KBRN,
Redelong: Yusra Habib Abdul Gani akan gelar bedah buku terkait sejarah Gayo di
pinggir Danau Lut Tawar tepatnya di Pantai Bebuli pada Minggu 7 Juli 2019 pagi. Yusra menyebutkan buku yang akan dibedah nantinya berjudul Gayo
dan Kerajaan Linge hasil tulisannya sendiri dan akan menepis buku yang berisi
sejarah suku Gayo pada Ensiklopedi Suku Bangsa Indonesia oleh Dr. Zulyani
Hidayah. Bedah buku patut dilakukan katanya, mengingat banyaknya isu miring
terkait asal usul penghuni dataran tinggi di Aceh tersebut yang tidak sesuai
dengan fakta pada masa lampau. “Buku Gayo dan Kerajaan Linge
yang saya tulis adalah jawaban ilmiah terhadap teori atau pandangan yang
dikemukakan oleh Dr. Zulyani Hidayah dengan buku Ensiklopedi Suku Bangsa
Indonesia, dan disitu dituliskan kata Gayo itu berasal dari Ka yo (Aceh)
yang berarti penakut, itu yang akan kita bantah,” tegasnya, Sabtu (6/7/2019).
Ia
berharap dengan adanya bedah buku itu masyarakat Indonesia, Aceh dan khususnya
Gayo mampu menggambarkan sejarah yang seharusnya diketahui oleh semua kalangan. Ia menyebutkan diskusi publik tersebut akan dihadiri oleh tokoh
masyarakat, civitas akademik, mahasiswa, tokoh agama serta aparatur
pemerintahan daerah. Lebih lanjut ia mendorong Pemda
Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara secara bersama atas nama
rakyat Gayo membuat rekomendasi kepada Kemdikbud Republik Indonesia terkait
penarikan segera buku Ensiklopedi Suku Bangsa Indonesia.
AceHTrend,
4 Desember 2017.Danil Taqwadin
Suka atau tidak, 4
Desember 1976 adalah hari bersejarah bagi Aceh. Gimana tidak! Hasan
Tiro dengan beraninya mendeklarasikan kemerdekaan Aceh, kompilasi Pemerintah
Indonesia tengah sibuk-sibuknya menguasai Timor Portugis (yang kemudian menjadi
Provinsi Timor Timur, kemudian merdeka pada tahun 2002). Sejak saat itu, GAM
sebagai motor politik dan AGAM sebagai sayap militer, mulai berjuang untuk
memerdekakan Aceh. Praktis, Pemerintah Indonesia yang tidak rela
melepaskan, melakukan berbagai operasi keamanan dan militer (termasuk
intelijen). Tak perlu banyak kata Aceh saat itu. Cukup dengan kata,
SURAM! Pokoknya, Aceh hari ini, bagus atau buruknya, telah melalui masa
SURAM yang berlaku pada saat itu. Dan itu perlu dimaknai dan digunakan
pembelajaran bagi yang masih bernyawa!
Tapi malam tadi kami
tidak membahas hal itu. Tidak ada bahasan tentang GAM atau
lawannya. Karena ada punca 'benang merah' dalam sejarah memerdekakan Aceh
(oleh GAM) yang perlu dibicarakan lebih dulu, yaitu “Aceh periode 1901-1945.” Yusra
Habib Abdul Ghani, sambil menikmati marthabaque ,
tanpa segelas kuphi, beliau membongkar sejarah Aceh dalam periode
ini. Tarikan dimulai, kompilasi kebijakan politik diluncurkan di tanah
jajahan Belanda oleh Ratu Juliana pada tahun 1901, Aceh masih dalam keadaan
perang (Belanda mendeklarasikan perang dengan Kesultanan Aceh pada
1873). Cenderung, “etis” tidak berlaku di Aceh, lebih lama hingga Perang
Aceh berakhir dengan terbunuhnya Teungku Maat di Tiro sebagai “Wali Neugara”
pada 3 Desember 1911.
Terkait garis besar,
ada kebijakan (politik, militer dan sosial-ekonomi) yang berbeda diterapkan
untuk wilayah / orang Aceh dan bukan Aceh oleh Belanda. Contoh, kompilasi
para pejuang diambil dan dipindahkan ke berbagai daerah di luar Aceh, dikeluarkan
“inggeh / manut,” malah sebaliknya menyulut masyarakat sekitar untuk melawan
Belanda. Mungkin, "pungo" sudah jadi tabiat. Ironisnya,
banyak pula yang masih belum ditemukan peninggalannya hingga saat
ini. Apalagi, "meupat jeurat" (seperti Cut Nyak Dhien dibuang ke
Sumedang, Cut Meurah Intan dibuang ke Blora, dsb.)
Kemudian, paska
berakhirnya perang, ada 4 “faksi” yang muncul dalam periode ini (1911-1942):
Pertama, faksi tokoh dan ulama yang tidak ingin berkonfrontasi langsung dengan
Belanda, kemudian diminta untuk membuka kembali (dapat membantu proses
pengembangan) Dayah siapa yang telah dihasilkan hancur akibat perang. Harapan
terselubungnya, Dayah dapat menjadi basis kaderisasi militer dan diplomasi bagi
perjuangan. Tapi dalam perjalanannya, faksi ini kerap mengelak dari
perkara politik. Sesuai tidak sesuai dengan harapan; kedua, faksi
tokoh-tokoh yang bekerja sama dengan Belanda. Mereka menyatakan sumpah
setia kepada Belanda dalam perjanjian yang ditandatangani oleh 119 tokoh
Aceh. Yang artinya, siapa yang menjadi musuh Belanda, ia juga menjadi musuh
tokoh-tokoh ini. Jelas, strategi Belanda, devide et impera;
Ketiga, faksi
tokoh-tokoh yang oportunistik. Mereka tidak bermasalah dengan masyarakat
Aceh pada umumnya, tetapi juga memiliki hubungan yang baik dengan
Belanda. Bagaimana cara belajar berpolitik yang elegan dari tokoh-tokoh di
Pulau Jawa? Salah satunya, berkecimpung dalam organisasi-organisasi yang
tidak setuju Belanda, dan; Empat, faksi “Aceh Pungo” (Atjeh
Moord). Faksi ini jelas mengatakan “tidak” untuk Belanda. Paska
terbunuhnya Teungku Maat di Tiro, faksi ini bergerak tanpa komando. “Asay nyang bulek, kira-kira
agam, inong, aneuk miet, bamandum geupoh mate.” Masa ini
dikenal sebagai masa yang paling pelik bagi Belanda.
Andai membandingkan
dengan kejadian beberapa tahun yang lalu, pergerakan faksi ini mungkin sama
seperti "sel" al-qaeda
paska terbunuhnya Osama bin Laden, tetapi berbeda senjata (senjata ringan vs
Bom), dengan kecepatan sporadis lebih tinggi karena skop kerja yang lebih kecil
( Aceh vs. Global). Mungkin begitu kira-kira secara
teknisnya. Kesamaannya, ianya menimbulkan efek teror yang lebih terasa dan
sulit diprediksi. 'Ya, ini menurut saya dan perlu penelitian lebih
lanjut!'
Menariknya, kompilasi
Sultan Muhammad Daud Syah (sebelumnya menyerahkan diri pada Belanda pada tahun
1903, yang kemudian dilanjutkan oleh Wali Neugara) wafat pada tahun 1939 di
Batavia, membalikkan faksi ini diangkat untuk membahas Kesultanan Aceh, dan
menyanyikan Sultan sebagai putra, Tuanku Raja ibrahim . Ternyata di dalam
faksi ini ada yang ditolak, juga ditolak mentah-mentah oleh Belanda. Jelas
saja, 'toh' sudah ada faksi yg sudah diterima di atas. Kemudian kompilasi
Belanda keluar, Jepang “dijemput” masuk ke Aceh pada tahun 1942. Ada “inferiority complex” di sini . Ketika
Jepang keluar pada tahun 1945, Aceh masuk secara bersamaan ke dalam Indonesia
bersamaan dengan diserahkannya wilayah Aceh kepada Komite Nasional
Daerah. Dan akhirnya pada tanggal 3 Oktober 1945 Aceh, bendera Merah Putih
berkibar di kantor Residen Aceh di bawah Gubernur Sumatera. Meunan!
Hematnya, ada banyak
catatan menarik dari Surah malam tadi, termasuk paska Istana Kerajaan
dipindahkan ke Keumala Dalam (Pidie); hubungan antara Keluarga Di Tiro,
Tuanku Hasyem dan Sultan Muhammad Daud Syah; persyarikatan dan organisasi
masyarakat dalam dinamika politik di Aceh masa itu; trik dan intrik Bahasa
Belanda untuk “pungo Aceh” atau mencegahnya sebelum “pungo,” dsb. Tapi sulit
mengurainya satu persatu, karena keterbatasan waktu dan berbagai
"ide" yang disetujui lebih cocok diangkat menjadi topik dissasi. Pada
intinya, perlu ada narasi sejarah Aceh yang jelas dan faktual. Baik
buruknya perjalanan Aceh dari masa depan, perlu dibuat pembelajaran. Bukan
hanya mengambil yang baik, kemudian menguburkan yang buruk. Baik dan
buruk, sejarah adalah fakta. Dalam hal ini, Pak Yusra mengatakan bahwa
“Aceh perlu belajar dari Denmark, terutama tentang sejarahnya di Perang Dunia
II. Tidak ada debat, semua seragam, karena sejarahnya diselesaikan dengan
jelas dan jujur. ”Ya, masalah penafsiran atau melihat dari sudut pandang yang
berbeda, itu berlari pengamat dan tokoh muda. Jika ada pertanyaan, tunggu
bukunya saja dari Pak Yusra!
TAKENGON-LintasGAYO.co :
Urang Gayo kini kehilangan tikon
bermata (pedoman) terkelola khusus dalam menghadapi jati. Demikian disampikan salah seorsng tokoh Gayo yang kini menetap di
Denmark, Yusra Habib Abdul Gani, beberapa waktu lalu. Istilah tikon
bermata kata Yusra Habib, saat ini sudah tidak lagi dikenal
sebagai pertemuan dalam sejarah dan jati sendiri. Terlebih, hampir 90
persen generasi Gayo saat ini akan sangat kecil sejarah Gayo.
“Mengalami tantangan dalam sejarah. Kurangnya referensi,
membuat generasi saat ini sangat kecil akan sejarah nenek
moyangnya. Padahal ini penting dalam membangun peradaban Gayo di masa
depan yang akan datang, ”katanya. Untuk itu, hadir dua buku yang bertajuk sejarah Gayo, pertama Gayo
dan Kerajaan Linge dan Maschaussee di Gayo Lues 1904, lebih bisa menjadi
referensi sejarah yang bisa dikembangkan lagi oleh generasi Gayo saat ini.
“Dalam buku Gayo dan Kerajaan Linge, titik fokusnya hanya
membantah buku karya doktor lewat buku ensiklopedia suku-suku di Indonesia yang
merujuk Gayo artinya penakut. Namun, kajian sejarah dalam buku ini dapat
dikembangkan menjadi lebih dari 30 buku lain, ”demikian Yusra Habib Abdul Gani. [Darmawan
Masri
Yusra Habib Sebut
Kepemimpinan Mantan GAM Gagal. Mediaaceh.com,
16 July, 2017
Banda Aceh
– Salah satu mantan tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kini menetap di
Denmark, Yusra Habib Abdul Gani, mengatakan mantan GAM gagal memimpin Aceh
selama lima tahun terakhir. Hal ini seperti tertulis dilaman facebooknya, bahwa
mantan GAM tidak berhasil menjaga kepercayaan rakyat setelah memenangi Pilkada
2012 lalu. Mantan GAM dinilai tidak berhasil membuktikan bahwa kepemimpinan
mereka lebih hebat dari kepemimpinan sebelumnya. “Ketika rakyat Aceh memberi
kepercayaan kepada petinggi GAM memimpin Aceh (2012-2017), tidak dimanfaatkan
sepenuhnya untuk membuktikan kepemimpinan mereka lebih hebat daripada
kepemimpinan sebelumnya,” tulis Yusra diakun facebooknya yang sampai berita ini
dimuat telah disukai puluhan netizen itu. Yusra mengatakan, selama Aceh
dipimpin mantan GAM tidak terjadi perubahan yang signifikan, baik dalam bidang
ekonomi maupun dalam peningkatan kesejahteraan rakyat Aceh. “Bahkan hasil MOU
Helisinki tidak mampu diperjuangkan dan dilaksanakan di Aceh,” katanya.
Menurut
Yusra, padahal mantan GAM yang memimpin Aceh telah didik oleh Wali Nanggroe,
Teuku Hasan Ditiro, sebagai pemimpin level negara. Namun kenyataannya, menurut
Yusra, memimpin provinsi saja tidak mampu. “Ternyata mengatur sebuah provinvi
berpenduduk 4 juta yang dana untuk pembangunan infrastruktur fisik dan non
fisik disediakan oleh pemerintah pusat tidak punya kemampuan memenej. Ini
prestasi yang sungguh memalukan,” katanya. “Jangan sampai ada orang berkata:
mantan GAM, keu peuginteun broih hana laku,” katanya lagi. Yusra Habib Sebut Kepemimpinan
Mantan GAM Gagal. Mediaaceh.com, 16 July, 2017
|
Summary: |



