Beliau cerdas, menguasai ilmu agama, politik,
falsafah dan hukum. Oleh sebab itu, Raja Linge mengutus Qurrata’aini sebagai
wakil resmi dari Kerajaan Linge dalam Parlemen Acheh. Prestasi gemilangnya,
sempat menggemparkan dunia pradilan Acheh pada ketika itu, hanya saja tidak
diketahui secara meluas, karena kurangnya minat para pakar sejarah [khususnya
dari Gayo] untuk meneliti dan menulis demi memperkaya khazanah sejarah Acheh.
Jadi, wajar, jika hanya ketokohan Tjut Malayati, Tjut Muthia, Tjut Njak Dien,
Tjôt Meuligoë, Tjôt Meurah Gambang dan Tjut Meurah Intan saja yang mencuat dan
mendominasi referensi sejarah perjuangan wanita Acheh. Terlebih dari itu,
ketokohan wanita Acheh dalam perang melawan penjajah –keperkasaannya–
diidentikkan dengan kaum lelaki, tidak dalam arti lain. Padahal, Tajul Alam
Syaifiatuddin, Nurul Alam Nakiyatuddin dan Inayatsyah Zakiyatuddin adalah
diantara wanita yang tidak kurang harumnya dalam lembaran sejarah Acheh, tetapi
deretan nama wanita yang disebut terakhir ini kurang populer berbanding
ketokohan militer wanita Acheh. Apakah ini suatu indikasi bahwa wanita Acheh
hanya suka dengan perang?
Qurrata’aini punya warna lain, berkifrah dalam dunia
politik, hukum dan telah menempatkan dirinya sebagai satu-satunya wanita Acheh
yang disegani dan layak menduduki kursi Parlemen pusat pada masa pemerintahan
Sultan Ali Mughayat Syah berkuasa. ’Beliau bertandang, meski seorang’!
Pandangan beliau tentang applikasi hukum yang mengetengahkan ijtihad
–penafsiran intensive– telah menjadi yurisprudensi menarik dalam dunia Pradilan
Acheh, karena memadukan atau memasukkan unsur hukum Adat Gayo ke dalam hukum Islam
yang diterima oleh Mahkamah Qadhi Maliku ‘Adil, tanpa mengenyampingkan makna
dan maksud hukum Islam. Ceritanya begini: ’Sebelum Johansyah [Raja Linge ke-12]
diltantik oleh Sjèh Abdullah Kan’an dan restu Sultan Acheh menjadi Panglima
perang melawan Portugis di Selat Melaka dan Tanah Semenanjung Malaysia, beliau
sudah mempunyai seorang anak lelaki [yang kemudian memangku [Raja Linge ke-13.]
Dalam missi tersebut; selain berhasil meredam kekuatan Portugis, Johansyah
mempersunting putri Sultan Johor dan dikaruniai dua anak lelaki bernama: Bener
Merie dan Sengeda. [Johansyah mempunyai tiga isteri, yaitu: Ibu Raja Linge
ke-13 (isteri pertama); Nio Niang Lingké –Putoê Nèng– (isteri kedua), tidak ada
zuriat; Putri Sultan Johor, (isteri ketiga)] Ketika bertugas di kepulauan Riau,
tiba-tiba Johansyah jatuh sakit dan meninggal dunia. Makam Johansyah, hingga
sekarang masih tegak dan dipelihara dengan baik di Pulau Lingga, Riau.
Suatu ketika, ketika Bener Merie dan Sengeda menginjak usia remaja,
mereka meminta restu Ibunya, supaya dibolehkan ikut rombongan Raja Linge menuju
Linge (tanah Gayo), seusai menghadiri Sidang tahunan Raja-raja seluruh Acheh di
Kutaraja. Untuk melicinkan jalan, mereka bisikan kepada Syirajuddin (Perdana
Menteri Kerajaan Linge, berkedudukan di Serule). Pendek cerita, sampai di
Istana Kerajaan Linge, suasana mulai heboh dan bisik-bisik; siapa gerangan dua
remaja yang ikut dalam rombongan? Tanpa disiasat lebih dahulu, Raja Linge ke-13
terus menyiapkan algojo untuk ’menghabisi’ Bener Merie dan Sengeda dengan
tuduhan sebagai mata-mata, padahal keduanya ialah saudara satu Ayah, lain Ibu
dengan Raja Linge ke-13. Untuk itu, Raja Linge ke-13, menyusun dua regu. Regu
pertama, bertugas untuk membunuh Bener Merie, yang komandannya ialah Raja Linge
ke-13 sendiri. Regu kedua, bertugas untuk membunuh Sengeda, yang komandannya
ialah Syirajuddin, Perdana Menteri Kerajaan Linge, berkedudukan di Serule. Setelah
dua hari dalam perjalanan, regu pertama tiba di Samar Kilang. Di sinilah Bener
Merie baru sadar dan tahu bahwa dirinya akan dibunuh. Sebelum jiwanya melayang,
dia menangis tersedu-sedu, menderu dan meratap hingga mengoyak angkasa biru dan
memecah keheningan alam semesta agar Allah Maha kuasa tahu, bahwa nyawanya
tinggal menghitung detik waktu, karena tidak menyangka peristiwa ini akan
berlaku. Tempat Bener Merie menangis dan
menderu ini dinamai: ”Wihni Bernguk” (”Sungai isak-tangis”). Bener Merie dibunuh di hulu ”Uning”, suatu kawasan terpencil di
Samarkilang.
Akan halnya dengan Sengeda, berhasil diselamatkan oleh Syirajuddin, yang
dikenal ’alim dan berbudi baik. Untuk mengelabui Raja Linge ke-13 dengan cara
mengeksekusi seekor kucing, diletakkan dalam Kerenda, diarak beramai-ramai dan
dimakaman. Lokasi Kuburan Kucing yang tak bersalah (innosence) ini dinamai: ”Tanom
Kucing” (“Tanam Kucing”) terletak di daerah Serule. Pada persidangan
tahunan Raja-raja seluruh Acheh berikutnya, terungkaplah sepak terjang Raja
Linge ke-13, atas laporan Sengeda dan Syirajuddin. Kasus ini menjadi salah satu
agenda pokok dalam persidangan Raja-raja seluruh Acheh waktu itu. Sultan Acheh
kemudian menyerahkan perkara tersebut kepada Qadhi Malikul ’adil untuk
mengadili. Setelah mendengar keterangan saki-saksi dan bukti-bukti yang ada,
maka Qadhi Maliku ’adil menjatuhkan hukuman mati (qishash) kepada Raja Linge
ke-13, karena telah terbukti dengan sah melakukan delik pembunuhan berencana.
Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an, surat Al-Baqarah, ayat 178: ”...
Diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang yang dibunuh; orang merdeka
dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, wanita dengan wanita. Maka
barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya [Ahli waris],
hendaklah yang mema’afkan mengikuti dengan cara yang baik dan yang diberi ma’af
membayar diyat kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik pula. Yang
demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat...”
Sebagai pakar hukum Islam dan anggota Parlemen wakil dari Kerajaan Linge,
Qurrata’aini merasa keberatan dengan hukuman qishash yang hendak dijatuhkan
kepada Raja Linge ke-13, walaupun sudah terbukti melakukan pembunuhan. Adalah
benar, kebenaran mesti ditegakkan, walau pun langit akan runtuh! Namun
demikian, dalam persidangan, Qurrata’aini menyampaikan pledoi menarik dan
ilmiah; yang mempersoalkan tentang validitas dan kepastian hukuman qishash yang
dijatuhkan kepada Raja Linge ke-13. Pledoi Qurrata’aini bukan saja
membentangkan dalil-dalil Qur’ani, tetapi juga legalitas hukum Adat Gayo, demi
melengkapi referensi Qadhi Malikul ’adil. Ya benar,
Al-Qur’an telah menentukan hukuman qishash kepada sipembunuh. Ini wajib
ditegakkan! Tetapi jangan lupa bahwa, masih dalam ayat yang sama, tertera: ”...
Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya [Ahli waris],
hendaklah yang mema’afkan mengikuti dengan cara yang baik dan yang diberi ma’af
membayar diyat kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik pula... ”Sehubungan dengan itu, putusan Majlis hakim
tidak boleh dilaksanakan, sebelum terlebih dahulu memanggil dan mendengar
keterangan Ahli waris, yaitu: Sengeda dan Ibunya. Untuk itu, saya siap
menghadirkan mereka di depan Mahkamah yang terhormat ini.” Demikian antara
lain bunyi pledoi Qurrata’aini.
Sementara itu, di celah-celah proses persidangan
yang berlangsung alot, Qurrata’aini sudah pun terlebih dahulu melobby Sengeda
dan Ibunya yang dirundung malang. Kepada Sengeda, Qurrata’aini berkata: ”Abangmu
(Bener Merie) sudah tiada dan tidak mungkin kembali lagi. Jika Raja Linge ke-13 dieksekusi, berarti Anda kehilangan dua saudara.
Relakah Anda mema’afkan? Inilah satu-satu jalan menyelamatkan nyawa Raja Linge
ke-13. Dalam Islam, perintah qishash adalah hak Allah yang wajib didahulukan,
bukan sebaliknya. Artinya, hukuman mati (qishash) tidak dilaksanakan, jika ahli
waris mema’afkan.” Segeda dan Ibunya dengan ikhlas
akhirnya memilih untuk memberi ma’af. Setelah mendengar pledoi dan kesaksian
Sengeda dan Ibunya, maka Majlis Hakim menukar hukuman mati (qishash) ke atas
Raja Linge ke-13 dengan memerintahkan membayar diyat kepada Ahli waris. Di
depan Mahkamah tesebut Qurrata’aini mengusulkan: ”selain membayar diyat,
Raja Linge ke-13 juga dikenakan sanksi adat, yakni: wilayah kuasa hukumnya
dipersempit, baju kebesaran dan Bawar (Pedang) Kerajaan Linge ditanggalkan.”
Usul tersebut dikabulkan oleh Majlis Hakim. Qurrata’aini telah berjuang
menegakkan hukum dan keadilan, demi menyelamatkan nyawa raja Linge ke-13; yang
berhati kotor, dengki, irihati dan pembunuh saudara itu, akhirnya pulang
kampung dengan penuh hina dan tercela. Dia kehilangan segala-galanya.
Qurrata’aini yang diceritakan panjang-lebar tadi ialah: nama Datu Beru sewaktu
kecil. Dalam bahasa Gayo: “Geral turun mani.” Diriwayatkan, dalam
perjalanan dari Kuta Raja menuju Takengon, setibanya di Ulung Gajah, tiba-tiba
Datu Beru jatuh sakit. Para staffnya mengusung dengan tandu. Akhirnya, beliau
meninggal dan dimakamkan di sebuah bukit di Kampung Tunyang, Acheh Tengah. Datu
Beru adalah ’bunga mawar’ dari berasal dari benih unggul (“énéh bereden”)
dan merupakan refresetatif dari semua ’mawar’ yang dikenal di tanah Gayo. Sukar
dicari penggantinya, walau pun riwayatnya sudah lebih dari lima abad yang
silam. Datu Beru; engkau Datu kami dan
Datu kita!
FAMILI di Tiro, bukan saja penyandang predikat
Ulama, tetapi juga sebagai simbol pejuang yang gigih mengusir penjajah Belanda
dari Acheh. Hal ini dimulai dari karir politik Tengku Tjhik di
Tiro Mhd. Saman, yang dilantik oleh Majlis Negara: Tuanku Hasjém; Teuku
Panglima Polém; Tengku Tjhik Abdul Wahab Tanoh Abèë sebagai Kepala Negara pada
tahun 1875, menggantikan Mhd. Dawud Shah yang waktu itu berusia 9 tahun dan
dinilai tidak layak memimpin negara dalam keadaan perang. Di bawah pimpinan
Thjik di Tiro Mhd. Saman, TNA berhasil mengurung serdadu Belanda selama 12
tahun [tahun 1884-1896] dalam suatu kèm yang Belanda namakan ”geconcentreerde
linie” (kuta meusapat). J. Kreemer, dalam: „Atjeh“ menulis: „Dia telah
memerintahkan membangun benteng-benteng kecil di sekeliling kota dimana kami
terkurung semua, bahkan kalau boleh di pelupuk mata kami, sehingga mereka telah
mengurung kami dengan kekuatan senjata.“ Strategi militer yang taktis dan
kendali politik sudah berada di tangan Acheh. Hanya saja, Tengku Thjik di Tiro
Mhd. Saman terlalu toleran, memberi peluang kepada musuh untuk menyerah secara
terhormat dengan tidak mesti membunuhnya. ”Dalam rentang masa 12 tahun
itulah, terjadi diplomatic correspondence antara Tengku Thjik di Tiro Mhd.
Saman dengan pemerintah Belanda.
Kepada serdadu Belanda yang terkurung disarankan
supaya:
1. Menyerah kepada tentara Acheh dengan sukarela;
2. Dapat menetap dan bisa berdagang di Acheh;
3. Masuk Islam secara sukarela (tidak ada paksaan);
4. Mengakui dan patuh kepada pemerintah dan hukum negara Acheh.
Sehubungan dengan itu, Kabinet Belanda
yang bersidang pada 15 Agustus, tahun 1888, memberi jawaban dengan menolak
tawaran negara Acheh.” [3]
Ke-empat syarat yang ditawarkan, merupakan bukti nyata keagungan moral
bangsa Acheh kepada musuh. Kompromi politik dan militer sebetulnya hanya
terjadi, jika kuasa politik dan militer, mutlak sudah di tangan Acheh. Belanda
perlu masa tiga tahun untuk memberi jawaban terakhir. Selama itu, pakar
psikology perang Belanda menyusup dan meneliti karakteristik orang Acheh dan
menyimpulkan: Acheh adalah bangsa yang memiliki sifat jujur, ikhlas, baik hati,
pema’af, gila gelar, pangkat dan harta.
Keberagaman sifat ini, dimanfaatkan Belanda untuk kepentingan politik dan
militer. Misalnya, para Ulèëbalang di sekitar kèm disogok, diberi gelar dan
pangkat dengan maksud agar tidak menyerang mereka. Disamping itu, Belanda
mengulur waktu dan terus berunding. Akhirnya, Tengku Thjik di Tiro Mhd. Saman
terperangkap dalam perang urat saraf yang licik. Hasilnya, Belanda secara
rahasia memperalat seorang perempuan asal Sibrèh, supaya mau membunuh Tengku
Thjik di Tiro Mhd. Saman dengan cara
membubuh racun dalam makanan. Belanda berjanji memberi emas batangan kepada
pelaku. Tengku Thjik di Tiro Mhd. Saman akhirnya meninggal karena diracun pada
25. Januari tahun 1891. Posisi di Tiro Mhd. Saman dipegang oleh Tengku Thjik
Mhd. Amin di Tiro
Dalam suasana berkabung, serdadu Belanda berhasil
memperoleh pasokan senjata beserta 5000 serdadu asal Jawa dan Madura untuk
mengepung kubu-kubu pertahanan TNA. Maka, pada 26. Maret 1896 meletus perang
“Aneuk Galong” yang amat dahsyat. H.C Zentgraaf melaporkan: “Bangsa Acheh
berperang seperti singa, ramai yang memilih mati dalam kota yang terbakar
hangus, daripada menyerah. Perang ini adalah perang main cincang dengan senjata
di tangan, pertarungan satu lawan satu yang amat dahsyat, tidak ada yang minta
ampun dan memberi ampun…Diantara yang mati dalam perang ini ialah Tengku Thjik
di Tiro Mhd. Amin [pen: penerus Tengku Thjik di
Tiro Mhd. Saman (tahun 1891–1896)]. Mayat beliau diselamatkan dan dibawa oleh
orang Acheh ke kampung Mureue, di sanalah beliau dikuburkan.” Setelah Tengku Thjik Mhd. Amin di Tiro mati syahid dalam medan perang
”Aneuk Galong”, maka jabatan Wali negara (kepala negara) selanjutnya, dipegang
oleh Tengku Thjik Ubaidillah di Tiro (1896–1899). Malangnya, hanya menjabat
kepala negara selama tiga tahun. Beliau pun mati syahid dalam medan perang
tahun 1899. Pimpinan tertinggi negara diteruskan oleh Tengku Thjik Lambada di
Tiro (1899–1904). Dalam suatu peperangan yang sengit, beliau mati syahid.
Estafet kepemimpinan tertinggi negara dipegang oleh Tengku Thjik Muhammad Ali
Zainal Abidin di Tiro (alias Tengku Bukét). Beliau juga syahid dalam medan
perang Gunung Alimon yang meletus pada 21. Mei 1910 (1904–1910). Sesudah itu,
pimpinan tertinggi negara dipegang oleh Tengku Thjik Mahjédidin di Tiro.
Ketika itulah, Belanda coba membuka rundingan. Untuk
itu, Tuanku Radja Keumala, Tuanku Mahmud dan Teuku Panglima Polém Muhammad
Dawôd, disuruh Belanda menulis dan mengirim surat kepada Mahjédidin di Tiro
supaya menyerah kepada Belanda. Ahli sejarah Belanda menulis: ”surat
tersebut sudah diterima oleh Tengku Majét dan kita tahu bahwa beliau mengadakan
musyawarah dengan ketiga orang yang sudah menyerah tersebut beserta dengan
panglima-panglima lain. Tidak seorangpun diantara mereka yang mau menyerah.
Tidak seorang pun yang mau meninggalkan perjuangan: semua mereka tetap bertekad
untuk berperang sampai pada titik terakhir, dan sudah siap sedia menerima semua
resiko apa pun sebagai akibat daripada perjuangan ini sebagai kehendak daripada
Allah”. Tengku Mahjédidin di Tiro tidak bergeming dari pendidiriannya dan
mati syahid dalam medan perang Alue Simi, pada 5. September 1910. Dengan
beruntunnya famili di Tiro syahid dalam medan perang, maka satu-satunya
penghalang dan menjadi target militer Belanda tinggal seorang lagi, yakni:
Tengku Ma’at di Tiro (16 tahun) yang tetap istiqamah untuk meneruskan amanah
kepemimpinan demi perjuangan dan memelihara prestige famili di Tiro.
Beliau pernah ditawari oleh Colonel H.J. Schmidt
(komandan militer Belanda) melalui surat yang dititip kepada isteri Tengku Aluë
Tutuë (anak perempuan Tengku Thjik di Tiro Mhd. Saman) untuk disampaikan
kepada Tengku Ma’at di Tiro, dengan maksud agar beliau menyerah kepada Belanda
dan berjanji memperlakukannya secara baik-baik, menyediakan fasilitas: istana
dan biaya seumur hidup di Arab Saudi. Tetapi semua tawaran Belanda ditolak mentah-mentah.
Dalam pesan lisannya, Tengku Ma’at mengatakan: ”Beliau memilih lebih baik
mati syahid daripada menyerah dan menginjak Istana musuh.” Utusan Schmidt
menambahkan: ”Surat Tuan sudah saya sampaikan, tetapi tidak jalan untuk
menyerah. Dia mau mati syahid seperti Ayahnya.” Setelah ditempuh upaya
diplomasi dan ternyata tidak membuahkan hasil; maka Colonel H.J. Schmidt
menyusun kekuatan dan satu-satunya jalan adalah menggunakan pendekatan militer
untuk memburu anak muda, yang kalangan militer Belanda anggap sebagai kerikil
tajam yang menghalang maksud dan tujuan Belanda di Acheh. Maka meletus perang Alue Bhôt, pada 3. Desember
1911. Beliau gugur sebagai syuhada. Inilah komentar Pengarang Belanda: ”Kisah
kematian Tengku di Tiro yang terakhir ini memberi bahan kepada suatu roman
sejarah; begitulah, sudah tertanam dalam riwayat perang Acheh untuk menjadi
bahan sejarah kepahlawanan yang begitu kuat dan luar biasa dan begitu kayanya,
sehingga tidak ada lain lagi yang dapat memberi kebanggaan dan kebesaran kepada
suatu bangsa.
”Famili di Tiro telah memperlihatkan keteladanan
yang indah dan mengagumkan, sehingga bisa menjadi pelajaran kepada bangsa Acheh
dan musuh. Colonel H.J. Schmidt mencatat: “Dari sejak permulaan perang, famili
Tengku di Tiro telah memainkan peranan penting yang luar biasa bagi rakyat
Acheh. Di sini, tidak ada pilihan lain kecuali: memenangkan peperangan atau
mati sebagai pahlawan. Kemenangan sudah terang tidak mungkin dan tidak bisa
diupayakan. Tidak, walaupun mereka berdiri tegah dan berperang seperti hero. Kendati
rintangan melintang, seorang Tengku di Tiro tidak akan mengakui kemungkinan
lain, kecuali memilih mati.
”Maka, demi perang ini, segalanya sederhana, singkat dan kendala: dimana
Tengku di Tiro yang terakhir mati syahid dalam medan peperangan... dan
pemandangan ini tidak bisa dipungkiri dalam drama kelangsungan bangsa Acheh,
bahwa bermula dari sekarang, tidak dapat berkiprah lebih lama lewat jalan
lain.” [4]
Inilah pengakuan musuh terhadap famili di Tiro. Lebih jauh dikatakan: “Darah
Tengku di Tiro sudah terlalu banyak tumpah. Kasihan kepada anak muda ini. Sebab
itu diupayakan untuk menyelamatkan nyawanya; tapi tidak mudah, sebab tidak mau
kompromi. Kita sudah
memberi jaminan hidup dan status social, tapi semua ditolak mentah-mentah…. Ini
sudah cukup, lebih dari cukup.” [5] Sejak berakhirnya peristiwa yang mengenaskan hati itu, gezah famili
Tengku di Tiro pudar dari pentas politik. Rentetan peristiwa dalam sejarah
perjuangan famili di Tiro sampai 1911, terjawab sudah! Genap 85 tahun kemudian,
barulah Tengku Hasan M. di Tiro bangkit memproklamirkan Acheh Merdeka
[04/12/1976] sebagai negara sambungan –successor state– yang terputus sejak 3. Desember 1911. Kini giliran Tengku Hasan M. Di Tiro
tengah dalam ujian sejarah. Antara tahun 1873–1875, masalah Acheh menjadi topik
yang gempar dalam Sidang Parlemen British, Belanda, Turki, Perancis, tidak
terkecuali Gedung Putih (USA), sehubungan
dengan serangan Belanda ke atas Acheh. Pada tahun 2000-2003, perkara
Acheh gempar dibicarakan di Geneva dan tahun 2005, isu Acheh menjadi isu
internasional di Helsinki, karena GAM [baca: Acheh] yang selama ini berjuang
melanjutkan langkah-langkah para syuhada –mengembalikan kedaulatan Acheh– kini
menuntut jatah serpihan demokrasi, sesudah terlebih dahulu mengaku bahwa Acheh
satu bagian dari NKRI dan taat kepada konstitusi Indonesia.
Sebagai pemimpin tertinggi GAM, inilah saat yang
tepat –selama berada di Acheh– Tengku Hasan M. di Tiro menjelaskan kepada
rakyat Acheh dengan terus terang tentang: keabsahan Acheh menerima Otonomi
khusus [self-government] dalam NKRI atau masih menuntut kemerdekaan Acheh yang
beliau proklamirkan 4/12/1976. Hal ini penting demi masa depan dan kemaslahatan
rakyat Acheh. Apalagi, Tengku Hasan M. Tiro dalam surat yang ditujukan kepada
Tengku Muhammad Mahmud (Abang kandung Dr. Zubir Mahmud, Menteri Sosial, mengatakan:
”... Saya bertanggungjawab di hadapan Allah atas matinya ribuan bangsa Acheh
dalam revolusi ini…”. [6] Saksi mata dalam perkara ini ialah: saya sendiri,
Bakhtiar Abdullah, Musanna Abdul Wahab dan Iqlil Ilyas Leubé. Surat tersebut
hanya yang dibacakan oleh Bakhtiar Abdullah itu hanya dilihat dan didengar
langsung oleh Tengku Muhammad Mahmud dan tidak boleh memilikinya.
Jadi, kalau bukan sekarang, kapan lagi para korban
konflik dan ahli waris menagih tanggungjawab itu. Dari surat politik pakai kop
ASNLF yang dikirim kepada Yusuf Kalla (Wapres RI), adalah suatu indikasi bahwa
beliau masih tetap komitmen dengan pendirian semula. Dalam soal ini: jangankan
surat kepada pemimpin negara asing; surat-menyurat yang dikirim Wali Negara
kepada saya sendiri pun, selalu beliau pakai kop resmi ASNLF. Beliau tahu benar
menempatkan diri. Hanya saja staf terdekat beliau kerap bermain di belakang
layar. Misalnya: Malik Mahmud mengirim surat susulan kepada Yusuf Kalla tanpa
kop ASNLF dengan redaksi yang sama. Ini ’diplomatic correspondence’ yang a’ib dalam sejarah diplomasi GAM.
Contoh lain. Pembohongan telah berlaku atas diri beliau antara rentang masa
Januari-Juli tahun 2005, dimana juru runding GAM memberi komentar: “semua
perkembangan yang terjadi di meja runding [di Helsinki] tetap dilaporkan kepada
Wali Negara.” Ternyata, draft MoU Helsinki baru diketahui dan dibaca oleh
Tengku Hasan di Tiro pada jam: 18.30 tgl. 05/08/2008. [bukti dokumen ada di tangan saya] Dalam dunia politik, tidak mustahil
terjadi pengkhianatan. Kisah lain lagi, yang masih segar dalam ingatan saya,
yakni: ketika Tengku Hasan M. Di Tiro mengirim surat bernada mengadu kepada
saya yang isinya sangat memeranjatkan: ”... Sdr. Yusra..., siapa yang akan
menggantikan jika saya meninggal dunia nanti. Orang-orang terdekat dan saya
percayai sudah nampak tanda-tanda akan mengkhianati saya...” Bakhtiar
Abdullah dan Iqlil Ilyas Leubé menangis terisak-isak saat saya perlihatkan
surat rahasia ini dan kemudian memeranjatkan Zakarya Saman dan Malik Mahmud.
Ini terjadi pada pada Desember 1993. Tentang hal ni, dalam Artikel:
”Kunci-kunci Idelogo Acheh Merdeka” sudah beliau bayangkan. Famili Tengku di
Tiro memang rencam dengan kepelbagaian pengalaman yang pahit, manis dan Tengku
Hasan M. di Tiro tetap mengingatkan: ”... Syarat utama menjadi Wali Negara
Acheh ialah: orang yang bersangkutan tidak menyerah kepada kehendak musuh.
Teladan ini sudah dibuktikan sejak Ali Mughayat Syah – sampai sekarang...”
Dalam perjalanan menuju Acheh, wartawan RCTI bertanya: ”apakah Tengku mendukung perdamaian? Beliau menjawab: ”Tentu..., tentu” Bahkan kata beliau: ”Saya ingin Acheh selamanya damai” [7] Betapa tidak, damai adalah sunnah, yang menolak damai berarti mengingkari Sunnah. Tetapi dalam doktrin GAM, damai bukan substansi perjuangan, oleh sebab itu soal satus Acheh, batas wilayah, bendera, logo, struktur pemerintahan dan TNA tidak semudah itu dilebur. MoU Helsinki bukanlah “Surat Keramat” yang bisa dipakai oleh juru runding atau Wali Negara sekali pun untuk menggadai Acheh kepada pihak mana pun dengan dalih apa pun. Ianya milik rakyat yang perubahannya mesti atas persetujuan rakyat melalui referendum. Kalaulah Tengku Hasan M. di Tiro berkata: “Rakyat Acheh mesti tahu sejarah, sebab tanpa perjuangan tersebut, tidak mungkin kita bisa membina hubungan dengan negara lain, seperti yang terjadi sekarang ini.” [8] Artinya, Sultan Acheh [pemimpin tertinggi negera] dalam sejarahnya, belum pernah ada seorang pun yang berkhianat kepada bangsanya. Inilah pelajaran yang didapat dari sejarah. Akhirnya, “Bangsa Acheh sudah tentu akan memperlihatkan bukti jati dirinya bahwa mereka bukan suatu lawan yang dapat dihina. Orang Acheh adalah suatu bangsa beradab dari zaman dahulu, yang biasa berperang, sesekali menang, kadangkala kalah, tetapi biar pun menang, biar pun kalah, tidak pernah diperoleh tanpa kemuliaan ... Bangsa Acheh memang selalu terkenal karena gagah berani dan tahu menempatkan diri, lebih daripada bangsa-bangsa lain di sekeliling negara Acheh.“ [9] Dalam konteks ini, maka Tengku Hasan M. Di Tiro sedang diuji untuk menentukan, apakah beliau mengikuti pendirian famili Tengku di Tiro sebelumnya atau sebaliknya. Sejarah akan mengukir dan mengadili. Sejarah adalah Mahkamah yang paling adil dalam peradaban manusia. Epilog dari perjuangan famili di Tiro adalah suatu perjalanan sejarah Acheh yang tidak selesai dan –tidak akan pernah selesai – hingga beliau menghembuskan nafas terakhir pada 13. Juni 2010 di Rumah Sakit Zainal Abidin Banda Acheh, ternyata tidak sepatah kata pun keluar dari mulut beliau, yang sudah lama ditunggu oleh rakyat Acheh, kecuali: ucapan Malik Mahmud, yang mengaku mendengar pesan terakhir saat Tengku Hasan M. di Tiro yang tengah dalam keadaan sekarat: ”Jaga perdamaian ini…”



