Notification

×

Iklan

Iklan

Yusra Habib Akan Bongkar Sejarah Gayo Melalui Bedah Buku. Rri.co.id, 6 Juli 2019

Ahad, 9 November 2025 | November 09, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-09T08:54:58Z

 

KBRN, Redelong: Yusra Habib Abdul Gani akan gelar bedah buku terkait sejarah Gayo di pinggir Danau Lut Tawar tepatnya di Pantai Bebuli pada Minggu 7 Juli 2019 pagi. Yusra menyebutkan buku yang akan dibedah nantinya berjudul Gayo dan Kerajaan Linge hasil tulisannya sendiri dan akan menepis buku yang berisi sejarah suku Gayo pada Ensiklopedi Suku Bangsa Indonesia oleh Dr. Zulyani Hidayah. Bedah buku patut dilakukan katanya, mengingat banyaknya isu miring terkait asal usul penghuni dataran tinggi di Aceh tersebut yang tidak sesuai dengan fakta pada masa lampau. “Buku Gayo dan Kerajaan Linge yang saya tulis adalah jawaban ilmiah terhadap teori atau pandangan yang dikemukakan oleh Dr. Zulyani Hidayah dengan buku Ensiklopedi Suku Bangsa Indonesia, dan disitu dituliskan kata Gayo itu berasal dari Ka yo (Aceh) yang berarti penakut, itu yang akan kita bantah,” tegasnya, Sabtu (6/7/2019).

Ia berharap dengan adanya bedah buku itu masyarakat Indonesia, Aceh dan khususnya Gayo mampu menggambarkan sejarah yang seharusnya diketahui oleh semua kalangan. Ia menyebutkan diskusi publik tersebut akan dihadiri oleh tokoh masyarakat, civitas akademik, mahasiswa, tokoh agama serta aparatur pemerintahan daerah. Lebih lanjut ia mendorong Pemda Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara secara bersama atas nama rakyat Gayo membuat rekomendasi kepada Kemdikbud Republik Indonesia terkait penarikan segera buku Ensiklopedi Suku Bangsa Indonesia.

 


AceHTrend, 4 Desember 2017.Danil Taqwadin

Suka atau tidak, 4 Desember 1976 adalah hari bersejarah bagi Aceh. Gimana tidak! Hasan Tiro dengan beraninya mendeklarasikan kemerdekaan Aceh, kompilasi Pemerintah Indonesia tengah sibuk-sibuknya menguasai Timor Portugis (yang kemudian menjadi Provinsi Timor Timur, kemudian merdeka pada tahun 2002). Sejak saat itu, GAM sebagai motor politik dan AGAM sebagai sayap militer, mulai berjuang untuk memerdekakan Aceh. Praktis, Pemerintah Indonesia yang tidak rela melepaskan, melakukan berbagai operasi keamanan dan militer (termasuk intelijen). Tak perlu banyak kata Aceh saat itu. Cukup dengan kata, SURAM! Pokoknya, Aceh hari ini, bagus atau buruknya, telah melalui masa SURAM yang berlaku pada saat itu. Dan itu perlu dimaknai dan digunakan pembelajaran bagi yang masih bernyawa!

Tapi malam tadi kami tidak membahas hal itu. Tidak ada bahasan tentang GAM atau lawannya. Karena ada punca 'benang merah' dalam sejarah memerdekakan Aceh (oleh GAM) yang perlu dibicarakan lebih dulu, yaitu “Aceh periode 1901-1945.” Yusra Habib Abdul Ghani, sambil menikmati marthabaque , tanpa segelas kuphi, beliau membongkar sejarah Aceh dalam periode ini. Tarikan dimulai, kompilasi kebijakan politik diluncurkan di tanah jajahan Belanda oleh Ratu Juliana pada tahun 1901, Aceh masih dalam keadaan perang (Belanda mendeklarasikan perang dengan Kesultanan Aceh pada 1873). Cenderung, “etis” tidak berlaku di Aceh, lebih lama hingga Perang Aceh berakhir dengan terbunuhnya Teungku Maat di Tiro sebagai “Wali Neugara” pada 3 Desember 1911.

Terkait garis besar, ada kebijakan (politik, militer dan sosial-ekonomi) yang berbeda diterapkan untuk wilayah / orang Aceh dan bukan Aceh oleh Belanda. Contoh, kompilasi para pejuang diambil dan dipindahkan ke berbagai daerah di luar Aceh, dikeluarkan “inggeh / manut,” malah sebaliknya menyulut masyarakat sekitar untuk melawan Belanda. Mungkin, "pungo" sudah jadi tabiat. Ironisnya, banyak pula yang masih belum ditemukan peninggalannya hingga saat ini. Apalagi, "meupat jeurat" (seperti Cut Nyak Dhien dibuang ke Sumedang, Cut Meurah Intan dibuang ke Blora, dsb.)

Kemudian, paska berakhirnya perang, ada 4 “faksi” yang muncul dalam periode ini (1911-1942): Pertama, faksi tokoh dan ulama yang tidak ingin berkonfrontasi langsung dengan Belanda, kemudian diminta untuk membuka kembali (dapat membantu proses pengembangan) Dayah siapa yang telah dihasilkan hancur akibat perang. Harapan terselubungnya, Dayah dapat menjadi basis kaderisasi militer dan diplomasi bagi perjuangan. Tapi dalam perjalanannya, faksi ini kerap mengelak dari perkara politik. Sesuai tidak sesuai dengan harapan; kedua, faksi tokoh-tokoh yang bekerja sama dengan Belanda. Mereka menyatakan sumpah setia kepada Belanda dalam perjanjian yang ditandatangani oleh 119 tokoh Aceh. Yang artinya, siapa yang menjadi musuh Belanda, ia juga menjadi musuh tokoh-tokoh ini. Jelas, strategi Belanda, devide et impera;

Ketiga, faksi tokoh-tokoh yang oportunistik. Mereka tidak bermasalah dengan masyarakat Aceh pada umumnya, tetapi juga memiliki hubungan yang baik dengan Belanda. Bagaimana cara belajar berpolitik yang elegan dari tokoh-tokoh di Pulau Jawa? Salah satunya, berkecimpung dalam organisasi-organisasi yang tidak setuju Belanda, dan; Empat, faksi “Aceh Pungo” (Atjeh Moord). Faksi ini jelas mengatakan “tidak” untuk Belanda. Paska terbunuhnya Teungku Maat di Tiro, faksi ini bergerak tanpa komando. “Asay nyang bulek, kira-kira agam, inong, aneuk miet, bamandum geupoh mate.” Masa ini dikenal sebagai masa yang paling pelik bagi Belanda.

Andai membandingkan dengan kejadian beberapa tahun yang lalu, pergerakan faksi ini mungkin sama seperti "sel" al-qaeda paska terbunuhnya Osama bin Laden, tetapi berbeda senjata (senjata ringan vs Bom), dengan kecepatan sporadis lebih tinggi karena skop kerja yang lebih kecil ( Aceh vs. Global). Mungkin begitu kira-kira secara teknisnya. Kesamaannya, ianya menimbulkan efek teror yang lebih terasa dan sulit diprediksi. 'Ya, ini menurut saya dan perlu penelitian lebih lanjut!'

Menariknya, kompilasi Sultan Muhammad Daud Syah (sebelumnya menyerahkan diri pada Belanda pada tahun 1903, yang kemudian dilanjutkan oleh Wali Neugara) wafat pada tahun 1939 di Batavia, membalikkan faksi ini diangkat untuk membahas Kesultanan Aceh, dan menyanyikan Sultan sebagai putra, Tuanku Raja ibrahim . Ternyata di dalam faksi ini ada yang ditolak, juga ditolak mentah-mentah oleh Belanda. Jelas saja, 'toh' sudah ada faksi yg sudah diterima di atas. Kemudian kompilasi Belanda keluar, Jepang “dijemput” masuk ke Aceh pada tahun 1942. Ada “inferiority complex” di sini . Ketika Jepang keluar pada tahun 1945, Aceh masuk secara bersamaan ke dalam Indonesia bersamaan dengan diserahkannya wilayah Aceh kepada Komite Nasional Daerah. Dan akhirnya pada tanggal 3 Oktober 1945 Aceh, bendera Merah Putih berkibar di kantor Residen Aceh di bawah Gubernur Sumatera. Meunan!

Hematnya, ada banyak catatan menarik dari Surah malam tadi, termasuk paska Istana Kerajaan dipindahkan ke Keumala Dalam (Pidie); hubungan antara Keluarga Di Tiro, Tuanku Hasyem dan Sultan Muhammad Daud Syah; persyarikatan dan organisasi masyarakat dalam dinamika politik di Aceh masa itu; trik dan intrik Bahasa Belanda untuk “pungo Aceh” atau mencegahnya sebelum “pungo,” dsb. Tapi sulit mengurainya satu persatu, karena keterbatasan waktu dan berbagai "ide" yang disetujui lebih cocok diangkat menjadi topik dissasi. Pada intinya, perlu ada narasi sejarah Aceh yang jelas dan faktual. Baik buruknya perjalanan Aceh dari masa depan, perlu dibuat pembelajaran. Bukan hanya mengambil yang baik, kemudian menguburkan yang buruk. Baik dan buruk, sejarah adalah fakta. Dalam hal ini, Pak Yusra mengatakan bahwa “Aceh perlu belajar dari Denmark, terutama tentang sejarahnya di Perang Dunia II. Tidak ada debat, semua seragam, karena sejarahnya diselesaikan dengan jelas dan jujur. ”Ya, masalah penafsiran atau melihat dari sudut pandang yang berbeda, itu berlari pengamat dan tokoh muda. Jika ada pertanyaan, tunggu bukunya saja dari Pak Yusra!


TAKENGON-LintasGAYO.co : Urang Gayo kini kehilangan tikon bermata (pedoman) terkelola khusus dalam menghadapi jati. Demikian disampikan salah seorsng tokoh Gayo yang kini menetap di Denmark, Yusra Habib Abdul Gani, beberapa waktu lalu. Istilah tikon bermata kata Yusra Habib, saat ini sudah tidak lagi dikenal sebagai pertemuan dalam sejarah dan jati sendiri. Terlebih, hampir 90 persen generasi Gayo saat ini akan sangat kecil sejarah Gayo.

“Mengalami tantangan dalam sejarah. Kurangnya referensi, membuat generasi saat ini sangat kecil akan sejarah nenek moyangnya. Padahal ini penting dalam membangun peradaban Gayo di masa depan yang akan datang, ”katanya. Untuk itu, hadir dua buku yang bertajuk sejarah Gayo, pertama Gayo dan Kerajaan Linge dan Maschaussee di Gayo Lues 1904, lebih bisa menjadi referensi sejarah yang bisa dikembangkan lagi oleh generasi Gayo saat ini.

“Dalam buku Gayo dan Kerajaan Linge, titik fokusnya hanya membantah buku karya doktor lewat buku ensiklopedia suku-suku di Indonesia yang merujuk Gayo artinya penakut. Namun, kajian sejarah dalam buku ini dapat dikembangkan menjadi lebih dari 30 buku lain, ”demikian Yusra Habib Abdul Gani. [Darmawan Masri

Yusra Habib Sebut Kepemimpinan Mantan GAM Gagal. Mediaaceh.com,

 

Banda Aceh – Salah satu mantan tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kini menetap di Denmark, Yusra Habib Abdul Gani, mengatakan mantan GAM gagal memimpin Aceh selama lima tahun terakhir. Hal ini seperti tertulis dilaman facebooknya, bahwa mantan GAM tidak berhasil menjaga kepercayaan rakyat setelah memenangi Pilkada 2012 lalu. Mantan GAM dinilai tidak berhasil membuktikan bahwa kepemimpinan mereka lebih hebat dari kepemimpinan sebelumnya. “Ketika rakyat Aceh memberi kepercayaan kepada petinggi GAM memimpin Aceh (2012-2017), tidak dimanfaatkan sepenuhnya untuk membuktikan kepemimpinan mereka lebih hebat daripada kepemimpinan sebelumnya,” tulis Yusra diakun facebooknya yang sampai berita ini dimuat telah disukai puluhan netizen itu. Yusra mengatakan, selama Aceh dipimpin mantan GAM tidak terjadi perubahan yang signifikan, baik dalam bidang ekonomi maupun dalam peningkatan kesejahteraan rakyat Aceh. “Bahkan hasil MOU Helisinki tidak mampu diperjuangkan dan dilaksanakan di Aceh,” katanya.

Menurut Yusra, padahal mantan GAM yang memimpin Aceh telah didik oleh Wali Nanggroe, Teuku Hasan Ditiro, sebagai pemimpin level negara. Namun kenyataannya, menurut Yusra, memimpin provinsi saja tidak mampu. “Ternyata mengatur sebuah provinvi berpenduduk 4 juta yang dana untuk pembangunan infrastruktur fisik dan non fisik disediakan oleh pemerintah pusat tidak punya kemampuan memenej. Ini prestasi yang sungguh memalukan,” katanya. “Jangan sampai ada orang berkata: mantan GAM, keu peuginteun broih hana laku,” katanya lagi. Yusra Habib Sebut Kepemimpinan Mantan GAM Gagal. Mediaaceh.com,

Summary:
Sejarah perjuangan mendaulatkan penubuhan negara Islam Aceh dipenuhi dengan cabaran dan halangan, walaupun kerajaan Islam Aceh telah jelas terbentuk sejak zaman awal moden, namun perubahan politik yang berlaku pada akhir abad ke-18 telah merubahnya. Kajian ini merungkai bagaimana kehadiran kuasa luar, seperti Belanda, Jepun dan penubuhan negara Indonesia telah mencabar dan menghalang kepada penubuhan negara bangsa Aceh. Permasalahan ini bertambah kusut selepas Perang Dunia Kedua, apabila perjuangan mendaulatkan kerajaan Islam Aceh telah berubah dari sebuah gagasan perjuangan untuk menubuhkan kerajaan Aceh yang berdaulat kepada perjuangan menuntut pelaksanaan Syari’at Islam dilaksanakan dalam lingkungan negara Indonesia. Seterusnya pada tahun 1976, perjuangan untuk menubuhkan sebuah negara yang merdeka telah diteruskan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang menuntut kemerdekaan sepenuhnya dan penubuhan sebuah negara Islam. Antara persoalan kajian yang mendasari kajian ini adalah: mengapakah kuasa luar menjajah Aceh yang merupakan sebuah kerajaan yang berdaulat dan merdeka, bagaimanakah tindak balas Aceh untuk mempertahankan kedaulatan negara Islam Aceh, bagaimanakah usaha penentangan gerakan Darul Islam Aceh terhadap Kerajaan Pusat Indonesia dan apakah matlamat penubuhan GAM. Bertolak daripada persoalan ini, objektif kajian ini adalah: menganalisis faktor-faktor utama kuasa luar menjajah Aceh yang merupakan sebuah kerajaan yang berdaulat dan merdeka, usaha-usaha Aceh untuk mempertahankan kedaulatan Aceh terhadap kuasa luar, penentangan gerakan Darul Islam Aceh (DI-Aceh) terhadap Kerajaan Pusat Indonesia dan matlamat penubuhan GAM serta penubuhan negara Islam Aceh. Untuk mencapai maksud di atas, kajian ini menggunakan sepenuhnya penyelidikan dari sumber arkib, seperti surat-surat rasmi, naskah perundingan, peta, mata wang, bendera dan laporan-laporan rasmi lainnya. Selain itu, digunakan penyelidikan perpustakaan yang tersimpan di Jakarta, Belanda dan juga dokumen yang disimpan dan dimiliki secara perorangan. Hasil kajian mendapati bahawa perjuangan mendaulatkan Aceh menjadi negara merdeka dan berdaulat sejak tahun 1873-2005 mengalami pasang surut, namun tetap berterusan. Ini merupakan dinamika perjuangan untuk mendaulatkan penubuhan negara Islam Aceh. Akhirnya penemuan kajian ini menyimpulkan bahawa sejarah perjuangan mendaulatkan Aceh sebagai sebuah negara bangsa yang merdeka dan mendaulatkan daulah Islamiah sepenuhnya, masih jauh dari harapan dan cita-cita pengasasnya.


TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update