memberi arahan supaya seluruh unit tentera, seperti Mujahidin Divisi Tengku Tjhik di Tiro; Kesatria Pesindo Divisi Rencong, Divisi Tengku Tjhik di Paya Bakong dan lain-lain unit ketenteraan di Acheh, Langkat dan Tanah Karo dilebur dan digabung kedalam Angkatan Perang TNI - Divisi X Sumatera; karena setelah unit-unit tentera Acheh dileburkan, pasukan dari Acheh ditugaskan bertempur keluar Acheh; sementara di Acheh hanya tinggal satu unit, yang  hampir kesemua anggotanya terdiri dari orang yang bukan terdiri dari orang Acheh. Kebijakan ini dianggap sebagai taktik dan strategi Pemerintah Pusat Indonesia (PPI) untuk mengosongkan tentera dari Acheh dan menggantinya dengan pasukan yang berada dibawah kawalan langsung PPI.  Jabatan Gubernur militer Acheh, Langkat dan Tanah Karo juga dilucuti secara hormat. Seiring dengannya, provinsi Acheh ditubuhkan dan Tengku Muhammad Daud Beureueh dilantik menjadi Gubernur sivil Acheh tahun 1949. Tetapi, dalam jangka masa 8 bulan, provinsi Acheh dilebur dan disatukan semula kedalam wilayah provinsi Sumatera Utara.[1] Dengan demikian, status Acheh diturunkan darjatnya dari peringkat provinsi[2]  kepada Residen.[3] Dengan demikian, jabatan Tengku Muhammad Daud Beureueh tidak mempunyai hak untuk menandatangani surat-menyurat atas nama Gubernur, hingga Danu Broto dilantik menjadi Gubernur Acheh (1951-1952).

 Sehubungan dengan itu, beliau merasa jengkel[2] dan „Ulama Acheh merasa tersinggung ekoran dari status Acheh diturunkan tarafnya dari provinsi kepada Residen yang tertakluk di bawah pentadbiran provinsi Sumatera Utara.“[3] Untuk mengobati rasa kecewa, Tengku Muhammad Daud Beureueh dipindah kerja ke Kementerian Dalam Negera. Tidak lama kemudian dilantik menjadi ahli parlimen pusat. Oleh sebab taraf pertumbuhan ekonomi rakyat yang tidak menunjukkan kemajuan, pendidikan tidak diurus secara profesional, stabilitas keamanan terancam dan praktek korupsi yang maharajalela, turut memicu rasa kebencian Tengku Muhammad Daud Beureueh kepada Sukarno. Selain itu “Pemerintah Indonesia semakin rusak, akibat dari Dewan Menteri saling menjatuhkan, krisis ideologi, dimana Sukarno menerapkan konsep ’nasionalisme, agama dan komunisme’ (Nasakom) yang “dikenalkan sejak 1956 dan Sukarno nyata-nyata berfahaman komunisme.” Bahkan, untuk melicinkan konsep ’Nasakom’, Sukarno menerapkan ’demokrasi terpimpin’, yaitu pemusatan kuasa penuh kepada Presiden dan parti komunis Indonesia (PKI) diberi kuasa oleh Sukarno untuk menyusun pelan dan implementasi faham komunisme di Indonesia.

            Hal lain yang turut memicu kemarahan Tengku Muhammad Daud Beureueh ialah,  munculnya dokumen rahasia ‘Daftar Hitam’ yang beredar luas. Mengikut dokumen itu, pemerintah pusat berencana membunuh seramai 300 tokoh Acheh melalui operasi rahasia, karena kesetiaan mereka kepada PPI diragukan. Sumber lain menyebutkan “seramai 190 orang Acheh terkemuka yang mesti ditangkap, walaupun kemudiannya dipercayai bahwa senarai nama tersebut sengaja didedahkan untuk tujuan tertentu.” Antara yang disebut dalam ‘senarai 


[1] Senarai nama Gubernur Acheh, Pusat Maklumat Pejabat Gubernur Daerah Acheh, Banda Acheh.

[2] Sjama’un Gaharu, 1986, Setelah Naik Gunung, TEMPO, edisi September.

[3] Temu bual antara wartawan Tempo dengan Ali Hasjmy, 1991, TEMPO, edisi Mac.

[4]Echols, John M.; Shadily, Hassan, 1989, Kamus Indonesia Inggeris; An Indonesian-English Dictionary (3 ed.), PT Gramedia. Friend, T., 2003, Indonesian Destinies. Harvard University Press. hlm. 25, 82–83. Ricklefs, M. C., 1991, A History of Modern Indonesia since century 1300 (2 ed.). MacMillan. hlm. 268.Vickers, Adrian, 2005, A History of Modern Indonesia, Cambridge University Press. hlm. 146.

[5] Sjama’un Gaharu, 1986, Setelah Naik Gunung, edisi September, Majalah TEMPO.

[6] Cornelis Van Dijk, 1983, Darul Islam Sebuah Pemberontakan, penerbit Grafiti Press, 

hitam’ terdapat nama, “seperti Tengku Daud Beureueh, Tengku Abdul Wahab Seulimum, Teuku Muhammad Amin, Hasan Ali, Husin Yusuf dan A Hasjmy akan ditangkap karena diklasifikasi sebagai kumpulan tidak berjiwa republiken.”[1] Dipercayai “dokumen tersebut disebar luas oleh Sunarjo,[2] yang membawanya ke Medan, Sumatera Utara. Bagaimanapun, “pada rapat Parlimen pusat, pada 2 November 1953; Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo membantah dan mengatakan, isu tersebut sengaja dihembus oleh ahli politik PKI untuk menghantam gerakan Islam di Acheh.”[3] Pendapat lain menyebut bahwa “list hitam’ tersebut merupakan permainan dari lawan politik Teungku Muhammad Daud Beureueh untuk menghancurkan pengaruhnya.”[4]

            Seterusnya, situasi keamanan yang tidak nyaman, telah menimbulkan keresahan rakyat di Acheh, yang sengaja dicipta oleh pihak-pihak tertentu untuk menakut-nakutkan dan menghasut, seakan-akan “kami akan ditangkap oleh tentera dengan tuduhan hendak memberontak, menyimpan senjata gelap dan sebagainya. Jika hendak menangkap dan membunuh kami, buat apa membuat pelbagai alasan-alasan yang tidak munasabah. Tindakan melampau ini telah menimbulkan keresahan dan kegelisahan rakyat yang luar biasa.[5] Sehubungan itu, “dalam dada tiap-tiap rakyat Acheh mempunyai tiga tingkatan fikiran sebagai pusaka peribadi yang turun-menurun, yaitu sabar, tidak mengindahkan (menjijikkan) dan menantang. Kini, sudah tiba pada peringkat tidak menghiraukan.”[6] Kesemua fakta tersebut menggambarkan retaknya hubungan antara Tengku Muhammad Daud Beureueh dan Sukarno. Sehubungan itu, ketika Sukarno melawat ke Acheh pada tahun 1951, disambut



[1] Ali Hasjmy, 1997, Ulama Acheh Mujahid Pejuang Kemerdekaan dan Pembangun Tamadun Bangsa, cetakan pertama, Bulan Bintang, hlm. 116.

 

 

[2] Sunarjo adalah seorang Pendakwaraya semasa Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo memerintah (1953-1955).

           

 

[3]B. J. Boland, 1971, The Struggle of Islam in Modern Indonesia, The Hague: Martinus Nijhoff, Holland, hlm. 73.

 

 

[4] Muhhamad Nur El Ibrahimy, 2001, Peranan Tengku Daud Beureueh dalam Pergolakan Acheh, Penerbit Media Dakwah, hlm. 24-25.

 

 

[5] Teks Surat Tengku Muhammad Daud Beureueh, 8 Oktober 1951, yang dikirim kepada Sukarno. Sila lihat: Muhhamad Nur El Ibrahimy, 2001, Peranan Tengku Daud Beureueh dalam Pergolakan Acheh, Penerbit Media Dakwah, hlm. 305.

 

[6] Ibid, teks Surat Tengku Muhammad Daud Beureueh, 8 Oktober 1951.




 

kurang mesra, bahkan Sukarno disambut dengan poster-poster anti Presiden yang menyebut kami cinta Presiden tapi lebih cinta agama. “Bahkan pada rapat Ulama yang diadakan di Medan (Sumatera Utara) pada April 1951, kenyataan politik Tengku Muhammad Daud Beureueh sudah mula menjurus kepada idea pembentukan negara Islam, walaupun ada pandapat menyatakan bahwa, kemunculan gerakan DI-Acheh bermotif kepentingan daerah, bukan kepentingan Islam.”[1] Perubahan sikap ini dilakukan dengan sadar, “sekaligus merupakan tindakan menentukan dan merubah pandangan masyarakat umum. Artinya, mau keluar dari wilayah politik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), karena tidak ada faedahnya.”[2] Setelah itu, Tengku Muhammad Daud Beureueh balik ke Acheh dan melakukan kunjungan ke daerah-daerah untuk membentang pandangan politik berbangsa dan bernegara berteraskan ‘Pan-Islamisme’.[3] Dengan kata lain, menghidupkan semula konsep pemerintah di bawah panji kesatuan ummah.[4]

            Sementara kesadaran politik berbangsa dan bernegara Acheh berteraskan Islam, muncul dalam sanubari Tengku Daud Beureueh pada saat PUSA merumuskan Memorandum Pengurus Besar Persatuan Ulama Seluruh Acheh (PUSA) tahun 1950 yang “menyatakan sokongan „untuk memulihkan kembali institusi kesultanan Acheh, sebagaimana pernah diajukan oleh beberapa pemuka adat pada tahun 1939, dimana PUSA mengganggap gagasan tersebut sangat strategik.[5] Untuk maksud itu, „PUSA menempatkan dirinya sebagai


[1] Nazaruddin Sjamsuddin, 1985, The Republican Revolt: A study of The Achehnese Rebellion, Revision of the author's thesis (doctoral)-Monash University, Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, hlm. 8 - 9. 

 

[2] Murizal Hamzah, 2014, Hasan Tiro Jalan Panjang Menuju Damai Acheh, Penerbit Bandar Publishing, hlm. 291.

 

[3] Idea‘pan-Islamisme dicetuskan oleh Jamaluddin al-Afghani yang pada asasnya merupakan  gagasan reformasi dan kebangkitan untuk menyatukan dunia islam dengan sokongan semangat masyarakat muslim maupun pemerintah Islam di bawah kepimpinan muslim. Lihat: Jamal al-Din al-Afghani, 1979, al-amal al-kamilah; dirasah wa-tahqiq Muhammad Immarah, al-Muassasah al-Arabiyah lil-Dirasat wa-al-Nashr. Lihat: Mohammad, H. 2006, Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, Gema Insani; Rahmat, M. I., 2005, Arus Baharu Islam Radikal, Jakarta Erlangga. Romli, A S M., 2000, Demonologi Islam: Upaya Barat Membasmi Kekuatan Islam, Jakarta: Gema Insani Press.

 

[4] Mukti Ali, 1995,  Alam Fikiran Islam Modern Di Timur Tengah, Djambatan, hlm. 261.

[5] Memorandum Pengurus Besar Persatuan Ulama Seluruh Acheh (PUSA), 1950, Kutaraja, hlm. 11. Lihat: Fachri Aly, Suharso Monoarfa dan Baktiar Effendy, 2007, Kalla dan Perdamaian Acheh, penerbit LSPEU, hlm. 135.

 

 [1] Idea‘pan-Islamisme dicetuskan oleh Jamaluddin al-Afghani yang pada asasnya merupakan  gagasan reformasi dan kebangkitan untuk menyatukan dunia islam dengan sokongan semangat masyarakat muslim maupun pemerintah Islam di bawah kepimpinan muslim. Lihat: Jamal al-Din al-Afghani, 1979, al-amal al-kamilah; dirasah wa-tahqiq Muhammad Immarah, al-Muassasah al-Arabiyah lil-Dirasat wa-al-Nashr. Lihat: Mohammad, H. 2006, Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, Gema Insani; Rahmat, M. I., 2005, Arus Baharu Islam Radikal, Jakarta Erlangga. Romli, A S M., 2000, Demonologi Islam: Upaya Barat Membasmi Kekuatan Islam, Jakarta: Gema Insani Press.

 

[1] Mukti Ali, 1995,  Alam Fikiran Islam Modern Di Timur Tengah, Djambatan, hlm. 261

 

[1] Memorandum Pengurus Besar Persatuan Ulama Seluruh Acheh (PUSA), 1950, Kutaraja, hlm. 11. Lihat: Fachri Aly, Suharso Monoarfa dan Baktiar Effendy, 2007, Kalla dan Perdamaian Acheh, penerbit LSPEU, hlm. 135.

[1] Memorandum Pengurus Besar Persatuan Ulama Seluruh Acheh (PUSA), 1950, Kutaraja, hlm. 3-4.

[1] James T. Siegel, 1969,  The Rope of God, Berkeley: University of California Press, hlm. 70

[1] Muhammad Nur El Ibrahimy, 2001, Peranan Tengku M. Daud Beureu-eh Dalam Pergolakan Acheh, Penerbit Media Dakwah, hlm. 22.

[1] Benedict Anderson, 1983, Imagined Communities: Reflections on the origin and spread of

DI-Acheh pada 21 September 1953, adalah merupakan jawaban dari kekecewaan terhadap pemerintah pusat.[1] Dua hari berselang setelah proklamasi berdirinya Negara Bagian Acheh/NII, maka dirumuskan dan disusun struktur dan sistem pemerintahan Darul Islam Acheh dalam Piagan Batèë Krueng. Ke-ikut sertaan Tengku Muhammad Daud Beureuéh tidak terlepas idé Pan-Islamisme, yang disebar oleh aktivis Negara Islam Indonesia (NII) merebak luas pada masa itu. Konsep perjuangan NII yang bersandar kepada Pan-Islamisme inilah yang merangsang Tengku Muhammad Daud Beureueh dan percaya bahwa daulah Islamiah akan tegak, apabila  bersatu kekuatan untuk mendirikan NII yang tidak terbatas hanya untuk wilayah Acheh saja.  Berangkat dari keyakinan ini, maka „daerah Acheh dan sekitarnya dinyatakan menjadi bagian dari NII.[2] Dengan menempatkan Acheh dan daerah sekitarnya kedalam salah satu bagian dari wilayah NII; berarti kedudukan Acheh hanya bertukar status (dari salah satu Provinsi di bawah Pemerintah Indonesia kepada salah satu negara bagian NII), dimana „Tengku Muhammad Daud Beureuéh sendiri menjadi Gubernur NII untuk wilayah Acheh dan daerah sekitarnya.[3]

Kalaulah maksud dan tujuan gerakan DI-Acheh hendak mendaulatkan Acheh sebagai negara Islam, maka tidak ada relevansinya menempatkan Acheh menjadi salah satu bagian dari wilayah NII, oleh karena sebagai sebuah negara MERDEKA dan BERDAULAT yang mengamalkan syari’at  Islam, Acheh Darussalam sudah tegak sejak tahun 1205 M. lagi; dimana al-Qur´anHadits dan Ijma´ diletakkan sebagai dasar negara. Perkara ini ditegaskan oleh Merah Johansyah (Sultan pertama Acheh Darussalam) pada pelantikan beliau pada 22 April 1205 dan seterusnya dilakukan unifikasi hukum dengan merumuskan Meukuta Alam (Konstitusi negara Acheh), mengatur pelbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara; bukan meletakkan Acheh menjadi salah satu negara bagian NII. Acheh Darussalam dipimpin oleh seorang Sultan, mengamalkan sistem ‘constitutional monarchy’ bukan berbentuk republik yang menganut sistem pemerintah federal, sebagaimana diatur dalam


[1] C. Van Dijk, 1998, Rebellion Under The Banner Of Islam: The Darul Islam In Indonesia, Leiden,  Netherland; The Gaque Martinus Nijhoff, hlm. 269.

 

[2] Teks pembentukan Darul Islam Acheh (DI-Acheh), 21 September 1953. Lihat: Muhammad NurEl-Ibrahimy, 2001, Peranan Tengku M. Daud Beureu-eh Dalam Pergolakan Acheh, Penerbit Media Dakwah, hlm. 1.

[3] Surat Keputusan (SK) Tengku Muhammad Daud Beureueh menjadi Gubernur Militer untuk daerah Acheh dan sekitarnya. SK yang dihantar oleh Mustafa ke Acheh, dikenal pasti telah jatuh ke tangan inteligen pemerintah pusat Indonesia. Lihat: Muhammad NurEl-Ibrahimy, 2001, Peranan Tengku M. Daud Beureu-eh Dalam Pergolakan Acheh, Penerbit Media Dakwah, hlm. 22.

 

 


 konstitusi NII. Oleh sebab itu, keratan kalimat yang berbunyi: ‘daerah Acheh dan sekitarnya dinyatakan menjadi bagian dari NII’ adalah a-historis dan tidak mempunyai argumen yang dapat dipertanggjawabkan secara ilmiah. Keputusan politik sedemikian, selain berlawanan dengan fakta sejarah juga menafikan kepentingan nasional Acheh. Pada hal Tengku Muhammad Daud Beureu-éh sadar dan tahu betul kalau „rakyat Acheh sebetulnya bercita-cita menegakkan syari’at Islam dan mendambakan Acheh sebagai suatu negara merdeka, sebagaimana masa kejayaan sultan Iskandar Muda yang memiliki kekuatan sipil dan militer yang perkasa. Model Pemerintah ini nantinya mampu memenuhi tuntutan zaman moden. Untuk itu, Acheh mau mewujudkan kembali sistem Pemerintah serupa itu.[1] Masalahnya ialah, konsep yang pernah dituangkan dalam Memorandum PUSA, 1950; tidak mampu di-implementasi, karena konsep perjuangan DI-Acheh tidak meletakkan Acheh Darussalam sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat.

Epilognya, perjuang DI-Acheh menerima proposal damai yang diajukan pemerintah pusat Indonesia –menyerah– sekaligus meletakkan Acheh Darussalam kembali sebagai daerah otonomi Istimewa. Proposal itu dibahas oleh anggota Dewan revolusi seramai 25 orang dalam rapat yang diadakan pada 25 Maret 1959. Antaranya ialah, Hasan Saleh, Husen Yusuf, Amir Husen Mujahid, T. A. Hasan, Ishak Amin, Gani Mutiara. Pada intinya, menyepakati teks Surat Keputusan (SK) Perdana Menteri yang menyebut: ’Daerah Swatantra peringkat 1 Aceh,[2] disebut ’Daerah Istimewa Aceh’ dengan syarat, „kepada daerah itu tetap berlaku ketentuan-ketentuan mengenai daerah swatantra seperti mana tertera pada UU No. 1 tahun 1957; tentang pemerintah daerah dan peraturan lain yang berlaku untuk daerah Swatantra mengenai autonomi seluas-luasnya, terutama dalam bidang keagamaan, kebudayaan dan pendikikan.“[3] Sebutan ’Daerah Istimewa Aceh’ mesti dilaksanakan berdasakan kepada perundang-undangan negara Indonesia, bukan kepada kepentingan politik dan institui Negara Bagian Acheh (NBA/NII). Artinya, Surat Keputusan (SK) Perdana Menteri tidak boleh bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan yang hirarki lebih tinggi dari Surat Keputusan Perdana Menteri. Hal ini sesuai dengan prinsip ’lex specialis derogat legi generali’ (pelaksanaan peraturan yang hirarki lebih rendah, tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi).[4]



[1] Boyd R. Compton, 1995, Surat-Surat Rahasia, LP3ES, Jakarta, hlm. 1-25.

[2]Setaraf dengan  Negeri di Malaysia.

[3] Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia, 1959, 26 Mei, No 1/Misi/1959, ditandatangani oleh Mr. Hardi (Timbalan Menteri 1/Ketua Missi Pemerinah ke Aceh. Simpanan Arkib Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, kod: R 349. 598 IND t 1959. No. 1 – 46.

[4] Yusra Habib Abdul Ghani, 2008, Self-Government Studi Perbandingan Tentang Desian Administrasi Negara, Penerbit Paramedia Press, hlm. 132.

 

 

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update