Notification

×

Iklan

Iklan

Yusra Habib Abdul Gani PENGAGUM Iskandar Zulkarnain, ... anak muda berdarah biru, … politisi yang penuh obsesi; ... tokoh reformasi yang ektreem dan kontroversial; ... sang diktator yang kejam; ... kepala negara yang tegas dan tahu diri; ... pemimpin yang konsisten dengan penegakan hukum dan keadilan; ... negarawan ulung dan masyhur;

Ahad, 9 November 2025 | November 09, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-09T08:49:44Z

 

Sultan yang membuat jera pedagang asing; ... tokoh yang nasionalisme Acheh-nya begitu kental; ... tokoh yang dipuja-puji, dikagumi dan idola orang Acheh itu, ratusan tahun sudah meninggalkan kita, yang sudah pergi meninggalkan kita, tapi buat selamanya jiwanya berada dalam sanubari orang Acheh. Dialah Raja Sulaiman, Raja Zainal atau Raja Silan; dialah Tun Pangkat Darma Wangsa, Abangta Raja Munawar Shah, Raja Mahkota Alam, Pancagah dan Johan Alam, “dialah Seri Sultan Perkasa Alam yang dalam Hikayat Acheh disejajarkan dengan Nabi Sulaiman, seorang raja Iskandar juga...” [lihat: Hikayat Acheh]. Terakhir, dialah Iskandar Muda, yang selamanya terukir dalam lembaran sejarah yang sukar dilupakan. Suatu bangsa yang tidak tahu akan sejarahnya, tidak mempunyai masa depan. Cucu kesayangan Ala ad-Din Riayat Shah Al-Kahar [Sultan Acheh priode: 1588-1604] yang lahir dari pasangan Putri Raja Indera Bangsa atau Paduka Syah Alam dan Mansyur Syah ini, sejak dari kecil sampai dewasa dimanjakan dalam Istana. Kakeknya memberi mainan dua ekor gajah dan dua ekor kuda yang terbuat dari emas dan selalu didendangkan kisah Iskandar Zulkarnain dalam versi lain, seperti: //Djak lôn timang puték rambôt; //Beungoh seupôt lôn peumanoë;// Beuridjang rajeuk bintang kutôb;//Ék ta leugôt dumna nanggroë”. Tidak tahu kalau kemudian, hikayat tersebut menjadi acuan yang membentuk kepribadiannya.

 

Prilaku kakek yang memanjakannya, dicurigai kedua Pamannya, kalau-kalau jabatan Sultan satu saat akan jatuh ke tangan Iskandar Muda. Untuk mengelak supaya hal ini tidak terjadi, maka Ali Riayat Syah dan adiknya (keduanya: anak lelaki Ala ad-Din Riayat Syah) curi start dengan melancarkan kudeta, sekaligus menjebloskan Ayah dan Ibu kandungnya dalam penjara sampai mati. Syukur, sebelum terjadi kudeta, Ala ad-Din Riayat Shah Al-Kahar yang kuasa (priode: 1588-1604) sempat menanda tangani MoU tentang: Penggunaan Lintas Dagang Selat Malaka dengan Inggeris tahun 1603. Selanjutnya diteruskan oleh Ali Riayat Syah pemangku Sultan Acheh [periode: 1604-1607], sementara adiknya pemangku Gubernur Pidië. Iskandar Muda, yang waktu itu berusia 21 tahun, menyaksikan terjadinya peristiwa ini. Iskandar Muda melancarkan protes yang ektreem dengan mengajak Pakciknya (Gubernur Pidië) untuk melancarkan kudeta pula terhadap Ali Riayat Syah. Sialnya usaha ini gagal dan giliran Iskandar Muda dijebloskan dalam penjara. Dalam situasi yang kritkal ini sudah dicium oleh inteligen Portugis yang jauh sebelum itu sudah menjalin hubungan dagang dan diplomasi dengan Acheh. Portugis melancarkan serangan lewat pelabuhan Lamno Daya. Dalam keadaan terdesak, Ali Riayat Syah terpaksa melepaskan Iskandar Muda dengan alasan untuk memimpin perang melawan Portugis. Tentara Acheh piminan anak muda (Iskandar Mudaa) ini mampu menundukkan serdadu Portugis. Pada saat itu pula, tiba-tiba, Ali Riayat Syah meninggal. Untuk mengisi jabatan Sultan yang vacum, Iskandar Muda menempuh jalan pintas dengan cara menghabisi Pakciknya (Gubernur Pidië), sebab khawatir kalau-kalau Pakciknya juga akan memperlakukan dirinya seperti Pamannya. Iskandar Muda menduduki singgasana Sultan Acheh [priode: 1607-1636]

 

Karir Iskandar Muda diawali dengan menertibkan stabilitas politik dalam negeri dengan menyingkirkan antek-antek Ali Riayat Syah dan menukarnya dengan wajah baru yang berjiwa loyalis. Ahli waris dari korban reformasi ini, dialihkan menjadi aparat pemerintah dalam Istana, supaya mudah dikontrol dan semua harta warisan dikuasai dan dikelola oleh negara. Para saudagar yang sebelumnya berpengaruh dalam menentukan kebijakan Sultan tidak bisa lagi berkutik. Setiap tiga hari sekali mereka wajib lapor kepada Sultan. Rakyat dikerahkan bertanam: padi, lada, pinang, cengkeh, bawang putih, beras dan barang komoditi lain, guna memenuhi kebutuhan pokok rakyat. Selain itu, hasil pertanian rakyat diekport ke Eropah, Canton (Hong Kong) dan ke negara-negara sahabat di dunia Arab. Infrastruktur politik ekonomi (MoU antara Acheh-Inggeris - tahun 1603) benar-benar dimanfaatkan sepenuhnya. Ketika kesejahteraan dan kemakmuran rakyat sudah dirasakan mapan, barulah pendapatan negara yang berasal dari: cukai terhadap kapal-kapal dagang atau pengguna yang melintasi Selat Malaka dan pajak dalam negeri, digunakan untuk membangun projek politik mega, yakni: menakluki satu-persatu sultan-sultan di kawasan Dunia Melayu dan meminta supaya menyetor pajak nanggroë, dengan catatan: tanggungjawab masalah pertahanan keamanan regional berada di atas pundak ke-Sultanan Acheh. Untuk itu, Iskandar Muda mendatangkan dan membayar mahal team penasehat yang brillian dan profesional dalam bidang: ekonomi, hukum, politik, strategi militer, pembuatan perlengkapan perang: kapal Laut, meriam dan senjata taktis; fuqaha, anggota Parlemen, pakar pertanian, tenaga pengkaji dan peneliti pengembangan Ilmu pengetahuan umum, sastera dan pendidikan Islam dari Turki. [baca: Prof. Hamka: “Dari Perbendaharaan Lama”]. Hasilnya, pada ketika itu berhasil mewujudkan lima kekuatan “The Big Five” dunia sebagai pembina Islam yang berjaya: Turki, Marokko, Isfahan, Agra dan Acheh Darussalam. Dalam bidang pertahanan: Acheh memiliki 6000 kapal perang dengan 60.000 personel Angkatan Laut untuk mengamankan kawasan Dunia Melayu dari kuasa asing: Portugis, Inggeris, Belanda dan Perancis yang datang hanya untuk menjarah harta kekayaan alam dunia Melayu. Para pakar pertanian ditugasi untuk meningkatkan produksi, seperti: Kapur Barus, Padi, Rempah-rempahan, Cengkeh, Lada hitam-putih, timah putih dan barang-barang komoditi lain di Sumatera Tengah, barat dan Timur dan sekaligus mengawasi kualitas barang ekport.

 

Pedagang asing (Eropah khususnya) mengaku jera dengan harga barang yang ditetapkan, tetapi mereka mesti akur, sebab barang-barang komoditi ekpor asal Acheh-Sumatera diakui berkualitas tinggi dan diperlukan. Dalam dunia perdagangan dan politik, Iskandar Muda telah menjadi guru kepada bangsa-bangsa Eropah lewat kebijaksaan politik ekonomi, yang menekankan pentingnya kebersamaan kepentingan. Doktrin politik Iskandar Muda menanamkan –kalau  boleh dikatakan sebagai suatu pemaksaan– bahwa beliaulah satu-satunya tokoh pemersatu bangsa-bangsa Melayu yang ditakuti dan disegani bangsa asing, sehingga imperium Acheh merambah ke seluruh Sumatera, melebar ke Kalimantan Barat, Malaya dan Jawa Barat. Keabsahan perkara dibuktikan dari Peta Royaume d‘Achem (Kingdom of Acheh in Sumatra) yang dibuat oleh Perancis Abad ke -17 nampak jelas. [1] Penaklukan Dunia Melayu, memang menyisakan seribu pertanyaan tentang: dendam, darah, kebencian, cinta dan tahta. Misalnya saja: saat menakluki Perak dan Pahang. Sultan Perak dihabisi oleh tentara Acheh, Putri Sultan Perak akhirnya diperisteri Iskandar Muda. Pahang diserang dan ditakluki. Trermasuk Sultan Pahang dibunuh bersama pengawalnya. Bersamaan dengan itu, permaisuri Sultan Pahang diboyong dan dinikahi Iskandar Muda. Anak lelaki Sultan Pahang -Iskandar Tsani- yang ketika Ayahnya dibunuh masih berusia 7 tahun, diselamatkan dan dididik dalam lingkungan Istana Sultan Acheh. Kemudian beliau dinikahkan dengan anak perempuan Iskandar Muda dan mewarisi tahta Ayah tirinya (Iskandar Muda) sebagai Sultan  Acheh [priode: 1636-1641]. Ibunya (mantai Permaisuri Sultan Pahang) diberi julukan oleh Iskandar Muda sebagai Putroë Phang diabadikan sebagai simbol Kanun: “Adat bak po teumeureuhôm, hukôm bak Sjiah Kiala, Kanun bak Putroë Phang, reusam bak bintara”.

 

Proyek politik mega Iskandar Muda sangat mahal harganya. Betapa tidak! Ribuan kapal perang dan puluhan ribu Angkatan Laut Acheh yang berjuang melawan kuasa asing (Portugis) di Melaka tidak lagi pulang ke tanah air. Setelah tentara Acheh berjaya menduduki Melaka beberapa bulan, yang mengira kekuatan Portugis sudah benar-benar lumpuh, tiba-tiba datang kekuatan tentara Pahang membantu Portugis menyerangan dari belakang, pasukan Pahang ini membakar semua kapal perang Acheh yang berlabuh dan mulailah perang darat yang sesungguhnya. Puluhan ribu tentara Acheh diriwayatkan tidak kembali lagi ke Acheh, mereka tewas dalam peperangan dan ada pula yang kandas di Selat Melaka. Fakta sejarah ini saksi, sekaligus menjadi pelajaran kepada generasi sekarang agar bisa menyimak liku-liku perjuangan Acheh untuk memburu musuh –Portugis– dari bumi Melayu dan biarlah semua ini menjadi fakta agar orang tahu bagaimana wajah Acheh kemaren, hari ini dan di masa depan. Sisi lain yang tidak bisa dilupakan dan dipandang sebagai mercusuar keadilan dalam pelaksanaan hukum Islam adalah: ketika anak kandungnya (Meurah Pupuk), satu-satunya anak lelaki Iskandar Muda yang disiapkan mewarisi tahta, tiba-tiba kandas, karena dituduh melakukan mesum (berzina) dengan isteri panglima Perang yang sedang memimpin berperangan di Selat Melaka. Berdasarkan hasil pemeriksaan di Mahkamah, Qadhi malikul ’adil Merah yakin dam menyimpulkan bahwa Merah Pupuk terbukti melakukan zina dan akhirnya divonis hukuman rajam sampai mati. Eksekusi dilaksanakan atas perintah langsung Menteri Kehakiman (Sri Raja Panglima Wazir Mizan).

 

Sebagai pemimpin, Iskandar Muda konsekuen dengan putusan Mahkamah dan hukum wajib ditegakkan. Iskandar Muda berpihak kepada kebenaran, bukan kepada kejahatan. Kebenaran itu berpihak! Demi kebenaran, bukan saja menumpahkan darah orang lain; tapi juga berani menerima putusan Hakim meskipun ianya berlaku atas anak kandung sendiri. Berawal dari kasus inilah muncul ucapan beliau yang sangat terkenal dalam masyarakat Acheh: ”Maté aneuk meupat jeurat, maté Adat hot a mita” (”Mati anak diketahui pusaranya, mati adat kemana dicari”)

Iskandar Muda menjadi simbol keagungan dan kemegahan Acheh tanpa batas dan di mata ahli sejarah ia digambarkan sebagai lukisan ekpresionisme (abstrak) yang mengkombinasikan pelbagai warna kontras di atas kanvas politik. Di mata dan di hati orang Acheh, Iskandar Muda “bagaikan Iskandar Zulkarnain waktu meninggalkan Rum untuk menaklukan dunia.” [2] Kisah Iskandar Muda adalah riwayat yang mengisahkan dan sekaligus mengajarkan tentang keberanian bertindak sebagai pelakon, bukan menjadi penonton. Uraian di bawah yang menceritakan ikhwal Iskandar Muda, dihimpun dari beberapa sumber dan saya beri judul: Iskandar Muda in The Eye of The World. Diriwayatkan bahwa: Sultan Iskandar Muda left us, but today he alive among us. Today, Achehnese commemorating the death of Sultan Iskandar Muda in December 27, 1636, a national holiday, SULTAN ISKANDAR MUDA DAY. Here, we can read comment from several source of Iskandar Muda: google.dk wrote: “Under the leadership of Sultan Iskandar Muda, Acheh reached its golden era, conquering numerous areas in Sumatra, including Natal Tiku, Pariaman, Nias island and Johor on the Malaka Peninsula. Acheh also launched several offensives against Portugal in Malaka. Although it never truly defeated Portugal, Acheh controlled trade in the straits. Because of his success in expanding Acheh, Sultan Iskandar Muda was often referred to as the Alexander the Great of the East.”

 

Meanwhile Salam knowledge, wrote: ”Iskandar ascended the throne in 1607 and because of his naval superiority, took control of the northwest Indonesia. He seriously threatened the Portuguese hold of Malaca but was defeated in 1629, by an alliance of Portuguese, Johore and Patoni (now part of Thailand) fleet, near Malaca. Iskandar encouraged scholarship and during his time his capital was a centre of trade and Islamic learning.” Medan understanding Heritage, wrote: “The famous Sultan Iskandar Muda from Acheh defeated Aru kingdom in Deli Tua ("Old Deli" located southward of the present Medan) in 1612, established the Deli kingdom in 1632, and appointed Gocah Pahlawan as the first king. The second king, Marhum Kesawan was enthroned in 1669 and then moved the capital to the present location of Medan (the name "Kesawan" is originated from his name). The location of the capital of Deli kingdom was moved several times (to Pulo Brayan, then to Labuhan Deli) before finally settled down in the present location of Maimoon Palace in 1888 by the 9th ruler, Sultan Ma'mum Al Rasyid Perkasa Alamsyah.” Further, The 1911 Editon Encyclopedia Love to Knowth wrote: “It attained its climax of power in the time of Sultan Iskandar Muda (1607-1636), under whom the subject coast extended from Aru opposite Malacca round by the north to Benkulen on the west coast, a sea-board of not less than noo miles; and besides this, the king's supremacy was owned by the large island of Nias, and by the continental Malay states of Johor, Pahang, Kedah and Perak. The chief attraction of Achin to traders in the i;th century must have been gold. No place in the East, unless Japan, was so abundantly supplied with gold. The great-repute of Achin as a place of trade is shown by the fact that to this port the first Dutch (1599) and first English (1602) commercial ventures to the Indies were directed. Sir James Lancaster, the English commodore, carried letters from Queen Elizabeth to the king of Achin, and was well received by the prince then reigning, Alauddin Shah. Another exchange of letters took place between King James I. and Iskandar Muda in 1613. But native caprice and jealousy of the growing force of the European nations in these seas, and the rivalries between those nations themselves, were destructive of sound trade; and the English factory, though several times set up, was never long maintained.

 

”The French made one great effort (1621) to establish relations with Achin, but nothing came of it. Still the foreign trade of Achin, though subject to interruptions, was important. William Dampier (c. 1688) and others speak of the number of foreign merchants settled thereEnglish, Dutch, Danes, Portuguese, Chinese, &c. Dampier says the anchorage was rarely without ten or fifteen sail of different nations, bringing vast quantities of rice, as well as silks, chintzes, muslins and opium. Besides the Chinese merchants settled at Achin, others used to come annually with the junks, ten or twelve in number, which arrived in June. A regular fair was then established, which lasted two months, and was known as the China camp, a great resort of foreigners. ”Hostilities with the Portuguese began from the time of the first independent king of Achin; and they had little remission till the power of Portugal fell with the loss of Malacca (1641). Not less than ten times before that event were armaments despatched from Achin to reduce Malacca, and more than once its garrison was hard pressed. One of these armadas, equipped by Iskandar Muda in 1615, gives an idea of the king's resources. It consisted of 500 sail, of which 250 were galleys, and among these a hundred were greater than any then used in Europe. Sixty thousand men were embarked.

 

”On the death of Iskandar's successor in 1641, the widow was placed on the throne; and as a female reign favored the oligarchical tendencies of the Malay chiefs, three more queens were allowed to reign successively. In 1699 the Arab or fanatical party suppressed female government, and put a chief of Arab blood on the throne. The remaining history of Achin was one of rapid decay.” The other source, wrote: “Hikayat Acheh, the panegyric chronicle of the sultan of Acheh Iskandar Muda (1607-1636), is quite untypical in the context of traditional Malay historiography. This allowed Teuku Iskandar to assume that it had followed the pattern of Akbar-nama (around 1602), the panegyric chronicle of the Mughal emperor Akbar. The present author, however, believes that structurally Hikayat Acheh is more similar to another work of the Mughal era, Malfuzat-i Timuri (the 'Autobiography of Timur [Tamerlane]'), which was presented to the emperor Shah Jahan (1628-1637). While studying the question whether Malfuzat-i Timuri may have been a 'prototype' of Hikayat Acheh, the author has come to the conclusion that there are no serious grounds for the generally accepted dating of this chronicle back to the reigning period of Iskandar Muda. What we can state with due certainty is only the fact that Hikayat Acheh was composed after Iskandar Muda's enthronement in 1607 and before the late 17th century, when this work became known to the Dutch missionary Leidekker. Some internal evidence seems to allow us to limit this long span of time to the period between the early 1630s and the late 17th century.”

 

The last, The Price Of Freedom The Unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro. (27 Desember, 1978), wrote: “Iskandar Muda was a military genius, a great stateman, law-giver, all at once. Iskandar Muda is a great Achehnese leader, Po Teuh Meureuhom. This posthumous name given him by our people is so meaningful. It means “Our Beloved Late Lord”, denoting such love, respect, intimacy and immediacy, as if he is still alive among us to day, although he was dead in 1636. This is immortality. His monuments are not pyramids, but the throbbing hearts of his people, from generations to generations. This is the feeling that I want you to share about him. He is not dead. He still alive among us today. We walk under his shadow. He is our witness. We need a man like him, the standard-bear of our history, against whom we must measure ourselves. I want you to partake some of his ago. Then you will not salute the Javamen anymore. You have to be a free man in your heart first, before you can be free in your home. You have to free your home first before you can free your country. But when you have freed your heart, you can free your home, and you can alsa freeyour country. This is the prosess that we are instigating in Acheh today. If Iskandar Muda were alive today, this ias what he would have done, and he would be with you today, right here in Punteuët Hill.There is an Achehnese proverb that said: Adat bak Po teuh Meureuhom,Hukom bak Sjiah Kuala.

It means “Our Customary Laws cam from our Beloved Late Lord, our Religious Laws cam from Sjiah Kuala”. Sjiah Kuala was a great Islamic scholar and Chief Justice of Iskandar Muda. This is the immediate fount of Achehnese legal system which is based on Islam. It is the foundation of our stare decicis.”

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update